Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)

Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)
SDKB part 5


__ADS_3

---


Yiren rasanya menjadi gugup setengah mati, setelah. Mengetahui, jikalau mantan pacarnya. Daren beserta istri benar-benar, menepati janji mereka. Yakni, bersilaturahmi dengan Yiren. Bahkan, pertemuan itu di adakan besok siang di kafe dekat dari rumah lama Yiren.


Yiren tidak pernah, mengatakan jika. Sekarang ia, bekerja di rumah Bayu sebagai pengasuh juga. Malu sudah gengsi sekali dia, jika. Kalah saing dengan jodoh mantan kekasih nya itu.


Yiren berfikir keras, bagaimana cara. Agar tidak terlihat jones alias jomblo ngenes. Gelar ini, sungguh menyayatkan hati. Tapi, mau gimana lagi. Yiren bersumpah tidak akan menjadi Pelakor, walau. Masih ada rasa cinta untuk Daren.


"Pak, Yiren mau bicara serius."


Bicara sangat serius. Bayu menatap sekilas Yiren, dan menanggapi dengan konsentrasi pada pembicaraan Yiren selanjutnya.


"Aku ingin, bapak jadi pacar aku."


"Saya tidak sudi," balas nya


"Pak, denger dulu. Aku belum selesai bicara," kata Yiren


"Ngawur kamu, tiba-tiba mengajak saya pacaran. Stres!" ujar Bayu


Jauh di hatinya terdalam, sudah bersorak senang. Jujur saja, dia bingung dengan perasaannya. Bisa berbunga-bunga di dekat Yiren, tapi ego ny lebih tinggi. Jadi, tidak pernah sekalipun dia menampakan wajah manisnya secara terang-terangan.


"Pak, begini. Kita pacarannya pura-pura aja gitu, soalnya. Besok mantan aku ke sini, malu lah aku ngaku kalau masih jomblo setelah di tinggal nikah, gengsi juga aku Pak. Aku mohon Pak, kalau gaji aku di potong karena ini, aku siap mental Pak. Beneran, plis Pak Bayu," pinta Yiren sambil mengguncang lengan Bayu penuh tatapan bujukan.


Sekian menit, Bayu terkesima dengan sikap Yiren yang manja dan lucu menurutnya. Hingga, ia tersenyum tipis kalah menyaksikan mimik wajah juga bibir Yiren yang tiada henti berkomat-kamit.


"Pak, ko diem aja. Responnya gimana?" tagih Yiren.


"A–apa, pacar pura-pura. Kamu kira saya segabut itu," ucapnya walau awal pembuka kalimat, tampak ia gelagapan. Bukan Bayu namanya, jika tidak bisa secepat kilat merubah sikap.


"bukan begitu, aku mohon Pak. Tolong banget, aku rela deh menerima segala konsekuensi , apapun itu. Untuk besok aja. Mau ya?" Yiren kembali menggembungkan pipinya, seperti bapau. Membujuk tuannya tiada henti.


Eh, sia-sia sudah. Wajah imut yang ia tunjukan di campakan begitu saja. Lihat saja, Bayu pergi tanpa mengatakan apapun.


"Dasar bos kulkas berjalan!" seru Yiren.


---


"Papa, kenapa si. Enggak mau bantuin Mama, atau Papa mau ya. Nanti Mama di ambil orang, terus Viola gagal punya mama baru deh," kata Viola.


"Siapa sih yang ngajarin kamu, begitu. Sepertinya kamu sudah sangat berharap banyak dengan Mama Yiren," kata Bayu.


"Papa dengerin Viola, Viola. Rindu kasih sayang seorang Mama, dan akhirnya Viola nemuin itu di Mama Yiren. Viola, sayang sama Mama Yiren. Jadi, Papa. Harus mau sama Mama Yiren,"paksa anaknya.


"Begitu kah, kamu tidak akan cemburu pada Papamu ini, jika saja. Mama barumu, ada bersama Papa," kata Bayu.


"Asalkan, yang jadi Mama baru itu Mama Yiren, aku enggak masalah. Dan, Papa besok bantu Mama dong. Tolong Pa." menatap sayu Papanya.

__ADS_1


Membuat Bayu tidak tega, ia merengkuh anaknya. "Tenang saja, lihat saja besok. Sekarang, sudah malam. Tidur ya," suruh Bayu.


'Yes, akhirnya. Luluh juga dia, untung pancinganku, manjur juga. Makasih Viola yang lucu,' gumam Yiren.


Sedari tadi dia sedang asik, menguping di luar pintu.


Bruk!


Hal memalukan terjadi. Bayu, menarik knop pintu. Dan, membuat Yiren tersungkur di lantai.



