Sisi Gelap Ku

Sisi Gelap Ku
episode 30


__ADS_3

Di rumah keluarga Pak Arto Wahid.


"Permisi.... permisi". ucap ku sambil memperhatikan pos security yang tampak kosong. Aku mulai memencet bell beberapa kali. Akhirnya ada yang membukakan pintu gerbang untuk ku.


" Silahkan masuk". ucap seorang wanita paruh baya pada ku, Ku rasa dia bekerja di sini. Aku mulai masuk dan berada di ruang tamu.


"silahkan duduk dulu, saya akan panggilkan Tuan dan nyonya". Dia mulai pergi meninggalkan aku di ruang tamu. Tidak lama kemudian Pak Arto dan istri nya keluar dan menemuiku".


"Pak, Buk... ". ucap ku sambil bersalaman dengan mereka berdua.


" Duduk dek... ". ucap Pak Arto, mempersilhkan aku untuk duduk kembali.


" iya, terimakasih Pak". Aku mulai duduk kembali dan memperhatikan mereka berdua yang saling menatap dan saling pandang. seolah ingin berbicara sesuatu, tetapi mereka tidak yakin tentang apa yang akan mereka bicarakan.


"maaf, Lily... bisa bantu apa ya disini?". aku mencoba membuka percakapan kepada mereka.


" ehem... emm, jadi begini dek... ". Pak Arto mencoba menjelaskan tapi di potong oleh Bu Arto.


"begini... sejak kemarin saya melihat veny ada di sekitar rumah ini. tapi, dia selalu menghindari jika saya mendekatinya".

__ADS_1


" maksut Bu Arto?".


"Maksut istri saya, dia sering berhalusinansi sa.... ". Bu Arto memotong lagi.


" Tidak mas, saya benar - benar melihat veny".


"Tunggu dulu, boleh saya menengahi permasalahan ini?".


Pak Arto tampak diam mengepal tangan kanannya dan menaruhnya di kening.


" Boleh, Bu Arto lebih memperjelas cerita Ibu?". lanjut ku bertanya lagi.


" Berapa kali Bu Arto melihat keberadaan veny di rumah ini?".


"sering, hampir setiap saat. Saya mendengar dia menangis dan saya selalu mencari keberadaan suara tangisan itu, di situ lah saya selalu melihat veny. Tapi... tapi dia selalu menghindar jika saya mulai mendekatinya".


" Apa Veny sudah di temukan dan pulang ke rumah ini?". tanya ku lagi.


" Belum dek, istri saya hanya berhalusinasi saja. Mungkin karena dia syok tentang kejadian ini".

__ADS_1


"Mas, saya benar - benar melihat Veny. Ini bukan halusinasi". ucap Bu Arto tegas.


" Tenang ya Bu... tenang, saya memahami situasi ini". Ucap ku coba meredam Emosi Bu Arto yang mulai timbul.


"Iya, tapi saya benar melihat Veny, ini bukan halusinasi". Bu arto mencoba meyakinkan kami.


" iya, saya percaya dengan Bu Arto, saya percaya. karena saya juga sempat melihat Veny beberapa kali".


"Apa maksut semua ini?". ucap Pak Arto yang tampak bingung.


" maaf Pak, saya belum bisa memastikan kebenaran ini. tapi yang jelas. Veny benar - benar dalam keadaan bahaya".


Bu Arto tampak lemas, matanya mulai memerah dan berkaca - kaca. ke khawatiran seorang Ibu terhadap Putrinya tampak sangat jelas sekali.


"maaf Pak, Apa bapak sudah melaporkan ini ke polisi?".


" Sudah, saya sudah melaporkan masalah ini, tapi polisi belum memberi kabar lebih lanjut lagi".


Aku hanya bisa diam dan berfikir, Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu mereka menemukan veny. Sedangkan Aku teringat ucapan Budhe, bahwa Veny sudah meninggal dunia. Tapi... tidak mungkin aku memberikan informasi ini kepada keluarganya begitu saja tanpa ada bukti yang jelas. Aku pasti akan di maki dan di usir begitu saja dari sini jika aku memberikan bukti yang tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2