Smartphone Hero

Smartphone Hero
Ending S1


__ADS_3

Sehabis menjelaskan perkara – perkara penting, King Undead tersebut pun menghilangkan, dan secara keseluruhan sihir penghenti waktu yang di gunakannya tiba – tiba terlepas dan akhirnya dunia kembali seperti semula.


Setelah aliran waktu telah kembali seperti semula, Ruru pun kembali berdiri dan melihat orang – orang di sekitarnya. Ia terlihat senang saat segala sesuatunya kembali seperti semula, namun ada hal yang belum di pastikan olehnya yaitu keberadaan tentang sesosok orang yang dicintainya. Setelah mengingat perkataan King Undead itu ia akhirnya kembali duduk di sampingku sambil mencoba memanggil – manggil namaku.


“Sheida-sama ? Sheida-sama ?” Ujarnya dengan suara lembut yang penuh dengan harapan.


Secara bersamaan, saat diriku berada dalam ambang kematian. Aku pun melihat sesosok bayangan yang cerah menerangi penglihatanku. Bayangan tersebut bagaikan sesosok bidadari yang datang membawa sayap yang putih bersih dan hendak memelukku dengan erat.


Bidadari tersebut seakan mencium bibirku dan membuat tubuhku serasa panas terbakar. Karena hal itu aku pun serasa di tarik ke dalam cahaya tersebut dan menyeberangi kegelapan yang pekat. Dengan sesosok wanita cantik yang indah aku pun di bawa pergi ke dunia baru sesaat sebelum seseorang tengah memanggilku.


Suara panggilan tersebut terdengar familier sekali. Diriku mencoba mengingat siapakah orang yang memanggilku ini. Dalam hal itu sesosok wanita cantik tersebut berkata kepadaku, ia mengucapkan sebuah perkataan yang sama sekali tidak bisa aku dengar, namun anehnya entah mengapa aku bisa mengerti apa yang di ucapkannya.


Sesosok wanita cantik tersebut seraya berkata kepadaku, bahwa sudah waktunya diriku untuk bangun. Karena orang yang sedangku tunggu – tunggu berada di depanku. Aku pun merasa kebingungan dengan ucapannya, diriku seraya ingin membalas perkataannya sebelum sebuah cahaya yang terang menyilaukan pandanganku tentangnya.


Setelah cahaya tersebut redup, aku pun mulai membuka kedua mataku di dunia sambil melihat sesosok bayangan yang berada di sampingku. Bayangkan tersebut memanggil – manggil namaku dan membuatku penasaran siapakah dia sebenarnya ini.


Sedikit demi sedikit bayangan tersebut pun terlihat lebih jelas lagi. Pandanganku yang awalnya hanya melihat sesosok makhluk yang hitam pekat, tiba – tiba saja terlihat wujud manusianya. Dan saat diriku melihat ke arahnya dengan jelas, aku pun menyadari bahwa orang yang tengah memanggil namaku ada Ruru, yaitu sesosok wanita yang aku sayangi keberadaannya.


“Ruru ?”


Melihat mataku kembali terbuka, Ruru pun mengenakan air matanya. Ia seakan tak kuat menahan kesenangannya saat melihat diriku sadar kembali. Dengan rasa yang penuh kerinduan, Ruru pun memeluk tubuhku sambil menangis bahagia tepat di dadaku.


Melihat Ruru yang tengah menangis, sontak pun membuat diriku terkejut. Apa yang sedang terjadi dan kenapa ia sampai menangis di dadaku. Sesaat setelah pikiran tersebut muncul, ingatan demi ingatan pun terlintas dalam pikiranku. Diriku mengingat bahwa Ruru yang satunyalah ya g membunuhku dan seingatku itu diriku sudah mati. Namun kenapa diriku bisa selamat ?

__ADS_1


Setelah itu aku pun menunggunya selesai melepaskan rindunya kepadaku. Dalam dekapan yang hangat, aku pun memeluk Ruru sambil menyemangati dirinya.


“Sudah – sudah, aku sangat senang kau bisa selamat”


Ruru pun menggelengkan kepalanya, ia seakan menyesal dan meminta maaf kepadaku karena telah menusuk tubuhku.


“Maaf, maaafkan aku Sheida-sama, aku seharusnya tidak melakukan hal itu kepadamu” Ujarnya sambil terisak suara tangisnya.


