
Setelah diriku tak sadarkan diri di depan musuh – musuhku, aku tiba – tiba terbangun di sebuah tempat yang tidak aku kenali. Tubuhku terasa sangat lelah dan juga lemas, diriku hampir tidak sanggup untuk berdiri karena tidak memiliki tenaga sama sekali.
Akhirnya diriku pun duduk dan melihat ke sekitarku, dari yang kulihat diriku sepertinya di tempatkan di sebuah sel penjara. Karena terkurung, diriku mencoba untuk berdiri dan membuka sel pintu penjara secara paksa.
Dengan sedikit tenaga yang ada, diriku mulai memasang kuda – kuda dan ingin menghancurkan sel penjara tersebut. Dengan seluruh tenagaku yang tersisa, diriku memukul sel penjara tersebut. Namun alhasil nya pintu tersebut sama sekali tidak rusak. Malahan tanganku yang merasakan dampak sebaliknya dari jeruji tersebut.
Karena diriku mencoba memukul jeruji besi tersebut dengan sangat kuat, tanganku merasa kesakitan sampai memerah dan terlihat seperti lebam. Baru permata kali ini diriku tidak bisa menghancurkan jeruji besi. Saat itu diriku berpikiran bahwa tubuhku mungkin di berikan semacam racun yang membuat tubuhku melemas dan tidak bertenaga.
Karena menggunakan cara kasar tidak bisa, maka diriku mencoba untuk menggunakan kepalaku. Diriku melihat ke kanan dan kiri, depan dan belakang untuk mencari sebuah benda yang dapat membuka jeruji pintu tersebut.
Sayangnya tidak ada sama sekali sebuah benda dalam penjara tersebut. Karena tidak ada benda sama sekali, diriku pun terus berusaha menggunakan akalku untuk keluar dari penjara ini. Aku melihat ke arah pojok – pojok jeruji penjara untuk mengecek apakah bisa dicungkil oleh sesuatu.
Setelah mengecek jeruji penjara tersebut, diriku melihat sebuah kayu yang sedikit lapuk di pojok jeruji. Akan tetapi diriku berpikiran apakah bisa kayu tersebut di hancurkan. Diriku bertanya – tanya karena tebal jeruji penjara tersebut tidak main. Kalau di hitung mungkin bisa sampai 15 cm.
Diriku merasa kurang yakin apakah aku bisa menghancurkan kayu yang sudah lapuk tersebut dengan kekuatanku saat ini. Diriku beranggapan bahwa jika tidak pernah mencobanya maka tidak akan tahu hasil akhirnya.
Akhirnya kuputuskan untuk mencoba menghancurkan kayu tersebut, lagi – lagi diriku memasang kuda – kuda untuk menghancurkan kayu tersebut. Dengan sekuat tenaga diriku memukul kayu tersebut dan merusaknya.
__ADS_1
Saat melihat hal tersebut diriku merasa gembira sekali, ternyata meskipun diriku masih melemah namun aku masih bisa menghancurkan kayu tersebut. Setelah keluar di dalam penjara entah mengapa diriku memikirkan tentang keadaan Ruru, apakah dirinya baik – baik saja ?, Atau sedang dalam bahaya ?.
Tanpa pikir panjang lagi, diriku harus segera keluar dari tempat seperti ini. Aku melihat ke arah tangga yang menuju ke arah atas, aku tidak tahu apakah tangga tersebut akan membawaku keluar atau tidak, satu – satunya cara untuk memastikannya adalah melewatinya.
Diriku pun berlari ke arah tangga tersebut dan ingin bergegas keluar, setelah melewati beberapa anak tangga, diriku melihat seperti sebuah cahaya yang terang berada di ujungnya. Setelah melihat cahaya tersebut diriku pun berpikiran bahwa ujung dari tempat yang aku lewati ini adalah jalan keluarnya, maka dari itu diriku mempercepat langkah kakiku dan bergegas ingin pergi keluar untuk mencari Ruru.
