
Nando segera ke apartemen setelah mendapat berita dari nyonya Inggrit tentang Alisia dia sangat khawatir dengan keadaannya, Nando juga mencemaskan kedua anaknya maka ia minta El mempercepat jalan mobilnya.
Dokter yang di panggil oleh tuan Anjas telah tiba saat ini memeriksa Alisia, Andin segera menemui Alisia setelah memastikan Deniz dan Disa tidur.
" Dok gimana? " tuan Anjas, saat ini Alisia ditemani nyonya Inggrit dan Andin didalam.
"Sepertinya nona Alisia ada yang difikirkannya hingga menanggunya, anda harus mencari tahu apa yang difikirkannya berusahalah untuk menyelesaikan jika tidak ini akan menanggu fisiknya " kata dokter.
Kemudian dokter memberikan vitamin di tangan tuan Anjas.
" Biar saya yang menembusnya, tuan" kata El. Nando dan El sudah sampai di apartemen ketika dokter memberikan obat pada tuan Anjas. Tuan Anjas meminta pelayannya mengantarkan dokter keluar sedangkan El pamit menembus vitamin ke apotik.
" Nak temuilah dia didalam ada Andin dan mommymu" kata tuan Anjas, menepuk punggung putranya, Nando segera masuk.
Sedangkan di dalam.
" Apa yang kamu fikirkan sayang hingga keadaanmu seperti ini" kata nyonya Inggrit, memegang tangan Alisia menatapnya sedih. Andin berdiri agak jauh dari nyonya Inggrit hanya bisa tertunduk sedih.
Tok tok tok
" Tuan" kata Andin, membuka pintu ternyata Nando yang datang.
" Bagaimana keadaannya? " Nando.
__ADS_1
" Masih belum sadar tuan, nyonya sudah memanggilnya tapi tak ada respon" kata Andin.
Nando menghela napasnya. " Kamu temani anak-anak di kamarnya takutnya mereka bangun" kata Nando.
Andin menanggukan kepalanya dan pamit menemui Deniz dan Disa, Nando masuk ke dalam ia sedih melihat keadaan Alisia seakan rohnya kemana hanya ada tubuhnya di sini
Mom biar aku yang menemaninya disini, mommy istirahatlah" kata Nando, dengan lirihnya matanya tertuju pada Alisia.
Nyonya Inggrit senyum sambil menepuk punggung putranya dan keluar dari kamar. Nando duduk di tempat nyonya Inggrit sebelumnya air matanya jatuh melihat keadaan wanitanya.
Wanita yang telah bersedia melahirkan anaknya walau sebuah kesalahan tapi sekarang wanita ini sangat ia cintai.
" Sayang ini aku" kata Nando, dengan suara yang lirih tapi Alisia masih diam.
Sedangkan diluar El kembali dari apotek membeli obat.
"Anda" kata Andin, melihat El di depan pintu.
" Saya ingin memberikan obat nona Alisia" kata El, menunjukan obat di tangannya.
Andin senyum. " Anda ingin segelas kopi kebetulan saya belum mengantuk" kata Andin.
" Anda tidak menemani anak-anak? " El.
__ADS_1
" Mereka sudah tidur tadi saya ingin ke dapur untuk minum ketika itu bel berbunyi, gimana? " Andin.
" Baiklah sepertinya hari sudah larut saya bisa tidur di ruang tamu takutnya tuan muda membutuhkan saya " kata El..
Andin membuka pintu lebih lebar agar El bisa masuk tidak lupa Andin menyimpan obat Alisia di meja.
" Apa sebaiknya obat itu diberikan pada tuan? " El.
" Saya takut menanggu mereka tuan sedang menemani kak Alisia" kata Andin, menggaruk hidungnya. El tersenyum melihatnya terlihat lucu baginya.
" Biar saya yang memberikannya" kata El.
" Kalau begitu saya akan membuat kopi untuk anda" kata Andin, menunjuk arah dapur.
Setelah memastikan Andin pergi El segera ke kamar Nando yang saat ini ditempati Alisia.
Tok tok tok
" Tuan" panggil El .Nando yang sedang menemani Alisia segera membuka pintu ia tak ingin menanggu istirahat Alisia.
" Kau, Ups" Nando meminta El diam. El menanggukan kepalanya. Nando menutup pintu.
" Tuan ini obat nona" kata El. Memberikan obat pada Nando. Nando menerimanya.
__ADS_1
" Kamu istirahat disini saja " kata Nando.
" Baik tuan" kata El, pamit ia menuju ruang tamu sambil menunggu Andin menyiapkan kopi.