
Cahaya putih pun menyilaukan penglihatanku, cahaya tersebut bersinar cukup terang selama sesaat dan memudar dengan cepat. Setelah cahaya tersebut hilang, diriku tiba di sebuah taman yang indah. Taman itu memiliki beragam tumbuhan bunga dan juga pepohonan. Aku pun terpukau melihat keindahannya, seraya diriku berada di dalam negeri dongeng.
Tak lama setelah itu, tiba – tiba saja diriku melihat segelintir bayangan yang kebetulan lewat. Bayangkan tersebut terlihat seperti Ruru namun dalam keadaan anak – anak. Aku pun mencoba membuntutinya dari belakang dan ingin berbicara dengannya.
Akan tetapi, laju berjalannya Ruru kecil sanggatlah cepat. Ia seakan berlari sambil tertawa lepas seperti tanpa ada hambatan dalam dirinya. Langkah demi langkah aku lakukan, meskipun tubuhku berlari sekencang mungkin berusaha untuk menyusulnya namun diriku selalu saja kehilangan Ruru di pembelokan jalan.
Sampai pada akhirnya diriku terus mengikuti Ruru sampai pada titik di mana ia sedang berlari ke arah seseorang yang tengah duduk di bawah pohon yang rindang. Ruru kecil berlari ke arah orang tersebut sambil terus tertawa riang, ia seketika memeluk orang tersebut dan berbaring di pangkuannya.
Karena merasa penasaran, aku pun mencoba mendekati mereka berdua. Diriku merasa heran siapa gerangan yang bisa membuat Ruru tersenyum seperti itu. Setelah cukup dekat dengan mereka, aku pun langsung melihat ke arah orang tersebut dan seraya terkejut memandangnya.
Orang yang aku lihat di depanku ini mirip sekali dengan Ruru, hanya saja di bagian telinga dan rambutnya saja yang berbeda. Telinga dari wanita tersebut sangat panjang melebihi telinga Ruru yang normal, dan corak dari rambutnya berwarna perak ke putih – putihan.
Firasatku mengatakan bahwa orang tersebut adalah ibu dari Ruru. Senyumannya yang memancarkan aura kasih sayang yang luar biasa besarnya kepada Ruru membuatku merasa tenang. Entah mengapa diriku serasa damai melihat senyuman dari beliau.
Tak lama setelah itu mata beliau yang awalnya melihat ke arah Ruru yang sedang tertidur di pangkuannya tiba – tiba menatapku. Beliau melihat ke arahku dan mulai bertanya tentang diriku.
“Siapakah kamu ?”
Aku pun terkejut mendengar ucapannya. Aku yang hanya berpikiran bahwa tempat yang aku datangi ini semacam ingatan yang telah lalu, namun anehnya kenapa ingatan ini bisa berkomunikasi baik denganku.
“Eh, tunggu kau bisa melihatku ?”
__ADS_1
“Tentu saja aku bisa melihatmu”
“Tunggu bukannya ini semacam ingatan kejadian di masa lalu ? Kenapa kita bisa berkomunikasi dengan baik ?”
“Mungkin ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kau sampaikan kepadaku, namun hal itu lebih baik di tunda terlebih dahulu”
“Hmm ?” ujarku sambil mengerutkan keningku.
“Bukankah tujuanmu itu untuk mengembalikan Ruru ke dirinya yang dulu ?”
“Tunggu kau tahu cara mengembalikannya seperti sedia kala ?”
“Hal itu bisa dibilang iya, namun ada semacam resiko besar yang harus kau ambil !”
“Akan aku lakukan ! Meskipun harus mengorbankan nyawaku, jika hal ini untuk Ruru maka aku siap untuk konsekuensinya !”
Wanita yang mirip Ruru itu pun memandang ke wajahku dengan serius, dirinya melihat ke arah mataku bahwa diriku tidak berbohong kepadanya. Wanita itu merasa bahwa diriku memiliki tekad yang besar untuk menyelamatkan Ruru.
“Hmm, jadi begitu ya. Aku akan mengajarkan caranya kepadamu namun hal ini bisa saja mengancam nyawamu ! Apa kau masih mau melakukannya ?”
