Sisi Gelap Ku

Sisi Gelap Ku
episode 29


__ADS_3

Di kamar ini aku berbaring dan menatap langit - langit kamar ku, sembari memikirkan cara untuk mengetahui siapa sebenarnya si kak Roy itu. Aku mulai menutup mata ku sebentar rasanya seperti ada yang menetes di pipi ku.


"Apa ini... ". Batin ku dalam hati


Aku mencoba membuka kedua mataku, ku usap pipi ku dan ku lihat jari ku, Aku kaget. benar - benar kaget. ini darah, dan dari mana asalnya. Di atas tidak ada apa pun, aku melempar pandangan ku ke seluruh ruangan juga tidak menemukan asal dari darah itu. Aku segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan tanganku. Setelah selesai Aku di kejutkan lagi dengan tulisan yang berada di cermin.


(Tolong Aku) Kata itu yang terus muncul di setiap hari ku. Aku menjadi tidak tenang. Dan ku putuskan untuk bercerita dengan Budhe.


Di ruang makan.


setelah makan malam selesai aku mencoba menceritakan semuanya yang ku alami. sejak dari hari terakhir melihat veny, sampai sekarang ini.


"Budhe.... ".


" iya... ".


" Lily mau bercerita".


"iya tentu, Cerita saja...".


" jadi begini ( Aku menceritakan semua kejadian yang ku alami) ".


Budhe terlihat diam, tapi raut wajahnya seperti sedang mencoba berfikir keras untuk menemukan solusi tentang kejadian yang ku alami.


" hmm... Budhe rasa Veny sudah meninggal dunia".


"Apa?". spontan aku kaget mendengar Budhe berkata seperti itu.


" iya, Roh dari Veny menunjukan terakhir kali dia menghembuskan nafasnya".


"tunggu, maksut Budhe?".

__ADS_1


" iya Lily, karena kamu orang yang melihat kejadian itu, sewaktu Veny di culik. Jadi dia berfikir bahwa kamu satu - satunya orang yang dapat menolong dia".


"Tapi... Lily tidak faham dengan semua ini Budhe".


" Kamu tidak perlu berfikir keras tentang hal ini, Cukup jalani saja. dan semua nya akan terselesaikan dengan sendirinya".


"Jalani saja?".


" iya, kamu nantinya akan menemukan petunjuk dengan sendirinya, ingat... kamu tidak sendirian".


Aku semakin bingung mendengar perkataan Budhe Ana. Dia selalu berkata demi kian agar aku tidak terlalu memikirkan hal ini. Seolah aku akan mendapatkan jawaban dengan sendirinya tanpa aku mencari tahu hal itu.


Suara telfon rumah berbunyi, Aku bangkit dari kursi dan menuju ke arah telefon.


"Hallo... ".


" Hallo, dengan Lily bukan?".


" ouh, ini Ibu nya Veny. Boleh tidak Lily datang kemari besok?".


"untuk apa ya?".


" ehhh, kami perlu bantuan mu Nak".


"iya Bu, besok saya akan kesana".


" ya sudah, terimakasih banyak ya".


"iya sama - sama".


Telfon itu berhenti dan terputus. Aku segera menaruh telfon itu, dan kembali ke meja makan.

__ADS_1


" Siapa yang telfon?".


"Ibu nya Veny... ".


" oh, dia bilang apa?".


" besok Lily di suruh kesana".


"oh, begitu...".


Aku menganggukan kepala dan berhenti berbicara.


" kamu bisa ajak Vivi, kalau dia mau".


"tapi Budhe... ".


" tapi kenapa?".


"Hmm... begini lho, jadi Vivi ini memiliki perasaan dengan seorang pria. dan pria itu mungkin terlibat dalam kasus si Veny ini. Aku tidak ingin nantinya akan menjadi masalah baru. Jadi Lily akan selesaikan ini sendiri dulu".


" hmm bagus kalau begitu, selesaikan dulu satu masalah ini, dan nanti baru selesaikan masalah berikutnya".


"iya Budhe... ".


" tapi sayang, ku rasa Vivi akan memahami mu. Meski mungkin kalian akan berbeda pendapat sedikit di awal".


"hah... mungkin itu benar juga. Tapi Lily belum siap untuk itu Budhe".


" ya sudah,.. jalani saja perlahan".


"hmm iya, Terima kasih sarannya Budhe... ".

__ADS_1


" iya, sama - sama sayang".


__ADS_2