Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)

Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)
SDKB part 3


__ADS_3

 





Rasa bingung,kesal dan marah Bayu hilang, ketika. Ada Yiren menjadi penyelamat. Ternyata, wanita itu benar membuktikan bahwa dia memiliki IQ yang tinggi. Dia, hanya perlu lima menit untuk mengartikan semua berkas yang akan di jadikannya sebagai presentase. Bahkan, wanita itu sedang menjelaskan. Gerakan bibirnya, matanya tidak bisa untuk di alihkan sama sekali.


Arka menyenggol Bayu.


"Terpesona ya, Pak?" tanya Arka.


"Apa, kamu mau saya. " Menunjukan gempalan tangannya di bawah meja.


Arka kembali fokus, untuk. Menyaksikan Yiren yang hampir selesai dalam presentase.


"Begitulah, menurut kami. Semoga, kerja sama kita semakin berjalan dengan baik," kata Yiren mengakhiri tugasnya.


Clap ... Clap ... Clap ...!


Suara tepuk tangan untuk hasil persentase wanita, yang sempat di remehkan oleh beberapa orang yang ada di ruangan meeting. Yiren tersenyum pada Arka dan Bayu sambil mengacungkan kedua jempolnya. Arka, membalas untuk mengacungkan jempolnya juga. Sementara, Bayu tetap mempertahankan wajah datarnya.


'Hebat Yiren,' batin Bayu.


•••


Viola sudah di ajak mandi, sudah wangi sekali ia. Lalu, Yiren menyiapkan baju untuknya.


"Aku bisa sendiri, Ma."


Mengambil satu persatu pakaiannya.


"Ya sudah, Mama turun ke bawah dulu. Kalau ada perlu apa-apa, panggil Mama." Yiren mengecup jidat Viola sekilas.


 


"Hah ...!"


Bayu menghela napas penuh kepenatan, dan merebahkan punggungnya di kursi lalu melihat ke seluruh ruangan nuansa putih itu.


"Papa!" panggil Viola.


"Iya sayang, kemarilah." Menarik pelan jemari anaknya dan mendudukannya di pangkuan.


"Hn, Papa capek ya. Mama, Mama. Bikinin kita jus dong?" kata Viola saat melihat Yiren yang dari dapur.


"Tidak usah, jus buatan dia enggak enak" balas Bayu.


"Papa enggak usah gengsi gitu deh, padahal Papa suka abisin biasanya," bantah Viola.


Anaknya, tidak bisa di ajak kerja sama.


"Yakin pak, buatan aku enggak enak. Aku akan buat untuk Viola dan juga aku sendiri aja," simpul Yiren.


"Kamu mau gaji kamu, di potong?"

__ADS_1


•••


Yiren tersenyum sendiri. Ketika, ia mengingat kelakuan majikannya. Yiren sempat jengkel sebelum mengenal sifat Bayu, ternyata. Bayu diam-diam penuh perhatian juga.


Gara-gara duda ini, ia sempat lupa dengan kekasihnya.


Lagi pula, jarak jauh. Membuat ia dan pasangannya itu tidak bisa bertemu seenaknya.


Yiren sangat gembira, saat mendapati telepon dari Daren ––kekasih hatinya.


[Halo, Apa kabar?]


"Aku baik, kamu apa kabar? Sudah lama sekali rasanya tanpa kabar," kata Yiren.


[ Baik,]


Hening beberapa saat. Yiren, merasa seperti menjadi orang asing saat bicara dengan kekashnya.


[ Aku ingin, membicarakan hal yang serius dengan kamu.]


Yiren tersenyum geli, dia kira akan suatu kebahagiaan nantinya.


"Apa, kqtakan saja. Kenapa kamu ragu sekali?" selidik Yiren.


[ Aku, sudah menikah.]


"Haha, kamu itu ya. Ini bukan aprilmop sayang, jangan gitu ah. Hampir tiga bulan tanpa kabar, kemudian. Bilang udah nikah," ucap Yiren merasa tidak percaya.


