
Mereka berdua yang mendengarkan perintah kak Roy langsung memegang kedua tangan ku kebelakang dan menjauhkan ku dari vivi. Tapi aku tetap meronta dan berusaha untuk melindungi vivi sampai akhirnya aku lepas lagi dan berlari ke arah Vivi, tapi disitu kak Roy menangkapku dan menusukan pisau di perutku. Aku sejenak berhenti, rasanya begitu kaget melihat pisau itu tertancap di perut ku. Aku mulai berjalan mundur perlahan dan melihat tangan ku yang gemetar berlumuran dengan darah segar milikku... mereka tidak segan - segan menyakiti ku begitu saja, Mereka benar - benar kejam. Sampai pada akhirnya kesadaran ku mulai memudar, pandangan ku mulai berkunang. Tubuh ku rasanya lemas sekali, aku pun terjatuh dan terbaring di lantai.
Aku masih bisa melihat sekilas, tampak sesosok wanita memakai baju berwarna putih, dan aku mulai teringat dengan Roh Suju yang di ceritakan oleh Budhe Ana. Terlintas dalam fikiranku untuk memanggilnya, tetapi... Aku ragu. sampai aku melihat dokter itu mulai melakukan tindakannya ke pada vivi, tanpa berfikir panjang. Aku menyebut nama Suju 3x dan meminta bantuannya.
"Suju... suju... suju... tolong aku... tolong". ucap ku lirih sembari berusaha mengangkat satu tangan ku ke arah Roh suju. Sekilas baju yang dikenakan oleh Suju berubah warna menjadi merah darah. Aku pun menjadi heran tetapi, aku benar - benar sudah tidak mampu berfikir lagi dan sudah tidak mampu membuka kedua mataku lagi, untuk melihat Suju.
Tapi rasanya aku masih mampu mendengar dan merasakan sesuatu di tanganku.
__ADS_1
Aku seperti bermimpi tubuh ku terasa ringan dan rasanya aku seperti memegang sebuah pisau di tanganku, dan aku mulai mengarahkan pisau itu ke orang - orang yang ingin aku lenyapkan. ya... orang - orang kejam itu, aku ingin melenyapkan mereka semua, lagi pula ini hanya mimpi bukan, jadi aku ingin melakukannya sesuka hati ku. Sebelum ajal ku benar - benar menjemputku. Tanpa segan, Aku mulai menusuk dan merobek perut mereka. terdengar suara jeritan dan suara meminta ampun, tapi aku tetap saja menusukan pisau itu dengan membabi buta ke arah mereka hingga mereka berserakan tanpa nyawa.
###
Beberapa saat setelah itu, Aku mulai membuka kedua mata ku perlahan, pandangan ku terlihat semu, aku berusaha untuk benar - benar tersadar. Aku berfikir bahwa apakah aku sudah mati? dan apakah aku sudah berada di tempat lain?. Ternyata tidak. Aku masih di tempat yang sama, dan vivi pun masih tampak terbaring di ranjang itu.
Ada yang aneh dengan suasana ini, dimana mereka semua. orang - orang jahat yang begitu tidak manusiawi. Aku mulai bangun dan benar - benar tersadar. Aku heran, kenapa aku memegang sebuah pisau di tanganku, Aku mulai membuang pisau itu dan berusaha mendekati vivi. dengan susah payah aku mulai melepas ikatan tangan dan kaki nya. Beberapa saat kemudian vivi membuka mata dan melihat diriku disana yang berlumuran darah. Dia bangun dan menangis dalam pelukanku.
__ADS_1
"Lily, maafkan aku".
" Sudah, jangan bahas itu. Ayo kita keluar dari sini". ajak ku yang mulai menariknya turun dari ranjang.
"Li... kamu terluka parah". ucap Vivi yang syok melihat luka di perutku.
" ssstt... diam, sudah ayo kita cepat keluar dari sini".
__ADS_1
"Iya... ayo". ucap vivi yang mulai memapah ku keluar dari sana.
Tapi, saat ingin keluar dari sana ternyata banyak sekali mayat berserakan, saat ku lihat lebih jelas ternyata itu kak Roy dan kawan - kawannya. Entah, mengapa mereka bisa mati dengan cara seperti itu. keadaan mereka begitu mengenaskan darah mereka menggenangi lantai bahkan mata mereka berserakan di mana - mana. Vivi yang melihat hal itu mulai menutup mulutnya dan berasa mual ingin muntah. Aku pun segera menariknya keluar dari sana dan kita berhasil ke luar dari rumah tua itu.