Smartphone Hero

Smartphone Hero
Monster bergaris


__ADS_3

Suara hantaman monster pun terdengar keras, diriku menghindari serangan – serangan tersebut dan mencoba untuk mencari jalan keluar dari kerumunan itu. Namun hal seperti itu tidaklah mudah, bagiku mencoba untuk keluar saja sangat merepotkan, dan juga setiap kali ada celah untuk pergi, pasti salah satu monster itu menyerang ku sampai membuatku sulit untuk bergerak.


“Sialan tidak ada habis – habisnya ini !” Ucapku geram.


Di dalam kepalaku sudah mulai kacau, diriku tidak bisa berpikir jernih sama sekali. Hanya instingku saja yang berbicara saat itu. Satu – satunya cara untuk melewati kerumunan monster - monster ini adalah dengan mengalahkan mereka semua. Dengan cepat diriku kembali ke tengah – tengah mereka dan melihat sekitar, waktu itu mataku hanya tertuju kepada monster dengan lambang garis – garis itu. Mungkin jika diriku mengalahkannya monster – monster ini akan membiarkanku pergi.


“Di mana ? Di mana dia ?” Ucapku sambil mencari monster tersebut.


Tak lama setelah itu, diriku melihat dari kejauhan ada sesosok monster tersebut yang hanya diam melihat dengan santainya. Dirinya berada jauh dari kerumunan tersebut sambil melihat teman – teman monsternya menyerang ku.


Setelah mengetahui lokasinya, diriku segera bergegas dan ingin menghabisi nyawa monster tersebut. Dengan cepat diriku berlari menuju ke arahnya, namun mendekati monster tersebut lebih sulit dari pada mencoba keluar dari kerumunan monster – monster ini.


Setiap diriku hendak mendekatinya, tiba – tiba ada satu monster yang menghadang di depanku. Sekuat tenaga diriku terus maju dan menerjang ke arah monster tersebut. Hindaran demi hindaran aku lakukan, pukulan demi pukulan aku kerahkan, namun hal tersebut tidak berpengaruh sama sekali.


Meskipun diriku berusaha sekuat mungkin untuk menghampiri monster tersebut, namun monster yang menghalangi jalanku sangat tidak karuan banyaknya. Bagaikan seperti bertarung dengan angin yang tidak ada habisnya.


Karena keadaan yang sulit sekali untuk ditangani, diriku beranggapan bahwa ada satu cara untuk keluar dari kerumunan tersebut dan menuju ke monster aneh itu. Dengan cepat diriku menghindar dari serangan monster – monster tersebut dan melompat mundur sampai ke titik tengah mereka.


Sejenak mereka berhenti sesaat waktu diriku menghindar dan kembali ke tengah – tengah mereka. Melihat mereka yang hanya diam beberapa detik itu, membuat kesepakatan emas untukku supaya bisa pergi dari monster – monster tersebut.


Dengan tenaga yang cukup kuat diriku memukul tanah dan membuat tanah tersebut bergetar. Guncangan tanah itu membuat para monster sulit untuk bergerak, termasuk diriku. Rencana yang aku pikirkan adalah membuat tanah yang mereka pijak menjadi roboh, dan itulah satu – satunya kesempatan yang aku miliki.

__ADS_1


Tak lama setelah guncangan tersebut, tanah yang mereka pijak mulai runtuh, para monster tersebut jatuh ke dalam tanah secara serentak. Sedangkan itu, diriku berdiri di tengah – tengah mereka dengan selamat.


Karena sudah menyingkirkan monster – monster tersebut, diriku segera melompat dan pergi menuju ke monster bergaris itu. Waktu diriku melompat ada seekor monster yang menyemburkan asam dari mulutnya. Karena serangan dadakan tersebut, sebagai besar diriku menghindarinya, namun bagian pundakku terkena cairan tersebut dan terasa sakit dan panas, sampai – sampai membuat sebagian bajuku rusak dan kulitku serasa terbakar.


Bekas dari cairan tersebut, membuat tubuhku yang terkena menjadi merah dan sakit, sehingga pergerakan tanganku menjadi terbatasi karena hal itu. Akan tetapi rasa sakit yang aku alami ini, tidak mengalahkan rasa kesal dan marah karena telah menculik Ruru.


Dengan pelan – pelan diriku berjalan ke arah monster tersebut. Semakin lama langkah kakiku semakin cepat, dengan cepat diriku berlari sekencang mungkin lalu melompat ke arah wajah monster tersebut dan segera ingin memukulnya tepat di wajah.


