
Tak lama Nando sadar dari pingsannya ia memegang keningnya masih terasa pusing di kepalanya.
" Nando minum dulu" kata El, memberi minuman pada Nando. Nando melirik El yang terlihat tegang.
" El, ada apa denganmu? " Nando.
" Nando sebaiknya kita menberitahu om dan tante" El, menceritakan kejadian ketika dia pingsan.
" Jadi menurutmu gadis itu hamil dan aku yang mengalami yang biasanya dialami ibu hamil" kata Nando, senyum. El terkejut melihat sahabatnya senyum apakah dia senang jika itu benar.
El membantu Nando keluar untuk menemui orangtuanya.
" Nando, katakan pada kami apa yang dimaksud oleh dokter?" tuan Anjas.
Nando menghela nafasnya menatap orangtuanya satu persatu, Nando menceritakan semuanya di jebak oleh rekan bisnisnya dan menodai seorang gadis.
Nyonya Inggrit menangis karena putranya seorang gadis rusak dan bagaimana nanti kalau ia hamil, Nando melihat mommynya menangis segera memeluknya dan minta maaf.
" Nando gimana ia hamil nanti, mommy tak mau tahu kamu harus mencarinya"kata nyonya inggrit, menangis Nando menanggukan kepalanya.
" Kalian sudah mencari mengenai seorang gadis itu? " tuan Anjas, ingin putranya bertanggung jawab walau secara tak langsung ia bersalah.
__ADS_1
" Kami selama sebulan ini sudah mencarinya mom, dad tapi tak ada hasil karena kami kekurangan datanya" kata Nando, menundukan kepalanya.
" Teruslah mencarinya jangan putus asa jika dia memang hamil saat bawalah kemari dan nikahi dia" kata tuan Anjas, Nando menanggukan kepalanya.
Sejak itu Nando terus mencari keberadaan Alisia sampai tiga tahun belum menemukan hasil, selama tiga tahun Selia terus mendekati Nando, tapi Nando bersikap dingin.
Alisia sibuk mengerjakan desain untuk butiknya soal putra putrinya Alisia memasukannya ke sekolah agar mereka tidak merasa bosan ketika ia sibuk.
" Kak tidak menjemput si kembar" kata Andin. Alisia menepuk keningnya hampir ia menjemput mereka.
" Terima kasih Andin telah mengingatkan aku hampir melupakannya, ini desainnya sudah selesai beri ke tukang jahitnya agar cepat di produksi" kata Alisia, menyerahkan desainnya ke Andin.
Alisia segera mengendarai mobilnya menuju paud yang tak jauh dari butiknya. Tak membutuhkan waktu yang lama Alisia sudah sampai di paud, Alisia menghentikan mobilnya untung belum pulang.
Taklama siswa siswi keluar dari kelas dapat terlihat Deniz dan Disa keluar dari kelas.
" Bunda" teriak Disa, saat melihat Alisia sudah menunggu mereka. Disa berlarian mendekati bundanya.
" Sayang jangan berlarian nanti jatuh" kata Alisia, mengelus rambut putrinya.
" Maaf bunda" kata Disa, senyum menunjukan giginya.
__ADS_1
" Sayang" kata Alisia, mencium kening putranya.
" Bunda jangan dicium Deniz sudah besar" kata Deniz, dengan dinginnya. Alisia tersenyum putranya memang beda.
" Sebelum kita pulang dimana kalau kita ke mall" ajak Alisia.
" Asyik jalan-jalan " kata Disa, senang. " Dasar anak kecil" kata Deniz.
" Bunda hiks hiks hiks" Disa menangis memeluk kaki Alisia.
" Sudah sayang ayo kita berangkat" kata Alisia, menghapus air mata putrinya.
" Bunda nggk sibuk" kata Deniz, saat mereka sudah masuk mobil.
" Pekerjaan bunda sudah selesai hanya tahap penyelesaian" kata Alisia, melihat arah putranya, Deniz senyum tipis walau tak ada yang menyadarinya.
Mall
Alisia dan kedua anaknya sudah sampai di mall Disa terlihat senang sekali dan tak sabar bermain sedangkan Deniz tetap dengan sikap dinginnya.
Para pengunjung mall menanggumi penampilan kedua anaknya apalagi Deniz dengan dinginnya sedangkan Disa yang cantik, mereka menghabiskan waktu di mall memainkan bermain berbagai macam mainan.
__ADS_1