Ternyata benar saat diriku sampai di ujung, ternyata cahaya tersebut adalah jalan keluarnya. Namun saat diriku tiba di tempat itu di depanku terdapat banyak sekali pasukan monster yang sedang menghadang di depanku.
Seketika diriku terkejut dan sempat shock sesaat karena melihat hal tersebut. Diriku berpikiran untuk segera menemui Ruru, akan tetapi ternyata diriku harus menghadapi monster – monster ini terlebih dahulu. Tanpa pikir panjang lagi, diriku langsung menerjang ke arah monster – monster tersebut dan ingin segera ke tempat Ruru.
“Ruru, tunggulah aku” gumamku dalam hati.
Kumpulan monster tersebut juga mengeram kepadaku dan mulai berlarian ke arahku. Tanpa ragu – ragu diriku menyerang satu persatu monster – monster itu, sekumpulan monster – monster tersebut mulai mengerumuni diriku sambil menyerang ku dengan membatu buta.
Diriku berusaha untuk menghindari serangan – serangan yang di tujukan kepada diriku ini, serangan para monster tersebut membuat diriku harus mengelak ke kanan dan ke kiri, ke depan dan kebelakang, berputar dan menunduk, sampai – sampai diriku tidak di berikan sedikit waktu untuk counter attack.
Setiap kali diriku ingin melakukan serangan balasan, pasti ada saja dari arah lain yang tiba – tiba menyerang titik butaku. Karena hal tersebut diriku mulai sedikit frustasi dan kesal, lama kelamaan jika diriku tidak melakukan sesuatu pada monster – monster ini, maka diriku akan lama untuk bertemu dengan Ruru kembali.
__ADS_1
Dengan memikirkan itu diriku malah tambah kesal, aku pun menghindari serangan monster – monster tersebut dan ingin keluar dari kerumunan mereka. Dengan beberapa hindaran dan elakan diriku akhirnya bisa keluar dari kerumunan tersebut dan sedikit menjauh dari sana.
Dengan cepat diriku memasang kuda – kuda dan siap untuk menyerang kumpulan monster – monster tersebut, dalam pikiranku, diriku tidak bisa memberikan serangan yang besar kepada sekerumpulan monster – monster itu karena keadaan tubuhku yang masih melemah.
Namun terpikirkan satu cara olehku untuk bisa menghabisi mereka semua dengan satu cara, dengan kekuatanku yang masih tersisa diriku memukul ke tanah dan membuat sebuah getaran yang cukup besar.
Getaran tersebut membuat sebuah lubang besar di bawah kaki para monster tersebut dan akhirnya membuat mereka jatuh ke bawah tanah. Saat melihat hal itu inilah satu – satunya kesempatan untuk diriku pergi dan menemui Ruru.
Setelah berhasil mengalahkan monster – monster itu diriku segera bergegas menuju ke tempat Ruru berada, firasat ku mengatakan bahwa Ruru berada dalam bahaya. Dengan salah satu skill milikku, diriku berlari sangat cepat untuk sampai ke tempat Ruru.
Saat diriku hampir berada di kota, tiba – tiba terjadi sebuah ledakan yang besar. Diriku sempat berhenti sejenak dan melihat sebuah asap yang kota itu, setelah melihat itu, diriku tambah merasa khawatir dan mulai mempercepat langkahku.
Saat memasuki gerbang kota diriku melihat beberapa prajurit yang terluka, diriku menghampiri semua prajurit tersebut satu persatu dan ingin menanyakan kejadian apa yang menimpa dirinya itu.
Hampir semua dari prajurit tersebut banyak yang meninggal, diriku hampir putus asa dan ingin segera pergi ke tempat Ruru. Sebelum diriku sempat untuk beranjak dari tempat tersebut, tiba – tiba terdengar sebuah suara minta tolong.
Diriku langsung terkejut dan segera mencari orang yang meminta bantuan tersebut, setelah melihat ke sekitarku, diriku melihat seorang prajurit yang sedang duduk bersandarkan tembok yang mengelilingi kota itu.
__ADS_1
Aku pun dengan cepat segera memeriksa keadaan orang tersebut sambil bertanya tentang kejadian yang menimpa dirinya ini......