
Di dalam kediaman Dukh, tiba lah seseorang yang membawa sebuah mutiara. Tuan Dukh terlihat senang dengan ke datangan orang tersebut. Mutiara pun di berikan kepada tuan Dukh tersebut. Dia melihat mutiara tersebut sedekat mungkin dan merasa gembira.
Setelah tuan Dukh melihat dengan perasaan yang penuh gembira tiba\-tiba dirinya menyadari. Terdapat sebuah retakan kecil di mutiara tersebut. Tuan Dukh marah dan membanting mutiara tersebut hingga hancur. Tuan Dukh menginjak mutiara tersebut serta memaki\-maki Sora. Beliau berkata bahwa Sora tidak bisa melakukan pekerjaan yang mudah.
Wajah beliau terlihat kesal, dirinya berpikiran untuk menghukum Sora. Beliau menginginkan untuk menyiksa Sora dengan kutukan segel yang berada di lidahnya. Dirinya berpikiran untuk menyiksa Sora sampai\-sampai kehilangan lidahnya. Sayang segel tersebut tidak bisa di aktifkan karena Sora sangat jauh dari jangkauan sihirnya. Dan beliau pun memikirkan cara lain. Setelah itu beliau mendapat sebuah ide yang menarik, dirinya berencana untuk membunuh Sora dengan kekuatan saudarinya sendiri.
Tuan Dukh memerintahkan penjaga untuk memanggil Siro yang berada di ruangan bawah tanah. Penjaga tersebut bergegas pergi dan melaksanakan perintah tuannya tersebut. Penjaga tersebut menuruni anak tangga dan akhirnya sampai di ruang bawah tanah. Penjaga itu melihat sekelilingnya, dirinya merasa tidak nyaman berada di sana. Penjaga itu pun berjalan mencari Siro dan akhirnya menemukan Siro yang sedang terbaring di sebuah penjara.
Tak lama kemudian penjaga tersebut masuk ke tempat tuan Dukh berada. Tuan Dukh merasa senang dengan kehadiran Siro. Setelah itu tuan Dukh mencoba membujuk Siro untuk menggunakan sihir milikinya. Beliau berkata bahwa saudarinya berada dalam bahaya dan Siro harus menyelamatkan saudarinya tersebut. Siro pun panik dirinya tidak tahu bahwa keadaan saudarinya seperti itu.
Tuan Dukh lalu membisikkan sesuatu kepada Siro. Beliau berkata bahwa Siro harus menggunakan kemampuan sihir yang dimilikinya. Awalnya Siro menolak untuk menggunakan sihir tersebut, dirinya di nasihati oleh saudarinya untuk tidak sekali\-kali menggunakan sihir tersebut. Karena jika Siro terlalu sering menggunakan kekuatan tersebut maka tubuh Siro tidak akan bertahan lebih lama.
Tuan Dukh terus menerus memprovokasinya untuk menggunakan kekuatan tersebut. Beliau terus menerus membuat Siro tertekan, supaya Siro mendengarkan perkataan beliau. Hati Siro mulai bimbang dirinya tidak tahu harus bagaimana, akhirnya pun dia melakukan perintah tuan Dukh untuk menggunakan kekuatan tersebut.
Dengan kondisi Siro yang lemah saat ini, dirinya tidak punya pilihan lain selain menggunakan sihir tersebut. Dirinya juga ingin membantu kakaknya yang sangat ia sayangi. Setelah itu tuan Dukh memerintahkan Siro untuk menggunakan sihir tersebut yang di arahkan kepada kami, tepat tidak jauh dari gereja tua itu.
Siro pun melepaskan kekuatan tersebut kepada kami. Dan Boom ledakan besar terjadi, Siro langsung tumbang tak sadarkan diri. Tubuhnya semakin melemah karena mengeluarkan sihir berskala besar tersebut. Dari kediamannya tuan Dukh sampai\-sampai melihat kobaran api yang besar. Dirinya berpikir bahwa kami tidak mungkin selamat dari serangan tersebut.
