
Setelah mendengar cerita Nando membuat bibi Sukma tak bisa berkata apa ia merasa sedih mengingat keadaan Alisia dan si kembar tapi ia juga merasa bahagia karena ayah kandung kembar sudah diketahui.
Nandini dalam keadaan pingsan ditemani oleh Andin.
" Kak, siapa mereka, jika mereka jahat aku akan membalasnya karena menyakitimu, kak cepatlah sadar kasihan anak-anak. Astaghfirrurrah aku harus menjemput mereka" kata Andin, mengingat Deniz dan Disa masih di sekolah.
Andin merapikan selimut Alisia dan keluar meminta pamit pada ibunya untuk menjemput Deniz dan Disa.
" Bu" panggil Andin, ibu Sukma merasa lega karena suasana yang menegangkan antara mereka.
" Nak dimana Alisia? " Ibu Sukma, khawatir dengan keadaan Alisia.
" Kak Alisia masih belum sadarkan diri, ibu aku harus menjemput anak-anak. Tapi bagaimana dengan kak Alisia" kata Andin, matanya menatap ke arah Nando dan El.
Deg
__ADS_1
Jantung Nando berdetak sangat cepat ketika Andin menyebut kata anak-anak, ia semakin bersalah pada Alisia yang harus membesarkan anaknya sendiri.
Ibu Sukma melirik ke arah Nando ia tak mungkin meminta bantuan pada Nando jika tak ada izin dari Alisia.
" Kamu pergilah bersama supir dan ingat jangan katakan pada mereka sebelum tiba di rumah, biar ibu yang menemani Alisia" kata ibu Sukma, Andin menanggukan kepalanya memanggil supir kemudian menjemput Anak-anak.
Awalnya Nando menawar diri untuk menjemput anak-anak tapi melihat keadaan ia hanya diam, El tahu bos sekaligus sahabatnya ingin menjemput anaknya tapi ini belum saatnya sebelum Alisia memberinya izin.
Alisia mulai membuka matanya ia melihat sekitarnya.
" Aku di kamar bukannya tadi di butik" Alisia, memegang kepalanya yang merasa sakit ia kembali mengingat kedatangan Nando pria yang telah menghancurkan kehidupannya dan ayah kandungnya mengusirnya.
" Alisia" kata ibu Sukma, pergi ke kamarnya diukuti oleh Nando juga El.
" Alisia" teriak ibu Sukma, terkejut yang dilakukan Alisia, Alisia menggaruk tangannya dan menampar wajahnya Nando yang melihat keadaan Alisia seperti itu membuatnnya sakit sedangkan El tak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Ibu Sukma memeluk Alisia mencoba untuk menenangkan Alisia yang terus berteriak.
" Nak tenanglah ada ibu disini tak ada yang melukaimu disini" kata ibu Sukma, mengelus kepala Alisia.
" Hiks hiks hiks, pria itu datang dia pasti membawa anak-anakku. Mereka adalah cahaya hidupku" kata Alisia, menangis dalam pelukan ibu Sukma, tanpa sengaja ia menatap Nando di depan pintu kamarnya.
Alisia melepas pelukannya dari ibu Sukma ia berdiri menuju ke tempat Nando, ia tak boleh merasa takut ia harus kuat demi kedua anak kembarnya. Nando merasa deg degan ketika Alisia mendekat dan menatapnya dari matanya terlihat jelas ada rasa benci, luka dan kesedihan Nando bersumpah akan menghilangkan rasa itu dan menbawa kebahagiaan.
" Alisia istirahat aku akan memanggil dokter" kata Nando, meminta El memanggil dokter.
" Aku tak perlu dokter yang aku ingin hanya kau pergi dan tak perlu menemui kami lagi, kami sudah bahagia walau hanya bertiga" kata Alisia, menatap tajam ke arah Nando.
Nando takkan membiarkannya sudah lama ia mencari Alisia kali ini ia takkan ia memekuk erat Alisia dan takkan melepaskannya walau Alisia terus memberontak, Ibu Sukma dan El hanya diam mereka berharap ini menjadi awal yang baik bagi keduanya juga si kembar.
" Lepaskan aku" kata Alisia"
__ADS_1
" Alisia takkan ku biar kamu pergi sudah cukup aku merasa bersalah, aku akan menjaga dan melindungimu. Alisia aku mencintaimu" bisik Nando.
Deg