----


Yiren pura-pura menangkap sesuatu di depannya. "Hah, kena kamu. Dasar peliharaan liar," oceh Yiren tanpa dosa berlalu dari hadapan Bayu yang menatapnya dengan ekpresi sulit di mengerti.


Brak!


Yiren menutup kasar pintu kamarnya lalu, melompat ke atas kasur dan meretuki kecerobohannya.


"Kya! memalukan sekali. Astaga!" kesal Yiren sambil membenturkan kepalah di bantal.


---


"Tidak usah pegang-pegang, modus sekali pak," sindir Yiren.


"Khilaf, sana masuk." Menunjuk dengan kode dagunya.


"Saya bukan supir kamu," kata Bayu.


"Aku duduknya di mana dong, Pak?" tanya Yiren.


"Atap mobil juga boleh," ucap Bayu se enaknya saja.


"Pak, iih nyebelin banget jadi bos," umpat Yiren.


"Nyebelin-nyebelin, kamu kira kamu enggak?! udah tau, orang duduk di mana. Ya di kursi lah, masih saja nanya. Gak ada otak kamu ya?" omel Bayu.


Tumben? Yiren menganga untung saja tidak ada lalat yang hinggap.


"Masuk! mau di tinggal?!"


---


Kali pertamanya, Yiren harus melakukan kebohongan besar. Mengaku-ngaku memiliki hubungan spesial dengan bosnya, tidak hanya itu. Keduanya kerap memamerkan bentuk perhatian, juga kemesraan.


"Ternyata, makanan. Di sini, enak-enak banget," ucap Syafira.

__ADS_1


"Tentu saja, kalau kalian suka. Saya bisa memborong semua makanan di sini," ucap Yiren.


"Wow, kamu sekarang. Aku tidak menyangka, kamu se sukses ini. Yiren, selamat ya. Kamu memang wanita karir sesuai dengan keinginan kamu dulu," puji Daren.


"Ah, iya tentu saja. Aku memang berambisi, jadi. Semua keinginanku tergapai," ucap Yiren.


'Menghayal' bisik Bayu di telinga Yiren.


Stak!


"Argh!"


"Eh, ada apa?" tanya Daren.


"Tidak ada, hanya salah urat dia. Maklum, dia sudah berumur," kata Yiren mengejek, padahal. Dia yang menginjak keras kaki bosnya tadi.


'Awas kamu Yiren, berani sekali kamu menginjak kakiku,' batin Bayu.


'Aduh, aku rasanya cemburu banget liat mereka berdua. Daren sih, kenapa Tuhan malah menitipkan jodoh orang sih ke aku, terus ... jodoh aku siapa?' batin Yiren.


"Sudah habis, aku pengen jalan-jalan bareng sama kalian. Kalian mau gak, nemenin kita jalan-jalan?" tanya Syafira.


Yiren melirik Bayu, dan tatapan Bayu menajam. Dan, sirat mata itu mengungkapkan rasa keberatan.


"Aduh, gimana ya. Kayanya, enggak bisa Sya, soalnya. Pacar aku dan aku ada meeting sama klien, enggak apa'kan. Kami enggak bisa ikutan," jelas Yiren.


"Oh, kita atur waktu untuk bisa jalan-jalan, sampai ketemu lagi." Syafira menyampirkan tasnya.


"Kami pamit dulu," kata Daren.


Kedua pasangan suami-istri itu berlalu, meninggalkan Yiren dan Bayu. Bayu, mengabaikan mereka. Ia hanya melanjutkan makannya yang terjedah tadi. Sementara, Yiren menangis.


"Hei, apa yang kamu lakukan, terhadap istrimu Tuan?" tanya seorang pengunjung.


"Yak, aku tidak melakukan apapun. Dia memang cengeng, aish. Ini bukan urusan kalian," kata Bayu.


Lalu mencerna kembali kalimat yang pengunjung itu lontarkan.


"Istri, dia bukan istri saya. Jangan asal bicara kamu," sambung Bayu.


Membuat Yiren yang semakin membayangkan Syafira dan Daren tadi, menangis sejadi-jadinya.


"Anak zaman sekarang, memang begitu ya. Istrinya saja tidak di akui, kasian Pak, istri nya nangis begitu malah sibuk makan saja," oceh pengunjung lain.


Tersudutkan, Bayu seolah berlaku menjadi suami yang tidak perduli. Ia memeluk Yiren.


"Sudah, jangan menangis. Kau sengaja ya, membuat saya di marahi orang lain seperti ini?" bisik Bayu tajam.

__ADS_1


Yiren tersadar, dan melihat sekelilingnya. "Maaf, aku tidak sengaja. Hanya saja, air mataku, hatiku, jiwaku terguncang melihat mereka," jelas Yiren.


"Sebaiknya kita pulang, ayo!" Menarik tangan Yiren pergi dari kafe.


__ADS_2