
Sontak kami terkejut saat itu. Tuan yang awalnya adalah seorang manusia tiba\-tiba berubah menjadi seekor monster yang ganas. Aku yang berdiri tidak begitu jauh darinya merasa gemetar, aura yang di keluarkan oleh monster tersebut sangat kuat. Mungkin jika orang biasa yang melakukan hal seperti ini, tubuhnya tidak akan kuat menahan tekanan tersebut.
Entah mengapa monster tersebut hanya diam saja, dia tidak melakukan sesuatu sama sekali. Diriku memasang kuda\-kuda mencoba untu menyerang monster tersebut. Aku berpikir apakah ada semacam reaksi dari kelakuan ku itu. Tiba\-tiba Sora berteriak memanggilku, ia mencoba untuk memperingati diriku. Saat itu aku melihat mulut monster tersebut terbuka. Aku juga tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh monster tersebut.
Tiba\-tiba monster tersebut mengumpulkan semacam mana di dalam mulutnya tersebut. Dirinya bermaksud untuk menghancurkan rumah milik tuan Dukh. Aku merasakan hawa berbahaya dari dirinya jadi aku memberitahu Ruru untuk pergi dari rumah tersebut. Monster tersebut berhasil mengumpulkan mana, dirinya berhasil membuat semacam bola cahaya di dalam mulutnya. Monster tersebut menembakkan bola cahaya itu ke seluruh rumah.
Ternyata Sora berhasil keluar dari rumah tersebut. Dirinya juga menggendong adiknya dan berhasil keluar dengan selamat. Aku pun menyuruh Ruru untuk pergi meninggalkan diriku. Aku berkata kepadanya untuk membawa dirinya dan juga adiknya ke tempat yang aman. Sora sebenarnya tidak ingin meninggalkan diriku, namun dengan dirinya yang masih membawa adiknya itu. Ia tidak sanggup bertarung sambil melindungi adiknya. Jadi ia akhirnya pergi meninggalkan ku. Namun sebelum ia pergi dirinya sempat berkata\-kata kepadaku. Bahwa ia akan kembali dan membatuku, jadi ia berpesan kepadaku untuk tidak terbunuh sebelum dirinya datang.
Dengan percaya diri aku membalas perkataan, “aku bisa tangani ini, mungkin saat kau datang monster tersebut akan mati duluan” sambil tertawa di akhir kalimatku. Sora menggendong adiknya dan pergi ke tempat Ruru berada. Ia sempat berbisik mengucapkan kata bodoh kepadaku. Diriku berpura\-pura tidak mendengar perkataan Sora, aku memang tahu kalau diriku bodoh jadi aku tidak bisa membantahnya.
Akhirnya Sora pun pergi meninggalkan diriku. Saat itu aku berpikiran bagaimana cara mengalahkan monster ini. Monster tersebut mengaum kepadaku dan pertarungan kami akan segera di mulai. Diriku meloncat ke arah wajah monster tersebut dan mencoba untuk memberikan pukulan kepadanya. Akan tetapi tangannya cukup lincah dan menampar diriku hingga jatuh ke tanah. Diriku sempat berbisik dan menghela nafas. “Hah... Ini tidak akan mudah” sekali lagi diriku maju untuk menyerang monster tersebut. Kali ini aku berhasil mendaratkan sebuah seranganku.
Akan tetapi kakinya cukup keras, dia seperti tidak menerima pukulanku sama sekali. Beberapa skill aku gunakan melawanya. Namun hanya sedikit sekali damage yang diterima oleh monster tersebut. Pukulan demi pukulan aku arahkan, serangan demi serangan aku lepaskan. Namun badan monster tersebut terlalu keras dan kuat, sehingga seranganku seperti tidak berdampak sama sekali.
Setelah itu monster tersebut terdiam, dirinya tiba\-tiba memasukkan tangannya ke dalam tanah. Monster tersebut mencoba untuk melempari diriku dengan tanah. Diriku berhasil menghindari lemparannya tersebut. Dan setelah beberapa lemparan, tiba\-tiba batu yang di arahkan padaku berhenti. Aku pun penasaran dan melihat monster tersebut. Monster itu memegang sebuah batu besar ditangannya. Setelah itu dirinya meletakkan batu tersebut di hadapannya.
Aku hanya memperhatikan monster tersebut, diriku juga tidak tahu apa yang akan di lakukan olehnya. Monster tersebut tiba\-tiba menepukkan tangannya di atas batu. Diriku terkejut dengan tingkah lakunya, diriku terus memerhatikan monster tersebut. Terlihat di sekeliling batu tersebut ada semacam cahaya yang berwarna ungu. Cahaya itu terus menerus mengelilingi batu tersebut sampai membuat ukurannya sedikit mengecil.
