
Setelah terjatuh beberapa kali, diriku berusaha untuk bangkit kembali. Aku pun berdiri tegak sambil menatap tajam ke arah musuhku, yaitu monster Hybrid itu. Diriku harus mengejar Ruru dan menyelamatkannya, namun sebelum hal tersebut kulakukan. Diriku harus mengalahkan monster ini dan segera menyusulnya.
Aku pun memanggil serigala ku dan memintanya untuk membantuku mengalahkannya.
“Hei Serigala, bantu aku mengalahkan monster ini !”
“Dengan senang hati tuanku !”
Tanpa basa basi lagi, kami pun berlari ke arah monster itu secara bersamaan. Kami mencoba melakukan serangan dari dua sisi yang berbeda. Diriku menyerang dari arah kanan, dan serigala ku menyerangnya dari arah kiri. Diriku berharap bahwa taktik serangan seperti ini akan berhasil.
Namun pikiranku terlalu naif dan lugu, serangan yang kami lontarkan kepada monster itu dapat melukainya, monster itu juga merasa kebingungan dengan serangan yang acak dari kami ini. Akan tetapi karena merasa bingung dengan berbagai serangan yang kami pancarkan kepadanya, monster itu tiba – tiba marah dan membuat kami terpental menjauhinya.
Hembusan angin yang di keluarkan olehnya sangatlah kuat, kami merasa terdorong cukup jauh dari dirinya. Setelah berhasil menahan angin tersebut, aku pun langsung menujukan arah pandanganku ke arah monster itu. Namun saat diriku melihat ke arah monster itu, tiba – tiba saja dirinya menghilang.
Aku pun seketika terkejut melihatnya tidak berada di tempatnya. Aku pun merasa kebingungan dan mencoba mencarinya di sekeliling ruangan itu, namun tidak ada tanda – tanda dari dirinya, ia seperti lenyap tak tersisa.
Aku pun merasa gelisah dan terus mencoba mencarinya, kegelisahan itu seketika berhenti sampai tiba sebuah peringatan dari serigalaku.
“Tuan !! Di atasmu !!!”
Mendengar peringatannya, diriku pun langsung mendongakkan kepalaku ke atas. Mataku terbelalak melihat monster Hybrid yang berada tepat di atasku. Setelah diriku mengetahui lokasinya, monster itu tiba – tiba saja menyerangku dengan kecepatan yang super cepat. Aku pun berusaha menghindari serangannya dengan melompat ke arah depan. Diriku berguling dan berhenti di samping serigalaku.
“Hampir saja”
Diriku merasa lega karena berhasil menghindari serangannya, tubuhku tak berhenti bergetar saat melihat serangan dadakan tersebut, aku pun mencoba menenangkan diriku supaya tidak terlihat lemah di depan musuhku.
Akibat dari serangan tersebut, timbul banyak asap di sekitarnya. Retakan di tanah yang di buat olehnya begitu besar dampaknya, diriku bisa membayangkan bagaimana nasibku jika tubuhku terkena serangan seperti itu, pasti bakalan hancur sampai tulang – tulangku terpisah semua.
__ADS_1
Saat melihat diriku yang berhasil menghindari serangannya, monster tersebut tiba – tiba saja mengeram kepada kami. Ia mengungkapkan bahwa dirinya kesal karena tidak mengenai targetnya. Melihat tampangnya yang jauh lebih buruk, diriku merasakan bahwa ia akan segera menyerang lagi, kali ini aku harus siap untuk melawannya.
“Tuan ! Dia datang !!”
Dengan kecepatan yang super cepat, monster itu melaju ke arah kami dan berusaha untuk menyerangnya. Serangan awalnya berhasil kami hindari, ia seketika berbalik dengan cepatnya, dengan berpijak di dinding ruangan dan melaju ke arah kami dengan sangat cepat.
Kami berhasil menghindari serangannya, namun tidak untuk waktu yang lama. Setiap kami menghindari serangannya, serangan yang berikutnya akan semakin cepat dan cepat. Kami tidak bisa berada di kondisi seperti itu selamanya, kami harus mencari cara untuk melakukan serangan balasan terhadapnya.
Dalam kondisi yang sangat tertekan itu, diriku sama sekali tidak ada sebuah cara untuk membalasnya. Serangan monster Hybrid tersebut sangatlah cepat, sampai – sampai pandangan mata pun tak dapat mengikutinya.
Tak butuh waktu yang lama, monster Hybrid itu akhirnya dapat mendaratkan serangannya ke arah kami. Monster itu menyerang serigalaku terlebih dahulu, ia membuatnya terluka sampai mengeluarkan suara rintihan kesakitan.
Diriku yang mendengar suara rintihan tersebut seketika ingin menolongnya. Namun karena hal tersebut konsentrasiku seketika menghilang, dan diriku juga ikut terkena serangannya. Kami di pukuli dengan cepat dan bertubi – tubi, tiada jeda mau pun waktu yang sedikit untuk kami keluar dari kondisi yang tidak menguntungkan itu.
