
Aku yang sekilas melihat cahaya merah itu, entah mengapa merasakan sesuatu yang berbahaya dari arah sana. Dan diriku juga merasa gelisah tentang keadaan Ruru, apakah ia baik – baik saja ?
Tak lama setelah itu sebuah penglihatan masa depan muncul dalam kepalaku. Masa depan itu menggambarkan bahwa Ruru sedang berada di sebuah daratan yang tinggi sambil melihat ke arah cahaya tersebut. Setelah itu ia membentangkan kedua tangannya ke langit serasa ingin memanggil sesuatu. Setelah itu muncullah beberapa ekor iblis yang membentangkan sayapnya, iblis – iblis itu beterbangan ke seluruh penjuru dan menghancurkan kota – kota, di saat itu penglihatan masa depanku melihat Ruru yang tengah tertawa terbahak – bahak melihat kejadian yang naas itu.
Setelah melihat masa depan yang seperti itu, aku pun kembali tersadar. Diriku bergegas pergi ke arah cahaya itu dan segera menyelamatkan Ruru. Diriku berharap bisa tepat waktu untuk menyelamatkannya dan tidak mewujudkan masa depan yang suram tersebut.
Dengan perasaan yang penuh kegelisahan, diriku menerjang apa pun yang berada di depan ku. Monster – monster yang ingin menghalangi jalanku, aku libas mereka tanpa ampun. Diriku tidak lagi memedulikan keselamatanku, di dalam pikiranku hanya ter bayangkan oleh Ruru seorang saja.
Tak hanya satu atau dua ekor monster yang menghadangku, jumlah mereka terlalu banyak sampai sulit sekali untuk menerobos masuk ke arah cahaya tersebut. Namun diriku tidak boleh menyerah karena masalah sepele seperti ini, aku harus tetap maju apa pun yang terjadi.
Aku pun menyerang monster – monster itu sambil berlari ke arah cahaya. Diriku terus berusaha sampai darah titik penghabisan. Namun jumlah mereka terlalu banyak, diriku tengah berhenti untuk sesaat sehingga diriku di kepung penuh oleh mereka. Tidak ada celah sama sekali untuk aku lewati, satu – satunya cara untuk melewati mereka adalah menerobosnya secara paksa.
Aku pun mengeluarkan semua tenagaku dan menerobos monster – monster itu dengan kuat. Diriku berteriak dan berlari untuk menambah semangat juang ku. Namun hal tersebut tidak membantuku sama sekali, hal tersebut malah membuat tenagaku cepat sekali mengurasnya.
Namun setiap kali aku berhenti di tengah jalan, diriku selalu memandang ke langit dan melihat ke arah cahaya itu. Setelah melihat cahaya itu kepalaku terpenuhi oleh bayangan masa depan itu, aku pun bangkit kembali dan terus menuju ke arah puncak untuk menemui Ruru.
Waktu diriku tengah kesulitan akan masalah ini, aku mencari cara bagaimana mengatasi mereka dengan cepat dan langsung pergi ke puncak gunung yang tertinggi. Aku yang mengalami kesulitan ini susah untuk bergerak, akibat monster – monster itu yang mengelilingi tanpa memberikan sedikit celah untukku kabur.
Dari arah kejauhan, tiba – tiba saja terdengar sebuah suara seseorang yang menyatakan peperangan dengan sekelompok monster – monster ini.
“SERANGGGGGGGG !!!”
Mendengar kalimat tersebut aku dan juga monster – monster itu langsung mengalihkan pandangan kami ke asal suara tersebut. Dan ternyata orang yang menyatakan peperangan itu adalah seorang ketua guild yang anggotanya pernah aku selamatkan, yaitu Harth si Singa merah.
Di lihat dari jumlah mereka, semua anggota dari guild/famili tersebut ikut bertempur. Dari kejauhan diriku melihat Leo dan juga anggotanya termasuk juga dengan petualang veteran lainnya. Tak hanya itu pengawal dari tuan Dalius juga ikut membantu. Mereka semua orang – orang yang aku kenali ikut membantuku untuk melenyapkan monster – monster ini.
Aku pun bertambah semangat dan tak mau kalah dari mereka, karena tujuanku sangatlah besar. Oleh sebab itu diriku tak boleh gagal atau berputus asa dalam hal itu. Dengan sekuat tenaga diriku menerobos barisan monster yang berada di depanku, diriku menerjang mereka selayaknya berlarian di padang rumput yang luas.
Dengan cara yang tidak terduga seperti itu, ternyata diriku berhasil melewati monster – monster itu sampai berada di puncak. Sesampainya di puncak, diriku melihat ke arah bawah dan melihat sebuah pertempuran hebat antara manusia dan juga monster. Aku pun bertekad untuk segera mengakhiri kejadian yang mengerikan ini.