Kenyataannya kami selamat dari serangan tersebut. Dan diriku berencana untuk menghabisi, bangsawan tidak berguna ini. Aku menyuruh Ruru untuk menyembuhkan Sora dari Luka\-lukanya. Ruru pun melakukan tugasnya dengan baik dan membuat Sora kembali sehat. Setelah itu Sora bergegas menuju kediaman Dukh dan diriku mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Ruru ingin ikut bersamaku namun aku menyuruhnya untuk tinggal bersama tuan Dalius dan juga Elise. Ekspresi Ruru tampak kecewa dirinya merasa sedih karena aku tinggalkan. “Ruru jika kamu berada dalam bahaya dan diriku tidak bisa tepat waktu untuk menyelamatkanmu maka hatiku akan sakit dan merasa sedih. Kamu adalah orang yang berharga yang aku miliki jadi kumohon mengertilah !” wajah Ruru berubah menjadi merah dan terlihat malu\-malu.
Diriku tidak menyangka buku tentang puisi cinta yang aku baca di dunia tempat asalku ternyata berguna. Akhirnya pun kami pergi ke kediaman Dukh. Dari kejauhan terlihat ada beberapa penjaga di tempat tersebut. Siro berkata bahwa dirinya tidak bisa mengatasi penjaga\-penjaga tersebut. Ia berpikir untuk menyelinap masuk ke tempat tersebut.
Aku pun mendapat sebuah ide saat itu, kami pun berdiskusi dan membuat sebuah rencana. Aku berkata kepada Sora untuk menyelinap masuk dan menyelamatkan adiknya tersebut, sedangkan tugasku adalah untuk mengalihkan perhatian penjaga\-penjaga itu. Sora setuju dengan rencanaku tersebut.
Tuan Dukh yang sedang bersantai di kediamannya tiba\-tiba di kejutkan dengan sebuah ledakan besar. Penjaga pun masuk dan melapor situasi saat itu. Penjaga tersebut berkata bahwa kediaman sedang di serang. Tuan Dukh pun bertanya kembali tentang orang yang menyerang kediamannya itu dan bertanya tentang jumlah mereka. Penjaga tersebut menjawab pertanyaan beliau, dia berkata bahwa yang menyerangnya Cuma 1 orang yaitu seorang pemuda.
Tuan Dukh melihat ke luar jendelanya dan sedang melihat ke arahku. Diriku memukuli banyak sekali penjaga. Setelah itu aku melihat keatas dan menatap wajah tuan Dukh dengan tersenyum. Tuan Dukh terlihat kesal dia memerintahkan kesatria yang paling tangguh untuk berhadapan denganku.
“Berapa banyak yang harus aku lawan ? Sampai-sampai membuat tanganku pegal.” Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang berat. Diriku langsung melihat seseorang berbadan besar yang datang kepadaku. Aku berpikiran bahwa lawan ini cukup tangguh. Dia dan aku berhadapan saat itu dan tidak ada penjaga yang mencoba melawanku. Aku berpikir bahwa ini akan menarik.
Dia terlihat marah dan kesal, dengan sekuat tenaga dia pun maju menyerang kepadaku. Serangannya dapat aku hindari, setelah itu diriku memberikan serangan balik kepadanya. Dengan pukulanku yang tepat mengenai dada orang tersebut, dirinya terpental jauh. Pukulanku membuat baju zirah yang dipakainya berlubang dan membuatnya tidak sadarkan diri.
Setelah melihat kekalahan rekam terkuat itu, para penjaga tersebut tidak berani untuk menyerangku lagi. Aku pun bebas untuk masuk ke dalam rumah tuan Dukh yang besar itu. Setelah masuk aku tidak tahu harus pergi ke mana dulu, tempat tersebut sangat luas dan diriku juga baru pertama kali memasukinya.