__ADS_1
Aku masih tidak tahu monster tersebut ingin melakukan apa. Diriku terus menerus memperhatikan tingkah lakunya. Tiba\-tiba terdengar sebuah suara di dalam kepalaku. Suara tersebut memintaku untuk segera menghindar menjauhi monster tersebut. Dan saat diriku masih fokus dengan suara tersebut di saat yang sama monster tersebut mengaum dengan keras. Batu tersebut menjadi retak dan hancur.
Serpihan batu tersebut terpencar ke seluruh arah. Untungnya diriku selamat karena bersembunyi di balik batu yang di lemparkannya. Asap menghalangi pandanganku, diriku tidak dapat melihat dengan jelas keadaan monster itu. Setelah asapnya sedikit menghilang diriku melihat ada sebuah pedang yang melayang berada di depan monster tersebut. Saat itu aku berpikiran bahwa selama ini monster tersebut berencana untuk membuat semacam senjata.
Monster tersebut memegang pedang itu dan berencana menebas diriku dari kejauhan. Suara yang berada dalam kepalaku itu lagi\-lagi memperingati diriku untuk menghindari serangan yang akan di lepaskan oleh monster tersebut. Monster itu mengayunkan pedangnya ke arahku, sampai\-sampai membuat udara yang di sekelilingnya menjadi semacam tornado. Tekanan tornado itu terlalu kuat, diriku mencoba untuk menahannya namun tidak sanggup sampai\-sampai membuat tubuhku ikut terbawa arus anginnya.
Monster itu melompat ke arah tornado dengan diriku yang berada di dalamnya. Di lihat dari sisi dalam tornado tersebut, terlihat sebuah mata yang besar sedang menatapku. Setelah itu sebuah pedang besar di jatuhkan kepadaku. Aku tidak bisa menghindar dari serangan tersebut, jadi satu\-satunya hal yang aku pikirkan adalah mencoba untuk menahan serangan itu. Serangannya sangat kuat sampai\-sampai membelah angin tornado menjadi dua. Diriku terjatuh ke tanah dengan sangat keras. Aku bahkan merasakan bahwa tulang punggungku retak.
Monster tersebut turun dan melihat ke arahku. Dengan keadaan yang terluka diriku mencoba untuk bangkit kembali. Diriku menatap monster tersebut dengan wajah yang berdarah darah. Monster tersebut berjalan mendekati diriku. Dengan santainya dirinya menyeret pedang tersebut di belakangnya. Aku harus bertahan bagaimana pun caranya. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Tak lama setelah itu pergerakan monster tersebut berhenti. Ia tiba\-tiba terjatuh di tanah dan tidak bisa bangkit lagi. Dari langit tiba\-tiba turun Ruru dan Sora, Ruru terkejut dengan kondisiku saat itu, ia khawatir dan merasa sedih karena melihat diriku yang terluka. Sora memarahi ku karena terluka parah, ia berkata bahwa diriku terlalu bodoh. Sementara itu Ruru mencoba untuk menyembuhkan diriku. Ia berusia sekuat tenaga untuk menyembuhkan luka\-lukaku saat itu.
Ternyata serangan sihir mempan terhadapnya. Diriku kembali pulih dan ingin membalas perbuatannya kepadaku tadi. Tanpa basa\-basi lagi diriku ingin mencoba menggunakan kekuatan baru yang kudapat. Diriku pun mengeluarkan Fire arms dan mengaktifkan skill lanjutannya. Setelah mengaktifkan skill lanjutan tiba\-tiba jantungku merasa kesakitan, dadaku mulai sesak dan tiba\-tiba tubuhku terjatuh di tanah. Ruru dan Sora sangat terkejut saat melihatku terjatuh. “Sheida\-sama, ada apa ?, Sheida\-sama, Sheida\-sama !!!” diriku tidak sanggup menahan kesadaran lagi. Perlahan lahan mataku tertutup dan akhirnya aku pun tertidur.
“Kakak aku tidak bisa menahan lebih lama lagi” Sora merasa kebingungan saat itu. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa. “Bertahanlah Siro !!” Satu\-satunya yang terpikirkan oleh Sora yaitu menghabisi monster tersebut. Dia bergegas maju dan menyerang monster itu. Sayangnya dia terlambat.