Pukulanku ternyata berhasil mengenai mukanya, namun saat diriku berpikir hal itu ada efeknya tampaknya malah sebaliknya. Pukulanku memang mengenai wajah monster tersebut, namun efek dari pukulannya tidak berasa sama sekali, melainkan malah membuat wajah monster tersebut semakin geram.


Melihat ekspresi yang menakutkan, diriku segera menarik tanganku dari wajahnya dan segera mundur ke belakang. Akan tetapi meskipun monster tersebut besar, kecepatan geraknya luar biasa cepat.


Dengan cepat tangan monster tersebut memegang tanganku, dirinya berdiri sambil mengangkat diriku sampai wajah kami saling bertatap tatapan. Dengan jarak yang sedekat itu, diriku melihat wajah monster tersebut dengan penuh cemas, alangkah bagusnya jika pergelangan bahuku bisa digerakkan, namun hanya ingin mengangkatnya saja membuat bahuku terasa sakit sekali. Jadi diriku hanya diam bertatap tatapan dengan monster tersebut.


Bantingan tersebut membuat tubuhku mengeluarkan suara tulang yang remuk, dan juga diriku sempat memuntahkan darah karena hal tersebut. Monster tersebut sangat kuat ditambah lagi diriku yang tidak di posisi high performance untuk berhadapan dengannya.


Monster tersebut melemparkan tubuhku atas dan dengan sangat kuat memukulku dengan satu tangannya yang besar. Tubuhku terpental cukup jauh sampai merusak bangunan di kota tersebut, akibat hantaman tersebut diriku mulai agak pusing dan merasa lelah sekali. Entah apakah diriku bisa bertahan atau tidak namun bola mataku serasa ingin menutup saja.


Perasaan kecewa dalam diriku mulai menguap, diriku tidak bisa mengalahkan monster dan belum bisa menyelamatkan Ruru, sebelum mataku sempat tertutup, diriku meminta maaf kepada Ruru karena tidak bisa menyelamatkannya.


“Maaf Ruru” ucapku sambil membayangkan wajahnya.

__ADS_1


Entah mengapa saat diriku pingsan, tubuhku serasa melayang di udara, mimpi yang sama selalu terulang kembali, dan entah mengapa mimpi seperti ini serasa sangat aku kenali.


“Kau kembali kesini lagi !”


Suara tersebut pun tiba – tiba muncul, diriku seketika melihat sekitar dan mencari sumbernya. Saat diriku mencoba mencari sumbernya, tiba – tiba muncul secara mengejutkan seorang gadis kecil tepat di depan mataku.


“Hai, kita bertemu lagi” ujar gadis tersebut.


Karena munculnya yang tiba – tiba, diriku sontak terkejut dan malah memukulnya.


“Aduh, kau ini apa – apaan. Kenapa kau memukulku” ucap gadis tersebut sambil mengelus pipinya.


Karena merasa tidak enak, diriku meminta maaf pada gadis tersebut sekaligus bertanya tentang dirinya. Gadis itu mengatakan bahwa diriku telah melupakannya, namun dirinya tidak peduli dan malah berbicara mengenai Ruru.


“Dari pada kau menanyakan tentang diriku, lebih baik kau cepat menolong rekan kadalmu itu” ujar gadis tersebut dengan cueknya.


Mendengar kalimat tersebut diriku langsung mengingat kembali, dan segera ingin menyelamatkan Ruru, namun ada sedikit masalah tentang hal tersebut, bagaimana cara ku untuk keluar dari tempat ini. Gadis tersebut pun mendekat kepadaku lalu berkata dengan suara yang pelan.


“Kau ingin keluar dari sini ?” tanyanya.


Aku pun mengangguk kepada, mataku terlihat membesar karena keseriusanku. Awalnya gadis tersebut menatapku dengan pandangan yang tidak meyakinkan, setelah itu dirinya setuju untuk menolongku.

__ADS_1


Aku pun bertanya kepadanya tentang apa yang harus diriku lakukan. Gadis tersebut pun tersenyum dengan liciknya, setelah itu dirinya mengangkat tangannya sampai ke atas kepalanya. Karena penasaran diriku pun melihat ke arah tangannya. Tanpa aba – aba dan peringatan, gadis tersebut tiba – tiba menamparku dengan keras sambil berkata : BAGUNNNNNNN.....


Entah mengapa hal tersebut malah berhasil, diriku tiba – tiba tersadarkan diri sambil melihat ke arah langit biru. Tamparan gadis tersebut sangat menyakitkan, namun anehnya diriku merasa tenagaku pulih seutuhnya. Sekarang diriku bisa melawan monster bergaris itu dan segera menyelamatkan Ruru.


__ADS_2