Akhirnya kami pun tergeletak di tanah dan tak berdaya, tubuhku serasa memar dan lebam akibat hantamannya yang seperti puluhan batu besar yang di pukulkan ke arah kami. Saat kami sudah berada di tanah dan tak berdaya, monster itu juga menghentikan serangannya. Ia mulai menurunkan kecepatannya dan mulai bisa terlihat jelas di mata kami.
Melihat hal itu, tubuhku bergetar dengan hebat dan pikiranku terpenuhi oleh ketakutan itu sendiri. Diriku merasa lemah dan juga kesal akan diriku ini. Aku sudah menyiapkan tekad untuk menyelamatkan Ruru, namun hal itu seperti halnya perkataan kosong yang tidak ada artinya. Dalam detik – detik terakhirku, diriku membayangkan sebuah wajah Ruru yang tersenyum lembut dan juga menawan. Pikiranku serasa tenang karena terisi oleh raut wajahnya.
“Maaf Ruru, aku terlalu lemah dan juga tidak berguna. Maafkan aku karena tidak dapat menyelamatkanmu !” gumamku dalam hati sambil meneteskan air mata.
Dengan satu serangan yang cepat dan juga kuat, monster itu mengarahkan kepalan tangannya ke arahku dan berisap untuk membunuhku. Namun sebelum hal itu sempat terjadi kepadaku, tiba – tiba saja ada sebuah ledakan besar yang mengenai punggungnya.
*BLARRRRR !!”
Melihat segelintir ledakan tersebut, diriku merasa terkejut sekaligus penasaran siapa yang telah melakukannya. Dari arah belakang monster tersebut, terlihat seorang gadis yang tengah menatap monster itu tanpa memiliki rasa ketakutan dalam dirinya.
Gadis tersebut ternyata adalah Selda, seorang gadis yang aku selamatkan waktu di kota sebelumnya. Selda berdiri menantang monster itu dengan beraninya, dirinya seolah tidak takut sama sekali terhadapnya.
__ADS_1
“Hai Suami ku, Kau rindu padaku ?”
Selda mengucapkan kalimat tersebut tanpa melihat kondisi di sekitarnya, dirinya masih saja sempat bercanda melihat situasi yang seperti ini.
“Apa yang kau lakukan di sini ? Cepat pergi dari sini ! Monster itu bukan tandinganmu !”
“Oh Ayolah sayang, kau tak perlu kuatir seperti itu padaku. Tapi, aku sangat senang kau mengkhawatirkan ku seperti itu”
Diriku yang tengah babak belur dan juga cemas terhadapnya, dianggap sebagai pujian olehnya. Diriku merasa wanita ini mempunyai otak yang sedikit miring dalam kepalanya. Aku pun mencoba meyakinkannya untuk segera lari dari tempat ini.
“Selda cepat per–”
Sebelum sempat diriku menyelesaikan kalimatku, tiba – tiba saja monster itu dengan cepatnya melaju ke arah Selda dan bersiap untuk menghancurkannya.
“Selda Awas !!”
Selda yang melihat monster itu melaju ke arahku, dirinya merasa tenang sekali. Ia bahkan sampai tersenyum menghadapi bahaya yang seperti itu. Monster itu pun semakin dekat kepadanya, dirinya melepaskan serangannya kepada Selda.
Diriku merasa panik saat melihat hal tersebut, aku pun mencoba berdiri kembali dan berusaha untuk menyelamatkannya. Namun setelah diriku berdiri, wajahku menampakkan ekspresi yang penuh keterkejutan. Diriku melihat tangan monster itu berhenti tepat beberapa sentimeter dari wajah Selda.
Aku pun merasa keheranan melihat, bagaimana Selda bisa melakukan hal seperti itu. Setelah melihat monster itu berhenti, Selda pun segera bergegas ke arahku sambil merangkul tanganku ke arah pundaknya. Dirinya mencoba untuk menggendongku keluar dari tempat ini. Sebelum keluar diriku pun memasukkan serigalaku ke dalam bayang – bayangku. Setelah itu kami perlahan lahan pergi dari tempat tersebut.
Dalam perjalanan diriku sempat bertanya kepada Selda bagaimana cara ia melakukannya. Dirinya berkata bahwa menemukan sebuah gudang yang di penuhi oleh gulungan mantra, ia pun mengambil mantra – mantra itu sebelum sebuah getaran yang tiba – tiba saja mengguncangkan ruangan itu. Setelah itu ia pergi dari tempat itu dan pergi ke arahku.
Setelah beberapa langkah menjauhi ruangan itu, Selda menurunkanku dan memberikan sebuah potion kepadaku. Potion itu menyembuhkan luka – luka dan membuat diriku kembali segar seperti sedia kala.
Setelah sembuh, diriku pun segera meninggalkan tempat itu dan bergegas untuk mencari Ruru. Setelah berhasil keluar, aku pun memutuskan untuk mencari Ruru.
__ADS_1
Namun hal itu tidak dapat terjadi. Dari bawah tanah, terdengar sebuah getaran kecil yang semakin membesar. Getaran tersebut di sebabkan oleh monster Hybrid itu yang menggali ke atas. Melihat hal itu aku pun berdiri di depan Selda mencoba untuk melindunginya. Habis itu aku pun bertekad bahwa harus mengalahkan monster ini untuk selamanya.