Monster tersebut marah dan mengaum dengan kencang. Dia pun berdiri menghempaskan skill yang membuatnya tidak bisa bergerak. Sora yang berada di dekatnya juga ikut terhempas karena angin yang begitu kuat. Setelah itu monster tersebut mengambil pedangnya dan melihat ke arah kami. Dia mencoba untuk menghabisi nyawa kami.
Siro mencoba menyerang monster tersebut dari belakang. Serangan Siro berhasil mengenai bagian leher monster tersebut. Akan tetapi dampak dari serangan Siro tidak memberikan damage sama sekali. Monster tersebut tampak kesal karena perbuatan Siro. Dia berbalik arah dan ingin menghabisi Siro lebih dulu.
__ADS_1
“Siro lari !!” Monster tersebut mulai mengejar Siro. Sora mencoba untuk mengejarnya. Monster itu membuka mulutnya dan menembakkan bola api ke arah Siro yang tengah berlari. Bola api itu meledak di dekat Siro, dirinya terpental dan dan berguling di tanah. Setelah itu ia tidak sadarkan diri lagi. Emosi Sora langsung memuncak, dirinya terlihat marah dan kesal karena melihat adiknya yang terluka.
Dengan sekuat tenaga Sora meloncat ke bagian leher monster tersebut dan mulai menebaskan pedangnya. Dengan sangat emosi Siro mencoba untuk membalas perbuatan monster tersebut terhadap adiknya. Ia menyerang dengan membabi buta sekali, monster tersebut mencoba untuk meraih Sora yang berada di belakangnya. Dia mengayun ayunkan badanya mencoba untuk menghempaskan Sora dari tubuhnya.
Sora dapat di hempaskan dari tubuh monster tersebut. Dirinya melayang berada di atas monster tersebut. Sora kembali kepada monster tersebut dan menyerang wajahnya. Ia menusuk salah satu mata Monster tersebut. Monster tersebut terlihat kesakitan, ia merasa marah dan menggenggam Sora dengan kedua tangannya. Sora tidak dapat melepaskan diri dari genggaman monster tersebut.
Monster itu membanting tubuh Sora ke tanah sampai membuat tubuhnya terpental ke arah kami. Wajah Sora penuh dengan darah, badanya sudah tak bisa digerakkan lagi. Monster tersebut mengambil pedangnya dan berjalan ke arah kami. Dia terlihat sudah kelelahan dan kesakitan. Monster tersebut mencoba untuk menghabisi kami secara bersamaan.
Monster tersebut pun berada tepat di depan kami. Ruru yang melihat teman\-teman sudah tidak berdaya lagi mulai berdiri. Dirinya maju dan berhadap hadapan dengan monster tersebut. Monster melihat Ruru yang berada di depannya merasa muak. Dia mencoba untuk menebas tubuh Ruru menjadi dua bagian. Ruru ternyata menggunakan sebuah Barrier untuk melindungi kami. Dirinya berusaha bertahan melawan serangan monster tersebut.
Monster itu terus menyerang Ruru tanpa belas kasihan, dia mencoba untuk menghancurkan pelindung yang Ruru buat. Monster itu tiba\-tiba berhenti dan terdiam. Lagi\-lagi dia mencoba untuk mengumpulkan mana di dalam tubuhnya. Dalam sekejap pedang yang di tangannya mengeluarkan cahaya berwarna ungu kehitaman. Dia mencoba untuk menghancurkan pelindung Ruru dengan kekuatannya tersebut.
Dengan sekali tebasan dari monster itu pelindung Ruru langsung hancur. Ia juga terpental karena mencoba menahan serangannya. Ruru sudah tidak bisa melakukan apa\-apa lagi, Sora juga tidak bisa bergerak sama sekali. Dan sedangkan diriku pingsan cukup lama. Monster itu mendekat kepada Ruru dan mengangkat pedangnya. Ruru menutup matanya dan memanggil namaku di dalam hatinya. “*Sheida\-sama*”
Monster tersebut pun mengayunkan pedangnya kepada Ruru dan membuat tanah di sekitarnya menjadi berasap. Monster itu terlihat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Monster itu melihat diriku yang tiba\-tiba bangkit dan menahan serangannya hanya dengan satu tangan. Ruru perlahan\-lahan membuka kedua matanya dan juga terkejut dengan apa yang ia lihat. Aku pun melihat ke arah monster tersebut dengan mata yang berwarna merah. Diriku pun memberikan sebuah senyuman yang menyeramkan kepada monster tersebut.......
__ADS_1