Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)

Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)
SDKB °Skandal sekolah °


__ADS_3

Seperti biasanya, Yiren melakukan aktivitas di rumah dan suami juga anaknya sibuk di luar. Di mana Bayu sedang bekerja dan Viola belajar di kelasnya.


Viola terbilang anak yang cukup memiliki daya ingat yang tajam, sehingga apa yang dia pelajari selalu melekat di otaknya. Dia di sukai banyak teman, tidak jarang juga ada yang benci padanya. Karena mengetahui dia anak orang kaya salah satu dari mereka sering mengambil uang sakunya. Dia tidak bisa melawan mereka yang begitu banyak. Seperti sekarang, ada kakak kelas yang menyeretnya ke toilet dan menagih uang padanya.


"Ka, hari ini Viola enggak bawa duit."


"Alah, alasan. Sini, kita periksa!"


Anak kelas lima dan enam itu langsung memeriksa seluruh kantong yang ada. Almamater Viola juga di lepas.


"Masa orang kaya, enggak bawa duit. Simpen di mana nih, cepat bilang!" bentak salah satunya.


"Enggak ada kak, Viola beneran enggak bawa duit. Viola cuma bawa bekal makan saja," kata Viola.


"Enaknya diapain ya, si pembohong ini. Masih kecil udah bohong sama kakak kelas! " gertaknya.

__ADS_1


Byur!


"D—dingin," lirih Viola.


"Ini belum seberapa ya, kalau kamu ketahuan bohong sama kita. Awas kamu, juga jangan sampai kamu buka mulut ya sama keadaan kamu sekarang, kita bakalan lakuin lebih dari ini. Mau kamu?!"


Viola menggeleng. Dia, selalu saja kena masalah. Dia tidak pernah mengatakan ini kepada orangtuanya, jangan kan orang tua guru dan teman-teman lainnya saja tidak.


Entah apa yang di pikirkan Viola. Padahal hal ini bisa memicu mentalnya sampai besar nanti.


"Sejak kapan kamu di sini Na," kata Viola.


"Aku tau Vi, kamu habis di bully kakak kelas'kan. Kenapa kamu tidak lapor saja Vio," kata Nadira.


"Kalau aku ngaduh, aku enggak bisa selesain masalah aku sendiri dong. Na," kata Viola.

__ADS_1


"Mereka mainnya keroyokan sama Adek kelas seperti kita Vio, aku enggak suka deh ada orang seperti mereka," kata Nadira.


Benar saja Nadira segera ke ruang guru,mulanya Viola menolak akan tetapi terus di bujuk serta dipaksa. Akhirnya dia mau. Permasalahan ini harus segera di selesaikan. Sang guru menghubungi pihak orang tua pelaku dan juga korban.


Mendengar kabar kurang mengenakan ini, Yiren segera berangkat ke sekolah. Dia pantas marah pada orangtua pelaku bully anaknya. Mereka pikir, Viola tidak memiliki orang tua apa!? Berani sekali menganggu anaknya yang di yakini nya tidak pernah berbuat masalah pada siapapun.


"Maafkan, atas keteledoran kami pihak sekolah. Karena baru mengetahui ini semua, kami sangat kecewa dengan beberapa murid kami yang berbuat seperti itu. Mohon di maafkan ibu Yiren," jelas kepalah sekolah.


"Saya cukup kecewa dengan peristiwa ini, anda tentu tau bagaimana kondisi psikis anak saya jikalau saja mereka melakukan hal itu tidak hanya untuk hari ini saja, saya mohon agar anda lebih pertegaskan pada mereka. Mereka juga sudah besar, umur sebelas dan duabelas tahun memang harus di beri arahan yang lebih tajam," kata Yiren.


Para orang tua mereka yang merasa malu dan juga takut, berbondong-bondong untuk meminta maaf atas perlakuan anak mereka yang kurang ajar itu.


"Baik, kali ini saya mencoba memahami keadaan. Akan tetapi, jikalau ada orang lain selain Viola juga menjadi bulanan siapa saja. Aku tidak segan untuk melaporkan kasus ini pada pihak yang berwenang. Pastinya anak kecil tidak akan di tahan sebagai napi, akan tetapi menjeratnya dalam beberapa jam bisa saja aku lakukan jika aku mau," terang Yiren.


Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Yiren, akhirnya para orangtua menandatangani surat perjanjian atas anak mereka. Bahwasannya, jika masih menganggu Viola atau teman lainnya maka orangtua tersebut tidak akan menuntut apapun atas hukuman yang akan di berikan. Masuk ke dalam sel dalam beberapa jam, misalnya. Itu untuk membuat mereka sadar akan perbuatan mereka bisa mengurung mereka ke dalam jeruji besi, walaupun mereka masih di kategorikan sebagai anak-anak.

__ADS_1


Yiren meminta izin, agar dia bisa membawa sang anak pulang lebih dulu. Tidak lupa juga dia berterima kasih pada Nadira yang langsung melaporkan pada guru sehingga semuanya kelar.


__ADS_2