Sisi Gelap Ku

Sisi Gelap Ku
episode 34


__ADS_3

Air mata ku yang tak mampu tertahankan mengalir begitu saja. Vivi tampak lemas dan pelan - pelan tersadar saat mengetahui aku disana untuk menolongnya, dia begitu senang dan menangis dalam pelukan ku. Dia meminta maaf dan terus memeluku.


Aku mulai meraih kepalanya dan ku elus rambutnya.


"sstttt... tenang, kita harus pergi dari sini".


ucapku menenangkan dia supaya tidak menimbulkan suara lagi.


Rumah ini begitu besar dan luas, tapi gedung rumah ini sudah tampak tua dan tidak terawat. bahkan gerbang rumah ini di tumbuh beberapa tanaman merambat. tentu orang - orang akan berfikir bahwa ini rumah kosong tanpa penghuni. Dan sekeras apa pun aktifitas suara disini tak akan mampu terdengar dari luar. karena jarak rumah ini terlalu jauh dari pemungkiman penduduk lain. Dan jarang sekali ada orang yang melewati jalan sekitar sini. karena mereka sering mendengar dan melihat para hantu wanita berdarah. sehingga semakin menambah kesepian suasana sekitar rumah ini.

__ADS_1


"Apa kamu bisa berdiri?". Tanya ku yang mulai memapah Vivi untuk berdiri.


Aku membantunya berjalan pelan keluar ruangan, ku lihat kaki nya yang terluka karena ikatan yang terlalu erat itu. Entah dia disana sudah berapa lama, dan apa sebenarnya yang ingin di lakukan oleh si Roy ini. Aku menjadi begitu geram padanya. memperlakukan sahabat ku seperti ini. Setelah keluar dari ruangan itu ada yang menghentikan kami pergi. ada dua orang pria yang mulai mendekat ke arah kami ku fikir dia adalah teman Kak Roy. Mereka langsung mendekap kami berdua begitu saja, aku meronta - ronta dan melawan mereka, ku lepas tangan kotor yang mendekap ku, ku injak dengan keras kaki orang yang memegang kedua tangan ku kebelakang. Aku mampu terlepas dan aku mulai menendang orang yang memegang Vivi, Aku menarik Vivi dan berlari. Aku mencoba menemukan pintu keluar, tapi semuanya terkunci.


"Sial, tadi aku masuk lewat jendela. Tidak tahu kalau pintu semua terkunci". gumam ku yang masih mencoba mencari pintu yang bisa terbuka. Vivi tampak ketakutan dan masih menangis. Aku jadi bertambah bingung. Apa lagi pria - pria itu mengejar ke arah kami dan menemukan kami berdua.


"Cih... kalian tidak akan bisa keluar dari sini". ucap salah satu dari mereka.


"hahahaha..... kalian itu sumber uang bagi kami, bagaimana bisa kami membiarkan kalian pergi". ucap pria itu lagi.

__ADS_1


" Apa maksut kalian?". tanya ku.


"Sudah, jangan banyak omong. Panggil bos kita ikat lagi mereka, lumayan kita dapat satu lagi tanpa harus membuat drama".


" iya benar, hahahaha". saut pria yang satunya lagi.


Aku tidak faham, apa yang mereka bicarakan mereka mulai menangkap kami berdua lagi dan mendorong kami masuk ke dalam ruangan, tapi bukan ruangan waktu aku menemukan Vivi. Kami berdua di bawa menurun anak tangga, ku rasa ini sebuah ruang bawah tanah.


Aku mencoba meronta untuk lepas tapi tidak bisa. sampainya disana aku di ikat erat di sebuah kursi, dan Vivi di baringkan di sebuah tempat seperti ranjang rumah sakit.

__ADS_1


mereka mulai mengikat tangan dan kaki Vivi. Vivi tampak menangis dan melempar pandangan ke arah ku seolah dia merasa sangat ketakutan dan meminta ku untuk menolongnya. tapi... bagaimana bisa aku menolongnya, tangan dan badan ku saja terikat erat di kursi ini. Aku mencoba meronta - ronta dan melepas ikatan di tangan ku, tapi itu sia - sia saja. rasanya malah semakin sakit tangan ku seperti terluka.


__ADS_2