
Rupanya saat hamil, Syafira tidak pernah mendapatkan perhatian. Bahkan, dia merasa jikalau kehamilannya benar tidak di inginkan oleh Daren itu. Alasannya, karena dia selalu mengingat Yiren ini. Tidak di sangka, perjalanan pernikahan satu tahun delapan bulan ini, harus berakhir di pengadilan. Bayi yang baru berumur 1 tahun lima bulan ini, harus menerima nasib kedua orangtua terpisah.
"Aku turut prihatin dengan keadaan kamu, aku tidak menyangka Daren setega itu." Menggeleng pelan merasa tidak percaya dengan apa yang sudah di alami oleh Syafira.
Wanita baik ini, harus merasakan kepahitan dalam rumah tangganya.
"Aku tau ini bukan urusanmu, aku bingung harus menceritakan pada siapa lagi. Aku pikir jikalau, kamu mampu bicara dengan Daren, mungkin saja keluarga kami masih dapat di persatukan lagi," jelas Syafira.
"Maafkan aku Syafira, aku sudah tidak ingin menemui Daren lagi. Tetapi, jikalau kamu ingin ikut. Aku bisa pertimbangkan," ujar Yiren.
"Ya,ya,ya baiklah."
Merasa topik pembahasan mereka telah selesai, keduanya sama-sama pergi. Yiren kembali menemui anak dan suaminya.
"Dari mana, sayang?" tanya Bayu
"Habis dari sana, bertemu teman lama mas. Apa kalian tidak lapar?" tanya Yiren.
"Lapar sekali, mumpung Mama sudah ada kita ke restoran saja." ajak Viola.
"Oke!" seru Yiren dan Bayu bersamaan.
__ADS_1
Mereka menikmati hidangan yang tersedia, jika sudah. Maka mereka akan pulang ke rumah, mandi sore dan bersantai di dalam rumah.
Tampaknya Yiren duduk termenung di kursi yang menghadap kolam renang, dia kembali ingat percakapannya dengan Syafira tadi siang.
Kasian, dia juga perempuan tentu memiliki hati dan perasaan. Tega sekali Daren melakukan semua itu, sepertinya keputusan nya untuk membantu Syafira bisa meringankan pikirannya saat ini.
Bayu memperhatikan gerak gerik istrinya, seperti ada yang di sembunyikan. Bayu duduk di sebelah Yiren dan menyandarkan kepalahnya di bahu Yiren itu.
"Bila ada masalah, katakan padaku sayang jangan menyimpan semuanya sendiri," ujar Bayu.
"Mas, siapa bilang aku sedang ada masalah. Semuanya aman terkendali mas," balas Yiren.
"Baiklah, mungkin hanya pemikiranku saja. Wah, coba lihat malam ini bertebaran bintang di langit," kata Bayu.
"Memang indah, tetapi kamu jauh lebih indah sih," kata Bayu.
"Cie, suami aku ngegombal. Kamu belajar dari mana mas?" tanya Yiren yang sepenuhnya meledek tindakan suaminya itu.
"Otodidak, ngapain juga harus belajar. Merayu wanita sebenarnya gampang," tukas Bayu.
"Oh, jadi mas. Suka ngerayu sekarang. Hm, mulai nakal kamu mas!" seru Yiren dan mencubit perutnya.
__ADS_1
"A—aduh s—sayang, sakit ini."
"Aku cuma asal bicara saja, mana berani merayu perempuan lain selain kamu. Emang aku pria golongan buaya, aku ini golongan Lele sayang, buktinya aku memiliki kumis tipis," jelas Bayu
Yiren terkekeh setelah mendengar penjelasan Bayu untuknya, namun Yiren suka saja menggoda sang suami agar mereka terlibat cekcok mulut seperti anak kecil.
"Mana kumismu, enggak keliatan mas."
"Ada sayang, coba kamu perhatikan dengan seksama. Kalau cuma melihat sekilas saja, memang tidak akan keliatan," kata Bayu.
Yiren memperhatikan di bawa hidung suaminya itu, memang ada beberapa helai kumis tipis, karena suaminya sering mencukurnya jika kumisnya sudah banyak. Dia bilang kumis nya itu, membuat gatal. Sejak remaja dia memang tidak begitu menyukai menumbuhi kumis.
"Dingin mas," kata Yiren setelah merasa angin yang menembus tubuhnya ini.
"Kita masuk ke kamar saja, biar mas hangatin kamu secara gratis," ucapnya dengan menaik turunkan alis.
"Maksudnya?" tanya Yiren.
"Sudah sering lho, masa belum mengerti juga sayangku," kata Bayu.
Pasti nih perang ranjang yang di maksud suaminya ini, kalau dingin begini emang enaknya begitu sih, wah Yiren rupanya tidak akan menolak tawaran surga dunia ini. Lagi pula, mereka juga sudah memiliki ikatan suci dan jika keduanya rajin melakukan nya dapat pahala juga. Ada, ceramah salah satu ustad waktu itu mengatakannya, yakini saja. Nikmat duniawi siapa yang akan mendustakannya.
__ADS_1
Viola tampak aneh, kenapa kedua orang tuanya memilih tidur lebih cepat. Karena mbo Darmi yang peka terhadap gerak-gerik tuan dan nyonyanya, segera mengalihkan topik Viola. Mbo Darmi juga pengen sekali segera mendengarkan keduanya memiliki anak lagi. Pasti rumah akan semakin ramai nanti, semoga tuhan segera memberikan kepercayaan itu.