__ADS_1
Dengan penuh ketergesa – gesaan diriku berlari menuju sumber masalah ini yaitu di arah cahaya yang menjulang itu. Dari kejauhan diriku sedang melihat seseorang yang hanya terdiam melihat cahaya tersebut. Dalam bayangku itu mungkin adalah Ruru, jadi aku pun mempercepat langkah kakiku untuk bertemu dengannya.
Setelah semakin dekat dan semakin jelas bahwa orang itu adalah Ruru, diriku merasa senang dan juga lega. Aku pun berlari ke arah Ruru sambil memanggil – manggil namanya.
“Ruru ! Ruruuu !!”
Aku pun sangat senang hanya dengan melihatnya, sampai – sampai diriku tidak menyadari akan bahaya yang sedang mengintai ku.
“Tuan Hati -Hati !!!”
Mendengar peringatan dari serigalaku, diriku sontak mencoba untuk menghentikan lakuku, namun naasnya hal itu sudah terlambat.
Dari bawah tanah tiba – tiba muncul sebuah benda berwarna hitam yang sangat runcing menusuk ke arah perutku. Benda itu menembus tubuhku sampai mengeluarkan begitu banyak sekali darah. Diriku hanya bisa terdiam melihat benda itu menusuk tubuhku.
Tak lama setelah itu tiba-tiba muncul dari arah belakangku seorang pria bertopeng. Dirinya berjalan begitu santainya menuju ke arahku. Sebelum ia melewati diriku, pria bertopeng itu melirik ke arahku. Lepas itu dia kembali berjalan menuju ke arah Ruru.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki saat itu, diriku bertanya kepada orang tersebut tentang apa yang ingin dilakukannya.
Pria bertopeng itu pun menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya ke arahku sambil berkata ;
“Kau akan tahu nanti !”
Setelah itu ia kembali berbalik dan berjalan secara perlahan lahan menuju ke arah Ruru. Aku berusaha untuk menghentikannya, namun darah yang mengalir keluar dari tubuhku sangat cepat dengan jumlah yang banyak. Hal tersebut membuat kesadaranku perlahan lahan mulai memudar. Diriku mencoba untuk melawan hal tersebut, namun hal itu tidak memungkinkan. Sebelum diriku menutup kedua mataku, hal terakhir yang aku lihat adalah Ruru yang tengah di peluk oleh pria tersebut. Dan sedetik sebelum diriku tak sadarkan diri, aku pun menyempatkan diri untuk memanggil namanya.
“Ru---ru............”
Setelah hal tersebut keheningan pun terjadi, diriku tidak bisa mendengar apa pun atau melihatnya lagi.
Tanpa di sadari tiba – tiba saja aku mendengar seseorang yang sedang memanggilku, suara itu awalnya pelan sekali, seiring suara tersebut memanggilku ia malah semakin keras.
__ADS_1
“Hey Kakak ! Kakak !! KAKAK !! BANGUN !!”
Mendengar hal tersebut diriku pun langsung tersadar. Diriku terbangun di sebuah tempat yang luas dan berwarna putih, di sekelilingnya tidak terdapat apa – apa melainkan hanya diriku. Dalam benakku diriku bertanya apakah aku sudah mati.
“Astaga, kakak kalau di bangunkan susah ya !”
Aku pun terkejut mendengar suara itu, diriku melihat ke sekeliling dan mencari asal sumber suara tersebut. Di lihat dari kejauhan diriku tidak menemukan sama sekali tanda kehidupan, aku pun mulai kebingungan datang dari manakah suara tersebut ?
Tak lama kemudian tiba – tiba saja muncul seorang gadis yang menyapaku dengan kepala yang terbalik.
“Halo kakak ”
Melihat kemunculannya yang mendadak diriku sangat terkejut sehingga memukul dirinya.
*BUG*
Gadis itu pun terkena pukulanku, ia seketika diam sejenak dan melihat kepadaku dengan penuh kesedihan. Tak lama dari itu, air matanya tiba – tiba saja keluar meneteskan membasahi pipinya. Ia menangis di depanku dengan keras.
“Huaaaaaa, kakak jahat kenapa memukul Pandora !”
Aku pun merasa bersalah kepadanya, karena itu diriku mencoba untuk menenangkannya sambil meminta maaf dengan cara mengelus elus bagian kepalanya yang terkena pukulanku.
“Maaf, maaf, kakak tidak sengaja. Itu tadi refleks !”
Setelah itu gadis tersebut merasa baikan dan menerima permintaan maaf ku. Kemudian aku pun bertanya kepadanya tentang keberadaanku saat ini.
“Kita ada di mana ? Dan kamu siapa ?”
Gadis itu pun kembali tersenyum sambil melihat ke arahku, ia seketika berjalan di depanku sambil berkata ;
__ADS_1
“namaku adalah Pandora, dan tempat ini adalah ruang antar dimensi”
Aku pun mengerutkan dahiku serasa tidak percaya akan perkataannya.