
Aku yang berfikir, berfikir dan terus berfikir. Tidak menemukan sesuatu apa pun dalam otak ku, rasanya hampir pasrah dan ingin berpamitan pergi dari rumah ini sesegera mungkin. Tapi saat aku di pusingkan dengan hal itu, Bu Arto tampak bangkit berdiri dan memandang ke arah tangga dia memanggil nama anaknya dan berjalan menuju kamar anaknya. Aku dan Pak Arto yang melihat tingkah Bu Arto langsung mengikutinya.
Di kamar Veny, suasana tampak sunyi. Aroma parfum masih melekat di atas kasurnya. Foto - foto yang tertempel di dinding tampak menghiasi suasana kamarnya. Bu Arto terlihat duduk di atas kasur itu dan menatap ke arah Lemari Veny. Aku yang penasaran mencoba bertanya pada Bu Arto.
"Bu, Apa yang Ibu lihat?".
Dia tampak diam dan menunjuk ke arah almari itu, Aku langsung mencoba mendekat ke arah lemari dan membukanya, saat pintu lemari itu terbuka, tampak beberapa kertas jatuh berserakan di lantai. Aku segera memungutinya satu persatu, Tidak sengaja terbaca oleh ku, Bahwa itu adalah surat dari medis rumah sakit.
Aku kaget, dan seketika teringat dengan Vivi. kemarin dia berkata bahwa akan melakukan tes darah. Aku begitu syok bingung dan resah. Aku mencoba mengambil HP dan menghubungi Vivi, tapi tidak ada jawaban.
"Dek, apa kamu tidak apa - apa? kenapa kamu begitu gelisah?". Tanya Pak Arto yang mulai mendekati ku. Aku masih begitu linglung disana, sehingga tidak terlalu memperhatikan ucapan Pak Arto.
" Dek... dek Lily... ". panggilnya beberapa kali menyadarkan lamunan ku.
" Ah... iya, gimana pak?".
"Tidak apa - apa. Apa yang kamu temukan?".
" ini, rekaan medis Veny. Apa Bapak tahu kalau Veny melakukan beberapa macam tes medis ini?".
"Tidak, saya tidak tahu sama sekali".
Aku mencoba membereskan kertas - kertas itu dan memberikan nya kepada Pak Arto.
" Simpan ini ya Pak, siapa tahu nanti di butuhkan. saya harus segera pamit sekarang".
"oh, baiklah... Terimakasih sudah mau datang kesini".
" iya, Bapak bisa hubungi saya lagi nanti, kalau memang di butuhkan".
"Tentu, Terimakasih".
Aku yang masih teringat tentang Vivi segera pergi dari kediaman keluarga Pak Arto dan pergi menuju ke rumah Vivi.
Tok... tok... tok...
Aku mengetuk pintu dengan tidak sabar.
__ADS_1
tok.... tok.... tok.... tok....
" iya sebentar.... ". ucap seseorang dari dalam.
ceklekkk..... ( suara pintu terbuka ). ternyata yang membuka pintu adalah Vivi, aku langsung lega dan menghembuskan nafas ku dengan cepat.
"huft... syukurlah.... ".
" Kamu kenapa Li...? Terlihat begitu panik."
"ahh... huh.... huh... tidak apa - apa". ucap ku yang masih ngos ngosan karena berlari.
" Ayo masuk, aku buat kan minum dulu".
Aku pun segera masuk dan duduk di ruang tamu.
"ini minum dulu... ".
" Trims ya... ". aku langsung meminumnya tanpa sisa.
"maaf vi, aku tadi berlari kesini".
" kenapa? biasanya juga jalan, apa kamu di kejar anjing tadi...?".
"Tidak... disini tidak ada anjing".
" haha... iya tapi kenapa kamu berlari?".
"oh ya... aku mau tanya, apa kamu jadi tes darah?".
" oh itu, iya aku sudah selesai. ini bekasnya".
Dia menunjukan bekas jarum suntik.
"Apa?". Aku kaget dan sdikit marah.
" kamu kenapa?".
__ADS_1
"kenapa kamu lakukan tes itu?!".
" Li... kamu kenapa marah, Aku hanya melakukan tes saja".
"Tapi kenapa? ada alasan apa kamu melakukan tes itu?".
" oh, itu... Kak Roy yang memintanya. jadi... ".
" Apa? Roy...?!".
"Li... kamu kenapa? Apa kamu cemburu?".
" Bukan itu maksut ku. Kamu harus hindari Roy".
"Kenapa? Apa alasannya?".
" Dia tidak baik, aku mohon vi.... ".
" Dia orang yang baik dan ramah. pasti kamu hanya iri dengan ku kan karena aku mendapat perhatian dari kak Roy".
"Bukan... Bukan itu maksut ku".
" Sudah lah, jika kamu ingin berdebat dengan ku. lebih baik kamu pulang saja".
"Tapi vi... aku punya bukti kalau dia bukan orang yang baik".
" Coba... mana buktinya tunjukan pada ku".
"a... aku tidak punya, tapi kemarin aku melihat dia bersama dengan Veny".
" nah... kamu saja tidak memiliki bukti, dan itu hak kak Roy ingin bertemu dengan siapa pun".
"vi..... ".
" Sudah, cukup. aku tidak mau dengar".
Vivi mulai mengantar ku keluar dan menutup pintu rumahnya.
__ADS_1