
---
Sudah satu tahun Yiren bekerja di rumah Bayu, membuat dirinya sudah sangat mengenal, bagaimana sosok Bayu itu. Tetap, saja dia super dingin dan bicara sangatlah irit. Walau, ada waktu-waktunya dia super baik, dan berlaku manis pada Yiren. Kadang juga bisa bikin baper.
Dia berharap, kontrak kerjanya akan di perpanjang. Hal itu akan segera dia dan tuannya bahas.
"Kamu yakin, masih mau bekerja di sini?" tanya Bayu.
"Yakin Pak, bahkan seribu keyakinan saya." Dengan tampang menyakinkan.
"Saya sudah bosan, memperkerjakan kamu. Gimana ya," ucap Bayu seenaknya. Menyinggung korban yang jelas, ada di hadapannya ini. Bos si*lan, emang begini bentuknya.
"Maksudnya, aku di pecat Pak? salah aku di mana. Aku itu, bekerja dengan cukup baik di sini," ucap Yiren.
"Siapa bilang, kamu kerjanya tidak baik?" Bayu menyangkal dengan cepat.
"Terus, kenapa. Aku di pecat?" tanya Yiren.
"Siapa bilang kamu di pecat?"
Lagi-lagi Yiren di buat terdiam juga merasa bingung. Karen, bosnya begitu terus. Sering membuat ia kehilangan akal.
"Makanya, dengar dulu. Saya bosan memperkerjakan kamu sebagai baby siter saja, jadi kamu ada kerjaan tambahan. Itu maksud saya," jelasnya.
"Oh, tambahan kerjaan Pak. Apa pak, bilang dong, jangan bikin aku penasaran," ucap Yiren.
"Kerjaan kamu, jagain saya."
"Maksudnya, bapak ngelamar aku?"
Krik ... Krik ... Krik!
"Ha-ha, lelucon saya. Bagaimana? kamu sampai berdiam diri seperti patung, saya berbakatkan?" pamer Bayu.
Yiren mencibir pelan. 'Receh banget sih bos begini, '
"Ngomong apa kamu?" tanya nya kembali dengan dinginnya.
"Enggak ada, kok. Pak, terus pekerjaan tambahan saya apa?" tanya Yiren kembali serius.
"Jadi, asisten pribadi saya. Jadi mulai sekarang kamu bukan hanya memperhatikan anak saya, tapi saya juga. Keperluan saya, apa saja yang berkaitan dengan saya, paham!" serunya cukup membuat spot jantung.
"Paham pak! Eh, apa maksudnya itu?!" Yiren merasa aneh dengan pekerjaan tambahannya.
Maksudnya, Akan selalu sibuk melayani dua majikan sekaligus. Tugasnya, layak di sebut sebagai istri Tapi, Yiren bukan siapa-siapa.
"Saya rasa, kamu sudah paham. Jadi kerjakan, " ucapnya.
Yiren undur diri, segera ke luar dari ruang keluarga. Ia, menuju taman belakang sambil mengomel.
---
Pagi-pagi, Yiren membantu Bayu dalam memilih bajunya. Karena dia yang suruh.
"Ini kusut'kan," kata Bayu sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
"Iya si Pak, kalau gitu aku setrikain dulu gimana?" tanya Yiren.
__ADS_1
"Boleh deh, ini jangan sampai rusak. Mahal ini," katanya.
"Iya Pak," balas Yiren.
Selagi Yiren menyetrika, Bayu diam-diam memotretnya. Yiren tidak tau, karena memang Bayu seolah tidak seperti sedang memotret di tambah juga dalam mode silent.
"Udah, sini aku pakein." Yiren membantu Bayu memakaikan jas.
"Mama, Mama. Viola udah laper banget nih, kita turun ke bawah yuk?" menggapai jemari Yiren.
"O.iya, Ya udah yuk," Yiren melenggang pergi ke bawa bersama Viola.
Ting!
Notifikasi dari aplikasi hijau.
-Wah, wah. Perkembangan, cocok tuh jadi istri-
Arka lah, yang mengirim chat itu, di dalam grup 'the handsome boy' di mana di dalam sana, teman-teman karib Bayu.
Berbeda dengan grup chat para wanita, grup pria. Seperti kuburan, jadi postingan sekedar iseng ataupun memang soal pekerjaan saja.
.
.
---
"Apa kau sudah selesai bicara, sebaiknya kau pergi." Sambil mengedarkan pandangan menuju pintu luar.
