
Rasa dekap pelukan ini begitu nyaman dan hangat, aku mulai membayangkan bahwa Mama yang sudah memeluku. Ku coba hentikan tangisanku, ku usap semua air mata yang jatuh di pipi dengan kedua tanganku. Vivi yang mulai memegang pipi ku dan memandangiku, terlihat sorot matanya begitu sedih tak kuasa melihat diriku yang seperti ini. Dia mulai tersenyum mencoba menghibur dan mencairkan suasana buruk ini.
"Vi... apa kamu membenciku? ". tanya ku yang menatap mata nya dalam - dalam.
" Tidak Li... lagi pula, aku tahu itu bukan kamu".
"Apa maksutmu?".
" Ayo kita bicara sambil berjalan pulang". ucap Vivi mulai memegang tangan ku dan menarik ku untuk berjalan pulang.
"Vi... bisa kah kamu bercerita sedikit saja tentang kejadian tadi malam? ". aku masih saja mencoba mengorek informasi.
" ya... meski Budhe Ana melarangku. Aku tidak bisa menyembunyikan ini darimu".
Vivi mulai berjalan ke pinggiran jalan dan duduk disana, dan aku pun ikut menghampiri nya dan duduk bersamanya.
"Jadi semalam... apa yang terjadi? ". lanjut aku bertanya lagi karena tidak sabar mendengar cerita itu.
__ADS_1
" Semalam... setelah kamu berteriak dan menjerit, Kamu jatuh pingsan tubuhmu amat lemas dan rapuh, Aku dan Budhe Ana mencoba menidurkan mu di sofa tapi sesaat kemudian... kamu menjadi orang yang berbeda. bahkan pandanganmu begitu dingin, kamu mendorong ku dan Budhe Ana begitu saja. hingga kami terlempar dan terhempas jauh membentur lemari. Aku tidak tahu, kamu sebegitu kuatnya. spontan kami jadi ketakutan, bahkan kamu tertawa seperti orang lain, kamu menari dan berteriak tidak karuan. Aku sedikit syok melihat dirimu yang semalam. tapi bukan berarti aku membencimu". Vivi bercerita panjang lebar, dan aku hanya bisa diam dan membayangkan kejadian itu.
"Vi... apa aku sudah Gila? ". tanya ku lagi
" hmm... bukan soal Gila.. kurasa ini semacam kerasukan".
"kerasukan? ".
" iya... kita harus cari solusi untukmu".
" Tunggu, emm...Kamu sudah pernah mengunjungi kakek Suyono?".
aku menggelengkan kepala ku.
"Ahh gimana ya... ". ucap Vivi mencoba berfikir keras.
" Aku akan coba bertanya pada Budhe lagi nanti". jawab ku spontan.
__ADS_1
"Kurasa... dia tidak akan memberimu jawaban".
" kenapa? ". tanya ku heran.
" Seolah, dia ingin merahasiakan semuanya darimu".
"Lalu... bagaimana? ". aku bertanya lagi karena bingung.
" Kita fikirkan lagi nanti, sekarang kita pulang dulu ya".
"hmm... baik lah, ayo... ". ucap ku yang mulai bangkit dari tempat duduk ku dan mengulurkan tanganku untuk Vivi. Dia mulai menggapai tanganku dan mencoba berdiri lalu berjalan menggandeng lengan kanan ku. seperti biasa, dia bertingkah begitu manja dan aku merasa lega untuk hari ini. karena cerita nya aku jadi sedikit meredam. Bahwa aku tidak 100% menyakitinya dengan sengaja. aku harus bisa menemukan solusi untuk diriku ini. karena... aku tidak ingin ada yang terluka lagi karena aku. Rasa penasaran dalam diriku terhadap Budhe Ana pun mulai muncul, setelah Vivi bercerita bahwa Budhe Ana berusaha menyembunyikan semua nya dariku. Tapi... semalam Budhe Ana sudah mencoba membuka cerita masa lalu ku. Dia sudah mengembalikan sebagian memori ku yang hilang selama 2 tahun itu. Tapi kenapa dia mulai merahasiakan semuanya lagi. Dan lagi... kecelakaan itu, Budhe Ana bilang bahwa Papa dan Mama bertabrakan mobil dengan Bus juga. Tapi serpihan ingatan itu... Aku ada di tempat kejadian itu pula. Sedangkan Mama tidak mengajak ku pergi, dia pergi sendirian menyusul papa setelah menelfon papa. Ini sedikit membuat fikiranKu kacau, pusing sekali aku memikirkan ingatan masa lalu ini.
## Hai teman semua... Apa kabar? saya harap kalian sehat dan dalam lindungan yang Kuasa. Jangan lupa suport novel ku ini ya dengan cara tinggalkan like dan komentarnya.
Dukungan kalian membuat inspirasi bagi saya untuk berkarya.
Terimakasih semua... 🥰🥰🥰
__ADS_1