Aku pun mencoba untuk duduk saat itu, diriku mencoba untuk menenangkan hatinya yang tengah bimbang. Sambil mengelus – elus kepalanya, aku pun berkata kepadanya bahwa segala sesuatu yang telah terjadi adalah sebuah kenangan dan jika kenangan tersebut adalah sesuatu kenangan yang buruk maka lupakanlah.


Mendengar kalimat tersebut Ruru pun memberhentikan Isak tangisnya. Ia seketika menghapus kedua air matanya dan kembali tersenyum dengan wajah indahnya. Melihat sesuatu yang indah tersebut membuat hatiku menjadi tenang dan tenteram, seakan akan penat dan lelah hilang di telan keindahannya.


Tak lama setelah kejadian tersebut, tiba – tiba ada seseorang yang berlari dan memelukku saat diriku tengah berdiri. Aku pun terjatuh kembali ketanah sambil mendekap seorang wanita yang tengah menangis.


“Sheida-sama, siapa wanita ini ?”


“eh, begini Ruru ! Gadis ini adalah Selda, ia adalah seorang wanita yang aku selamatkan dari monster waktu lalu”


“Owh, lalu kenapa dia sampai memelukmu seperti itu ?”


Dalam heningnya suasana, aku pun tidak tahu harus berkata apa saat itu. Sesaat sebelum Selda berbicara suatu hal yang membuat suasananya makin tambah rumit.


“Syukurlah, Suamiku baik – baik saja”

__ADS_1


Mendengar kalimatnya yang begitu tiba – tiba, membuatku terdiam begitu saja. Dalam pikiranku, kalimat tersebut sedang dalam proses pencernaan sebelum akhirnya aku sadar mengenai intinya.


“Hah !? Kau ngomong apa barusan, jangan bercanda !”


“Hmm, jadi sudah menjadi seorang suami ya” ujar Ruru dengan mata yang di sipitkan.


Ruru pun merasa cemburu karena hal tersebut, ia seakan – akan menentang dan meminta penjelasan lebih lanjut mengenai pernyataan tersebut.


Sebelum sempat aku menjelaskan permasalahan itu, Selda pun tiba – tiba saja berdiri dan berjalan ke arah Ruru. Ia seakan akan ingin mengakrabkan dirinya dengan Ruru memalui situasi yang canggung tersebut.


“Kau pasti Ruru ya, salam kenal aku adalah Selda, Calon istri dari Sheida-Kun” ujar Selda sambil menjulurkan tangannya mencoba untuk bersalaman dengan Ruru.


Ruru yang tiba – tiba mempunyai firasat bahwa Selda sedang berencana untuk menyatakan perang dengannya. Ia seolah olah berkata bahwa diriku akan menjadi miliknya. Dengan membalas sebuah senyuman, Ruru pun menyalami tangan Selda sambil memperkenalkan dirinya.


“Aku adalah Ruru, salam kenal” ujar Ruru dengan memperlihatkan mata tajamnya.


Ruru yang berkata demikian singkatnya seperti mempunyai arti lain tentang kalimatnya tersebut. Dan entah mengapa ia seolah olah berkata dengan intuisinya bahwa hal yang diinginkan Selda tidak akan terjadi.


Suasana semakin rumit saat itu, diriku merasa lelah dan tak tahu harus berbuat apa kepada keduanya. Aku hanya bisa terdiam dan pasrah akan segala sesuatu yang di tetapkan oleh mereka.


Perang pun akhirnya terselesaikan, kami akhirnya turun dari tempat yang tinggi tersebut dan di sambut meriah dengan petualangan – petualangan lainnya yang ikut serta dalam pertempuran tersebut. Kami akhirnya kembali dengan selamat dan seketika ingin pulang dan merayakannya.


Sebelum diriku beranjak dari tempat tersebut, aku pun menoleh ke belakang merasa bahwa ada sesuatu yang kurang atau terlupakan. Aku pun hendak mencarinya sebelum sebuah notifikasi muncul dalam kepalaku.

__ADS_1


Notifikasi tersebut mencentang sebuah misi utama dengan memperoleh kekuatan iblis. Dan setelah notifikasi itu muncul tiba – tiba saja dadaku merasakan sesuatu yang panas sehingga terasa membakar tubuhku.


__ADS_2