"Langsung di usir, tersinggung nih?" ledek Arka.
"Pergi."
Arka menghela napas gusar, lalu mengambil jas nya yang ia letak di sofa.
"Seperti nya, ada luang untukku menikung. Ya itu benar," ucap Arka.
Prang!
"Argh!"
---
Setelah membawa Arka ke rumah sakit, lalu mengantarnya juga pulang, setelah itu Bayi berpamitan pulang juga.
Cukup sakit, rasa nya bahu Arka yang, di lempari dengan vas bunga keramik, untung berukuran kecil.
Jika, tidak berfikir. Kalau, Bayu itu sudah di anggap sebagai saudara sendiri, mungkin sudah menjadi prahara di pengadilan.
"Bahumu, kenapa. Arka, ko keliatannya sakit begitu?" tanya Tantenya.
"Tidak apa-apa Tante, ada insiden kecil tadi."
__ADS_1
"Di mana mobil kamu, ko tidak ada?" heran Tantenya.
"Oh, di bengkel Tante. Arka masuk dulu, capek. Mau istirahat." Berjalan masuk ke rumah.
"TANTE!" seru seorang gadis cantik dengan suara melengking nya. Untung saja Tante Dwi tidak memiliki riwayat sakit jantung.
"Mahira, ada apa. Ko teriak-teriak segala," ujar Tante Dwi.
"Pacar aku, udah. Pulang belum Tante. Ini, aku bawain makanan. Buat Tante sama pacar aku juga sih, nih." Menyodorkan rantang cantik.
"Pacar? kamu sama Arka pacaran?" heran Tante Dwi.
Tentu saja dia heran, setaunya. Keponakan nya itu, memiliki pacar nyaris menikah, jika saja. Calon nya tidak meninggal dalam peristiwa kecelakaan dua tahun yang lalu.
Jikalau, Arka benar menjadikan Mahira sebagai kekasihnya. Itu tidak mungkin juga, karena. Mahira masih sangat muda. Baru, tamat SMA tahun ini, sedangkan Arka. Sudah berumur 26 tahun sekarang.
Drt...!
| Tante, suruh dia pulang. Dia
| Hanya akan menganggu ketenangan
|Ku saja
Begitulah, pesan yang terbaca oleh Tante Dwi.
"Makasih ya, Mahira. Kamu baik sekali, cuma. Arkanya kecapean karena kerjaan banyak di kantornya. Kamu pulang saja ya, " suruh Tante Dwi.
---
Bayu jadi kepikiran juga, dengan ucapan Arka tadi saat berbicara mengenai Yiren. Sampai, akhirnya insiden tersengaja itu terjadi.
"Benar juga sih, yang ada. Saya benar di tikung sama teman sendiri, saya harus melangkah lebih maju ini. " Memijat pelipisnya.
Sembari berjalan menuju balkon, ia menarik salah satu kursi dan duduk dengan santai.
Tak sengaja, ia melirik ke bawah. Di sana, tepatnya di taman belakang. Ada Yiren sedang menyiram bunga.
Bayu, memandang Yiren dan membayangkan sesuatu.
Sampai ia di buat kaget, karena objeknya sudah tidak ada.
"Bapak nyariin saya?" tanya Yiren tiba-tiba, muncul di balkon. Ya, Yiren naik ke atas balkon kamar bosnya. Karena merasa risih sejak tadi melirik dirinya. Jadi, dia memutuskan untuk naik lewat tangga lipat langsung ke balkon.
"Mengaku saja, Pak. Bapak diem-diem naksir sama aku'kan. Buktinya dari tadi bapak liatin aku melulu, nanti enggak bisa tidur lho," ledek Yiren.
"Lancang sekali kamu, sana turun. Mengotori pemandangan saya saja," umpat Bayu.
"Yaudah," Yiren berniat turun lewat tangga. Namun, tangannya di cekal dengan lembut.
"Kenapa, Pak?" tanya Yiren.
"Bahaya, keluar lewat pintu kamar saja, Tuh."menunjuk pintu kamarnya.
'cueknya, bisa perhatian juga' batin Yiren
Setelah Yiren, ke luar. Bayu menepuk jidatnya. Merasa b*doh, dengan sikapnya terkesan angkuh harusnya dia bersikap lebih ramah. Itu menjadi PR tersendiri untuk nya.
__ADS_1