
Tidak tahu, hatiku rasanya sakit sekali saat sahabat ku tidak mau mendengarkan perkataan ku. Aku mulai berjalan pulang dengan mata yang memerah, rasanya ingin menangis tapi ku coba tahan sampai di rumah.
Aku membuka pintu, rumah tampak sepi. Aku acuh akan suasana rumah dan mulai pergi ke kamar ku, disana aku mulai menjatuhkan diriku di ranjang. Air mata ku mengalir begitu saja. Aku berfikir, bahwa pengaruh seorang pria dalam hubungan persahabatan ternyata sangat berpengaruh sekali. Aku tidak tahu, apa Vivi akan kehilangan kepercayaannya pada ku. Aku begitu sedih, aku tidak mungkin menginginkan sahabat ku terluka. Bahkan sebaliknya, aku ingin dia aman dan bahagia. tapi mungkin cara ku tadi salah, aku begitu panik dan respon ku begitu membuat hatinya tersentak sehingga dia marah, dan berfikir bahwa aku memiliki hati pada seseorang yang dia suka. Padahal tidak... aku harus bagaimana... aku bingung sekali.
Jam menunjukan waktu 23.45 WIB, aku terbangun dari tidur ku. tidak sengaja ternyata selama aku menangis tadi aku tertidur, aku lalu bangkit dari ranjang tidur ku dan mulai pergi ke luar kamar mencari makanan. Rasanya lapar sekali, aku tidak sempat makan sejak dari rumah Keluarga Pak Arto. Aku hanya menemukan sepotong roti dan susu di dalam kulkas. Aku mulai duduk dan menikmatinya, terdengar suara langkah kaki yang turun dari tangga dan menuju kemari. ternyata Budhe terbangun karena mendengar suara ku.
"Li... apa kamu lapar?". ucap Budhe yang mengambil air putih dan meminumnya.
" iya Budhe, Lily lapar.... ".
" Budhe lupa tadi tidak masak makan malam".
"tidak apa, ini saja cukup".
" Lalu... bagaimana tadi?".
__ADS_1
"Ya, masih seperti itu tanpa perkembangan, tapi Pak Arto sudah melaporkan kejadian itu kepolisi".
" ya sudah, jangan terlalu di fikirkan".
"tapi Budhe... ".
" ya tapi kenapa?".
"Lily tidak sengaja mendapatkan surat medis di lemari veny".
" Lalu...?".
" apa hubungannya dengan vivi?".
"jadi begini Budhe... (Aku menjelaskan semuanya tentang hubungan vivi dengan kak Roy, serta kak Roy yang bersangkutan dengan hilangnya Veny).
__ADS_1
" jadi begitu... kamu harus sabar. mungkin vivi hanya marah sebentar saja".
"iya Budhe, tapi... Lily takut".
" kenapa?".
"Lily takut, kalau vivi kenapa - kenapa suatu hari nanti".
" Takdir seseorang tidak ada yang tahu sayang, kita harus jalani seperti biasa".
"tapi... Lily tidak bisa biasa saja. saat bahaya mengancam sahabat lily".
" Budhe tahu, pasti kamu akan melakukan yang terbaik untuk sahabat mu itu. sekarang pergi tidur lagi ya ini sudah tengah malam".
"iya Budhe... Lily akan pergi tidur lagi".
__ADS_1
" ya sudah, Budhe kembali ke kamar dulu ya".
Aku menganggukan kepala dan membereskan bungkus roti dan susu. aku mulai berjalan ke kamar ku lagi dan lanjut untuk tidur. Tapi saat berbaring di ranjang, rasanya mata ku tak mampu lagi untuk terpejam. Aku harus melakukan sesuatu yang bisa membuat ku cepat tidur kembali. Aku mencoba mencari buku yang ku beli bersama dengan vivi, dan aku mulai belajar tentang beberapa Aksara Jawa. Ini sedikit membantu dan membuat mata ku mengantuk, selembar demi selembar ku buka dan semakin menciut pula pandanganku. Dan tidak terasa ternyata aku mulai tertidur pulas.