
Di ruang pribadi milik keluarga vivi aku yang duduk santai menikmati film yang di rekomendasikan oleh vivi, film ini berbau komedian jadi aku sesekali tertawa sendiri disana. saking asyiknya, aku tidak melihat vivi yang mulai memasuki ruangan.
"Woy....!!! ". vivi menggeprak sofa yang aku duduki.
" Aduh...!! kaget aku vi.... ". ucapku mengelus dada.
dan vivi pun mulai bergabung duduk di samping ku.
" cepet amat kamu mandinya?". tanya ku heran.
"iya, aku kan enggak pakai lulur". jawabnya sambil tersenyum gurau.
" ehh dasar... ".
" hahahaha..... seru gak filmnya?".
"iya seru banget, perutku sampai sakit tertawa melulu dari tadi".
" hahaha,, aku saja tidak bosan sudah 3x nonton".
"Apa? sampai 3x?". ucap ku yang kaget
" hahaha iya beneran".
"bener - bener nih film bikin kecanduan ya?".
" hahahaha..... ". vivi tertawa lepas, seakan sudah melupakan ke galauannya. ku kira dia sudah cukup lebih baik sekarang.
" Li... ".
" ya... ".
__ADS_1
" emmm... gimana ya... ".
" mau ngomong apa kamu?".
"enggak jadi deh... ".
" nah kan,,, ".
" emm iya ini aku ngomong".
"iya apa?".
" seandainya suatu hari nanti kita terpisah, apa kamu masih akan terus mengingat ku?".
"ngomong apa sih kamu vi?".
" hmm aku nglantur ya Li?".
"ya,, sangat melantur...! Aku dan kamu itu SAHABAT selamanya. jadi jarak dan waktu tidak akan pernah memutus persahabatan kita ini, meski kamu tidak berada di sisiku lagi".
"ya... ".
" kalau ada pilihan antara ke selamatan ku atau kamu mati kamu pilih mana?".
Aku sejenak terdiam membisu mendengar pertanyaan sahabatku itu, tidak seperti biasanya dia bertanya seperti itu pada ku. meski sekali pun dia kesal dan ingin memukul ku, tapi tidak pernah dia akan berkata yang menyakitkan hati ku. tapi pertanyaannya kini membuat ku berpikir keras, apa maksut dari semua pertanyaan itu.
kenapa dia berkata seolah akan pergi jauh dari ku suatu hari nanti. aku pun mulai menjawab pertanyaannya itu.
"Tentu, jika aku di suruh memilih kamu atau mati, aku lebih memilih Mati vi". ucap ku dengan tegas
" kenapa? ".
__ADS_1
" karena kamu satu satu nya sahabat yang aku miliki".
"Li... jika suatu hari nanti akan ada sebuah pilihan yang memusingkan mu, kamu harus relakan aku pergi".
" Tidak akan".
"Li.... ".
" ini sudah jadi keputusan hidup dan matiku".
vivi tersenyum haru dan mulai memeluku erat,
"memang... ternyata kau sahabat yang paling setia Li... ". ucap vivi yang memeluku dengan lembut.
" kenapa kamu ajukan pertanyaan semacam itu?". tanya ku yang masih penasaran dengan ucapannya itu.
"Yah... gak tahu vi, rasanya seperti ada yang menginginkan nyawa ku ini?".
" Maksutmu? coba cerita kan perlahan supaya aku faham".
"emm begini semalam aku bermimpi".
" bermimpi... bermimpi apa kamu?".
"tidak tahu, rasanya aku berada di sebuah ruangan dengan mu, dan disana ada sesosok wanita berbaju putih yang ingin membunuh ku, tapi kamu mencoba menghentikannya, sehingga kamu yang terluka. tidak hanya fisik mu yang terluka tapi sukma mu pun ikut terluka karenanya".
" Kamu hanya bermimpi, jangan di ambil pusing". ucap ku mencoba mengacuhkan hal itu.
"Aku merasa semua itu bukan sekedar bunga tidur saja". lanjut vivi mencoba meyakinkan ku.
" keputusan ku tetap sama, kamu prioritas utama ku". jawab ku tegas.
__ADS_1
"Terimakasih Li... kamu memang yang terbaik". ucap vivi pelan
" Sudah, jangan terlalu di fikirkan. kita berjanji kan susah senang kita bersama. jadi jangan terlalu berfikir bahwa aku akan pergi meninggalkan kamu yang sedang dalam bahaya untuk menyelamatkan diriku sendiri".