
Keesokan harinya Nando memutuskan cuti kerja ia masih memikirkan proyek baru yang akan dikerjakan di Jerman karena ia dan El harus ke sana untuk melihat lokasi, Nando yang baru saja mendapatkan kebahagiaan agak berat meninggalkan Alisia dan anak-anaknya.
Mereka saat ini bermain di halaman belakang rumah Alisia, Disa yang menginginkan tak ingin bermain di luar.
Alisia, Andin sibuk membuat kue kesukaan mereka sedangkan bibi Sukma membuat minuman. Nando dan El hanya senyum melihat Disa bermain boneka yang baru saja di beli oleh Nando.
Ketika Nando membelikannya Disa begitu bahagia menerima boneka beserta rumahannya sedangkan untuk Deniz Nando membelikan game terbaru.
" Andin teruskan sisanya aku akan membawa ini ke sana mereka pasti sudah lapar" kata Alisia.
" Kak tenang saja ini tinggal sedikit lagi" kata Andin memasukan kue ke dalam oven. Bersama bibi Sukma membawa minuman menuju ke taman.
Ketika Alisia melihat kedua anaknya ia senyum dan meminta bibi meletakan minuman di atas meja, Alisia melihat Nando seperti memikirkan sesuatu membuatnya cemas.
" Sayang ini kuenya" kata Alisia, pada kedua anaknya.
" Ya bunda" seru Deniz dan Disa, mereka mengambil kue dan minumannya.
" Mas sepertinya memikirkan sesuatu? " Alisia, setelah duduk di dekat Nando. Tapi Nando diam tak menanggapi itu membuat Alisia khawatir.
Alisia memegang tangannya dan kembali memanggilnya.
__ADS_1
" Mas". Nando tersentak mendengarnya dan mencoba menenangkan dirinya dan menunjukan senyuman ke Alisia.
" Mas, jika ada yang ingin dikatakan pada Alisia bicaralah mungkin Alisia bisa membantu walau tak banyak" kata Alisia, senyum.
Nando melihat senyuman Alisia semakin membuatnya tak mampu meninggalkan wanita ini juga kedua anaknya walau hanya beberapa hari mengurus pekerjaan. Pihak klien sudah menghubungi El dan meminta Nando segera ke Jerman untuk berkunjung.
" Sayang sebenarnya mas bingung" kata Nando, mengusap wajahnya. Alisia hanya menunggu apa yang dikatakan oleh Nando ia hanya mengelus tangan pria yang memegangnya.
Nando memeluknya. "Mas ada anak-anak" kata Alisia, khawatir jika kedua anaknya melihat keromantisan orangtuanya yang belum mestinya mereka ketahui.
" Sayang biarkan mas memelukmu hanya sebentar " kata Nando, Alisia dapat merasakan Nando gemetaran ia melirik kedua anaknya ia merasa lega karena Deniz dan Disa asyik dengan mainannya.
Dalam pelukan Alisia Nando menceritakan pada Alisia soal keberangkatan ke Jerman mengurus proyek.
Nando melepas pelukannya ia cemberut Alisia tersenyum melihatnya karena sikap ayah dan putra mirip ketika mereka merajuk.
" Tapi mas tak bisa meninggalkan kalian kita baru saja bersama, mas akan menghubungi El memintanya untuk berangkat sendiri" kata Nando, memikirkan idenya.
Ketika Nando akan menghubungi El dilarang oleh Alisia.
" Sayang" kata Nando. Alisia tersenyum dan memanggil kedua anaknya masuk karena hari sudah sore, Alisia memanggil Andin untuk membantu kedua anaknya mandi.
__ADS_1
" Bunda, Deniz bisa mandi sendiri" kata Deniz, ketika meminta Andin membantunya sedangkan Nando mengikutinya dari belakang ia menatap Alisia dengan heran.
" Sayang biar Andin yang mengurus mereka sekarang jelaskan pada mas kenapa kamu larang mas menghubungi El" kata Nando, menghentikan langkah Alisia yang ingin masuk ke kamar.
Alisia menanggukan kepalanya dan membawanya ke ruang tengah.
" Sekarang jelaskan pada mas, jangan membuat mas penasaran" kata Nando.
" Mas kapan ke sana? " Alisia.
" Ha" kata Nando ia heran dengan pertanyaan Alisia.
" Mas jawab saja pertanyaanku" kata Alisia.
" Mas harus berada di Jerman minggu depan dan selama lima belas hari menginap" kata Nando.
" Mas atur tiket dan Visa untuk kami, kami akan ikut ke jerman anak-anak pasti senang" kata Alisia.
" Sayang ini" kata Nando berhenti ketika tangan Alisia berada di mulutnya.
Alisia menjelaskan kalau kedua anaknya sudah libur karena baru saja mengikuti ujian dan memperoleh nilai terbaik, sebulan lagi akan masuk SD.
__ADS_1
" Jadikan ini sebagai hadiah dari mas untuk mereka " kata Alisia, senyum. Nando segera memeluk wanitanya ia tak menyangka Alisia mau pergi bersama walau ini dianggap hadiah untuk kedua anaknya tapi Nando tak lagi merasa khawatir meninggalkan mereka.
Nando segera menghubungi El untuk mengurusnya.