
Suasana sangat sepi... lorong jalani ini tampak sunyi, Aku dan vivi yang berhasil keluar dari rumah tua itu berusaha meminta bantuan orang yang lewat di jalan ini. tapi tidak ada satu pun kendaraan yang tampak lewat, sepi...ini benar - benar sepi. Suasana malam yang hampir pagi begitu membuat suasana tempat ini begitu tampak mencekam.
Vivi mulai mendudukan ku di tepi jalan dan dia berusaha mencari orang di sekeliling sana.
Tubuh ku yang mulai melemas kembali, kesadaran ku yang mulai memudar kembali. Terlalu banyak darah yang keluar dari luka ku. Rasanya aku sudah tidak mampu menemani vivi lagi.
mungkin, hanya sampai disini aku bisa mendampingi dirinya menjadi sahabatnya adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi ku.
Aku mulai perlahan menutup mata ku, Terlihat sekilas vivi tampak berlari kecil menghampiri ku, raut wajahnya begitu sedih dan khawatir. dia seakan tidak merelakan aku pergi.
"Lily... Lily...ayo bangun, buka mata kamu. sadar li...sebentar lagi akan ada yang menolong kita".
vivi menangis tersedu sedu sembari memeluk separuh badan ku yang tergeletak di tanah. dia melempar pandangannya kembali ke semua sudut arah berharap akan ada seseorang yang lewat.
Beberapa saat kemudian tampak sorot cahaya lampu di jalan itu, vivi yang melihat mobil melaju ke arahnya langsung bangun dan menghadang mobil itu.
Dia berdiri di tengah jalan dengan kedua tangannya yang terlentang berusaha menghentikan mobil itu.
__ADS_1
tinn... tin.... (Bunyi klakson mobil)
"Woy, minggir... cari mati ya?". ucap seseorang yang mengemudikan mobil itu.
vivi masih berdiri di sana tanpa respon sampai mobil itu benar - benar berhenti di hadapannya dan pengemudi itu turun menghampirinya.
" Aduh, kamu cari mati ya? minggir sana... saya mau lewat...".
" Kak, tolong saya, tolong teman saya". ucap vivi
"Tolong? kalian kenapa?".
tampak gadis kecil turun dari mobil itu dan menghampiri mereka berdua.
"Kak, kita tolong saja kakak itu".
" Kamu yakin dek?".
__ADS_1
"iya, kakak yang disana yang waktu itu menolong cici memunguti jajan yang jatuh". ucap gadis kecil itu. kakaknya tampak diam sesaat dan menganggukan kepalanya.
" baik, kakak tolong mereka".
Pria itu segera menghampiri badan ku yang tergeletak tak berdaya, tubuh ku yang hampir dingin dan kaku. segera dia mengangkat ku dan memasukan ku ke dalam mobilnya.
sampai di rumah sakit semua perawat segera menghampiri ku dan melakukan tindakannya kepada ku. Aku yang tidak sadarkan diri hanya mampu ber angan dalam mimpi, sekilas mimpi itu begitu menenangkan hati ku, karena aku dapat bermain kembali bersama kedua orang tuaku. rasa di hati ku begitu bahagia... aku ingin seperti ini saja, bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan mereka.
Ku fikir semua itu akan terjadi selamanya, ternyata tidak itu hanya mimpi ku saja, saat terdengar suara tangis di sampingku. aku mulai perlahan membuka kedua mata ku, tampak terlihat Budhe Ana yang duduk di sampingku sembari menciumi tangan ku. wajahnya tampak khawatir, air mata itu menghiasi wajah separuh bayanya.
"Budhe.... ". ucap ku lirih
" iya, sayang... ". jawab budhe dengan semngat, mengetahui aku sudah sadarkan diri.
" Lily masih hidup...?".
"Iya sayang, Lily akan baik - baik saja". ucap Budhe yang mulai mencium kening ku beberapa kali.
__ADS_1
Aku hanya terdiam, dan hanya bisa merasakan tubuhku yang masih sangat lemah.