“Iya” Ujarku tanpa keraguan.
__ADS_1
“Kalau begitu kau harus pergi ke tengah labirin itu, di sana terdapat Ruru yang sedang tertidur, bangunkanlah ! Maka ia akan kembali sadar dan menjadi sosok seperti dirinya yang dulu”
Saat aku melihat labirin yang di tunjuknya, perasaanku mulai tak sabaran. Diriku serasa di tarik dan ingin cepat – cepat menyelesaikan tantangan tersebut. Dengan langkah yang penuh tekad aku pun berjalan ke labirin tersebut dan bersiap untuk membangunkan Ruru.
Tepat sebelum keberangkatanku, wanita tersebut menyampaikan bahwa akan ada makhluk yang akan mencegahku membangunkan Ruru, dan jika diriku gagal atau kalah melawannya maka diriku akan mati di tempat tersebut.
Aku pun sampai di depan labirin tersebut, sesaat diriku berdiri di depan pintu masuknya saja sudah bisa merasakan aura keburukan dari dalamnya. Aura tersebut terasa seperti sebuah angin yang berembus dengan dingin dan mencekam. Akan tetapi, aku tidak punya pilihan lain selain memasukinya.
Sesaat aku melangkahkan satu kaki masuk ke dalam labirin, udara yang keluar makin sedikit kencang dan pengap, serasa udara itu mendorongku untuk menjauh dari labirin. Namun aku masih tetap melangkah kakiku untuk memasukinya lebih dalam lagi.
Di dalam labirin, aku pun berjalan dengan penuh ke hati – hatian. Sambil waspada, aku pun melihat kanan dan kiri untuk menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tapi sejauh ini, tidak ada tanda – tanda sesosok makhluk atau pun monster yang muncul, melainkan hanya kesunyian yang menyelimuti di sekitarku.
Melihat dari situasi yang tenang seperti itu, aku pun sedikit menurunkan kewaspadaanku untuk sesaat, namun saja hal itu malah membuatku terkena serangan kejutan oleh sesosok makhluk yang tidak aku ketahui sama sekali keberadaannya.
*Bug,Bug,*
Aku pun tersungkur di tanah karena serangan dadakan tersebut. Saat itu aku pun langsung berdiri dan melihat ke sekitar area tersebut. Akan tetapi tanda – tanda sebuah makhluk pun tidak ada sama sekali, di tempat itu hanya ada aku seorang dan suara angin yang berembus ke arahku.
Hal itu membuatku keheran – heranan, aku merasa ingin menggaruk – garuk kepalaku dan bertanya siapa yang menyerangku tadi. Tak lama dari itu aku terkena serangan yang selanjutnya. Tubuhku terdorong ke depan dan hampir jatuh lagi ke tanah.
Lagi – lagi aku pun melihat ke arah belakangku, namun hal yang sama terulang lagi. Diriku tidak melihat adanya tanda – tanda seekor monster atau pun manusia yang berada di tempat tersebut melainkan diriku. Lalu aku pun memutar otakku, mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang sedang aku lawan ini dan kenapa aku tidak bisa menemukannya.
__ADS_1
Dan untuk yang kedua kalinya, embusan angin pun melewati tubuhku, namun kali ini perbedaannya adalah angin tersebut terasa seperti sedang mencakarku. Karena merasa aneh dengan angin itu aku pun mencoba menghempasnya dengan kekuatanku dan hasilnya keluarlah sesosok makhluk yang mirip kelelawar yang mempunyai taring yang tajam dan juga ekor yang runcing.
Melihatnya yang tiba – tiba saja muncul dan menyerangku dengan keadaan seperti itu membuatku ingin sekali menghabisinya, akan tetapi kawanan dari monster tersebut muncul secara bergerombol dari dalam dinding labirin. Aku pun tak merasa bisa untuk mengalahkan mereka, dan diriku tidak punya waktu untuk melayani mereka semua karena waktuku sanggatlah terbatas dan harus segera untuk menyadarkan Ruru. Karena itu aku pun memutuskan untuk lari dan bergegas menuju ke tengah – tengah labirin yang memuakkan ini.