Tak lama kemudian diriku mendengar suara jeritan di lantai atas. Suara tersebut terdengar seperti suara Sora. Tanpa basa\-basi lagi aku pun segera pergi ke lantai atas dan menuju tempat Sora berada. Aku menemukan lokasi Sora dan langsung masuk ke dalam. Diriku melihat Sora yang terbaring di lantai dengan kesakitan. Aku pun berlari ke arah Sora dan melihat kondisinya.
__ADS_1
“Sora apakah kamu baik-baik saja ?” Sora membuka matanya dan melihat kepadaku. “Tuan Sheida anda baik-baik saja rupanya” aku pun bertanya tentang apa yang terjadi pada dirinya. “Jadi kamu ya orangnya yang telah mengganggu diriku dan membuat Sora melawan kepadaku !” Terlihat seorang manusia berbadan gemuk dan memegang sebuah batu di tangannya.
Sora berkata bahwa diriku harus berhati\-hati menghadapi tuan Dukh tersebut. Batu itu mempunyai kekuatan yang luar biasa hebat dan bahkan bisa menyerap sihir lawan. Aku pun bertanya kepada Sora tentang keadaan adiknya. Setelah itu Sora menunjukkan adiknya yang sedang berada di lantai dekat orang tersebut. Aku pun berkata Sora bahwa diriku akan menyelamatkan adiknya tersebut dan menyuruhnya untuk tetap di ruangan ini.
“Jadi kau ya yang bernama Dukh itu, aku akan menghabisimu karena mencoba untuk menyakiti Ruru” dengan angkuhnya dirinya berkata “Sapa yang berani menentang tuan Dukh ini, dia harus di hukum ma-” sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya aku pun maju dengan cepat dan memukul wajahnya.
Dirinya pun terpental sampai\-sampai menghancurkan tembok yang berada di belakangnya. Dengan santai aku keluar dari ruangan tersebut dan ingin membuat menyesal karena telah di lahirkan di dunia ini. Wajahnya yang rusak terkena serangku tersebut tiba\-tiba pulih kembali. Batu tersebut memberikan kekuatan yang luar biasa kepadanya. Tuan Dukh merasa kesal dan marah, dia mengeluarkan seluruh kemampuannya kepadaku.
Dirinya melontarkan berbagai jenis sihir, dari api tanah dan air. Dengan kemampuan yang ku miliki, aku bisa menahan serangan tersebut dengan mudah. Karena melihat diriku yang berhasil menahan semua serangan miliknya dan tidak memberikan damage kepadaku akhirnya dia merasa ketakutan. Dirinya memohon ampun kepadaku dan tidak ingin mengulangi lagi perbuatannya. Dirinya menawarkan berbagai hal kepadaku.
Aku tak menghiraukan omongannya sama sekali, diriku mendekat kepadanya dan berbisik di telinganya. “Kau tidak pantas untuk hidup di dunia ini” dengan tatapan yang tajam dan menyeramkan diriku melihat kepada. Dirinya seakan akan melihat bayangku berubah menjadi sesosok iblis yang besar. Aku pun mengangkat tanganku dan akan menyelesaikan pertarungan ini.
Dia pun mengompol dengan tak sadarkan diri. Diriku yang melihat itu jadi tidak ingin melanjutkannya. Aku pun berbalik dan ingin melihat kondisi dua saudari tersebut. Sora melihat ke arahku dan melambaikan tangannya, dirinya terlihat senang bahwa diriku baik\-baik saja. Tak berapa lama kemudian aku merasa aura negatif yang besar. Aura tersebut berkumpul menjadi satu bagian.
__ADS_1
Diriku mencoba mendeteksi aura tersebut, ternyata auranya berkumpul menjadi satu di batu tersebut. Tuan Dukh yang tak sadarkan diri tiba\-tiba melayang. Terlihat sebuah petir berwarna hitam kemerahan masuk ke dalam tubuhnya. Petir tersebut menyatu dengan tuan Dukh dan membuat sebuah bola yang besar. Diriku merasakan hawa yang berbahaya dari dalam bola tersebut. Dan tiba\-tiba tuan Dukh berbuah menjadi monster besar yang mengerikan......