[ Halo, saya Syafira. Istrinya Mas Daren. Mas Daren menceritakan banyak tentang kamu. Terima kasih, telah menjaga jodohku, dan semoga kamu juga mendapatkan jodoh,] jelas Syafira.


Yiren terdiam di tempatnya. Sakit rasanya mendengar kabar ini, di sini dia yang menunggu. Ternyata, kekasihnya sudah menikah.


[ Tidak apa, aku ingin sekali bertemu dengan kamu. Saat kami ke indonesia, semoga saja kita bertemu.]


"Wah, aku menunggu. Sampai bertemu," kata Yiren.


 


 





Yiren menangis, dan memandang foto kebersamannya dengan Daren selama kurang lebih tiga tahun ini. Memang ya, jodoh tidak ada yang tau. Lama menjalin hubungan belum tentu bisa berjodoh.


'Ada apa dengan Yiren, kenapa dia menangis sampai segitunya.'


Bayu mengelus dagunya, lalu melanjutkan perjalann menghampiri Yiren. Lalu, duduk di samping Yiren.


Kehadiran Bayu sama sekali tidak di sadari olehnya. Ia, fokus untuk bercengrama dengan foto itu.


"Dasar cengeng," ceplos Bayu.


Yiren menyimpan ponselnya, dan melihat ke sisi sampingnya.

__ADS_1


"Pak, ko bapak bisa di sini?" tanya Yiren.


"Bisalah, ini'kan rumah saya." Bersedekap penuh kesombongan.


Yiren membodohi dirinya, kenapa jga bertanya hal konyol itu.


"Ada apa, saya tidak ingin ya. Anak saya menaruh curiga besok, di kiranya saya yang buat kamu menangis," terang Bayu.


"Pak, saya lagi galau nih. Saya di tinggal menikah dari pacar saya," lirih Yiren.


"Lebay, saya di tinggal mati istri saya. Saya biasa saja enggak pakai nangis," balas Bayu.


"Iii, bapak. Ya, karena Bapak itu laki-laki malulah kalau nangis," bantah Yiren.


Yiren kembali mengingat kejadian tadi, membuatnya kembali menangis dan tidak perduli sampe keluar ingusnya juga.


"Pak!" seru Yiren sambil menyenderkan kepalahnya di bahu Bayu dan terus menangis. Bayu yang ingin menolak tidak bisa, keliatannya Yiren memang butuh sandaran.


 


"Bapak, ngapain buka baju. Bapak jangan pak," Yiren menutup matanya.


Bayu melempar bajunya ke wajah Yiren.


"Bekas ingusmu, sangat menjijikan. Cepat kamu cuci," suruhnya.


Yiren masih menututp matanya.


"Saya, pakai kaos dalam. Otakmu, bisa ngeres juga," cibir Bayu.


"Eh, hehe."


"Cepat cuci sana," suruh Bayu lagi.


"... Tapi, ini masih malam pak. Besok aja ya?" tawar Yiren.


"Saya bilang sekarang," balas Bayu.


"Iii, orang lagi sedih di suruh nyuci segala. Dasar––" melirik Bayu yang seperti akan marah. Yiren segera berlari untuk mencuci baju itu.


Bayu tersenyum.


"Dingin juga," katanya sambil kembali masuk ke dalam rumah.


Mbo Darmi kaget. Saat melihat Bayu yang sudah tidak memakai baju. Bukanya tadi tuannya berpakaian lengkap.


"Kenapa Mbo ?" tanya Bayu.


"Baju nya ke mana, Tuan?" tanya Mbo Darmi.


"Entahlah."


Sambil pergi begitu saja.


"Baju sendiri masa tidak tau, ada ada saja Tuan besar ini," lirih Mbo


 

__ADS_1


Bersambung


Bersambung


__ADS_2