
Awalnya aku ragu, apakah bisa diriku mengalahkan monster itu dengan kemampuan yang aku miliki saat ini. Akan tetapi diriku harus berkeyakinan penuh bahwa aku bisa mengalahkan monster tersebut.
Selama beberapa detik, kami pun saling memandang, tidak bergerak sama sekali. Kami hanya memperlihatkan pandangan yang tajam, seolah olah seekor singa yang ingin menerkam mangsanya. Angin pun berembus di sekeliling ku, diriku menyuruh Selda untuk bersembunyi dan membiarkanku menyelesaikan perkara ini.
Selda awalnya merasa ragu untuk meninggalkan ku sendiri, namun setelah melihat ekspresi keseriusanku, ia sadar bahwa dirinya hanya akan menjadi beban untukku. Selda pun akhirnya pergi, sebelum ia pergi, dirinya memelukku dari belakang sambil berucap : jangan sampai kalah ! Kau adalah suamiku, kau harus menang !”
Setelah itu ia pun pergi untuk bersembunyi. Melihat Selda yang tengah berlari, monster itu mengalihkan pandangannya untuk sesaat. Dirinya mencoba menargetkan Selda yang tengah berlari mencari tempat sembunyi. Namun hal itu tidak bisa aku biarkan, Diriku mencoba untuk memancingnya supaya tidak mengincar Selda.
“ Hei !!! Ke arah mana kau liat itu ! Musuhmu berada di depanmu, jadi jangan alihkan pandanganmu itu !”
Mendengar kalimatku, monster itu mengembalikan pandangannya ke arahku, ia membalikkannya secara pelan – pelan sambil membuat suara geraman yang tidak suka terhadapku. Melihatnya yang telah terpancing oleh perkataanku, diriku merasa senang karena dapat mengalihkannya dari Selda, dalam bentuk tekadku, diriku harus melindungi seseorang yang berharga bagiku.
Saat kami saling berhadapan, kami memiliki pikiran yang sama. Siapa yang menyerang dulu, dialah yang di untungkan. Dengan cepat kami melesat ke satu sama lain dan melepaskan serangan terkuat kami.
Diriku dan juga monster itu sama – sama mencoba mendaratkan pukulan, namun karena hasilnya sama maka pukulan kami tertahan oleh pukulan lainnya, yang mengakibatkan seluruh daratan di sekitar kami berguncang dan juga retak karena efeknya.
Hembusan angin yang keluar dari serangan kami sangatlah kuat. Angin tersebut bahkan sampai membuat dinding udara di sekeliling kami. Tak hanya sampai di situ, pertarunganku dengan monster itu cukuplah sengit. Kami sling melepaskan beberapa pukulan, dan juga semaksimal mungkin untuk menghindari serangan balasan.
__ADS_1
Meskipun monster itu tubuhnya tubuhnya lebih besar dariku dua kali lipat, namun kecepatan menghindar dan juga serangannya bukanlah main – main. Ia melancarkan semua serangannya dengan kekuatan penuh dan juga tepat.
Namun diriku tidak boleh kalah darinya, diriku masih harus mengejar Ruru dan tidak boleh berhenti sebelum berhasil menyelamatkannya. Semaksimal mungkin diriku juga melancarkan pukulanku dengan luaran penuh dan semaksimal mungkin diriku juga harus menghindari serangannya.
Pertarungan ini seperti mengandalkan stamina, barang siapa yang jatuh terlebih dahulu maka dialah yang akan kalah. Namun itu akan menjadi masalah untukku, diriku harus segera menyelesaikan pertarungan ini dan pergi menyelamatkan Ruru.
Aku melihat serangan monster itu yang mengarah ke arah kepalaku, diriku mencoba menghindarinya dengan cara menundukkan kepalaku, setelah itu diriku mencoba mendorong tubuhku menjauh darinya dengan cara melompat ke arah belakang.
Setelah timbul sebuah jarak di antara kami, pertarungan jarak dekat itu pun berakhir. Setelah memiliki jeda untuk berpikir diriku menyusun rencana untuk bisa mengalahkan monster itu. Sebelum sempat terpikir rencana tersebut olehku, monster itu tiba – tiba saja melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi. Dirinya tidak membiarkanku berpikir untuk sesaat.
Dengan posisi tangan yang sudah mengepal berada di udara, monster tersebut ingin memukul kepalaku sampai hancur berkeping keping. Sebelum kepalan tangan itu sampai di wajahku, tiba – tiba saja terbayangkan olehku sebuah gerakan yang dapat mengcounter serangan tersebut. Dengan cepat diriku mengayunkan tanganku mencoba memukul lengan monster itu dan mengarahkannya keluar dari sesaran targetnya.
Setelah hal itu, tiba – tiba muncul kembali sebuah gerakan yang akan terjadi selanjutnya di mana monster itu mencoba menyerangku di bagian perut. Kejadian itu ternyata benar, diriku segera menghindarinya dan mencoba untuk melakukan serangan balik.
Sebelum sempat serangan itu datang kepadaku, lagi – lagi terbayangkan sebuah gerakan yang dapat menghindari serangan tersebut dan yang melancarkan sebuah serangan balik kepadanya. Aku pun menghindari serangannya dengan memutarkan tubuhku menghindarinya yang tepat berhenti di depannya.
Setelah cukup dekat dengan jangkauan seranganku, diriku segera melepaskan pukulanku yang aku putarkan seperti seekor peluru yang berputar di udara, yang menyebabkan bertambahnya kecepatan serangan peluru tersebut.
__ADS_1
Seranganku dapat mengenai perut monster itu sampai kulit monster itu juga ikut berputar dan juga robek oleh tanganku. Dampak serangan itu sangatlah efektif, hanya dengan sekali serangan saja monster itu terdorong cukup jauh dan bahkan dirinya sampai memuntah darah dari dalam mulutnya.
Aku merasa terheran heran, bagaimana hal ini bisa terjadi dan kenapa tiba – tiba diriku mendapatkan kekuatan yang seperti ini. Tiba – tiba saja muncul sebuah notifikasi di ponselku, dan secara tiba – tiba notifikasi itu memunculkan sebuah informasi dalam kepalaku, di mana diriku dapat membacanya langsung dari bola mataku.
Notifikasi itu memberitahukan bahwa diriku mendapatkan sebuah skill baru karena kesungguhan tekadku. Skill tersebut di namakan Fate Oh Truth, di mana kemampuan tersebut bisa melihat sebuah gambaran masa depan dan bagaimana cara untuk menghindari atau menjalankannya.
Saat diriku tengah terkejut membaca notifikasi tersebut, tiba – tiba saja muncul sebuah gambaran dalam kepalaku, di mana gambaran tersebut menunjukkan bahwa monster itu akan segera bangkit kembali dan akan menyerangku dengan muatan penuhnya.
Tak disangka sangka kejadian itu memang terjadi, monster itu kembali berdiri dan mengaum dengan kencangnya. Aumannya sangat keras sampai bisa membuat pohon di sekitar kami menjadi roboh. Setelah itu ia seperti sedang mengumpulkan energi yang begitu besar dalam dirinya, warna monster itu yang awalnya merah seperti warna daging manusia tiba – tiba saja berubah menjadi biru ketuaan dan sedikit gelap.
Melihatnya yang telah marah membuatku semakin takut, dengan seluruh kekuatannya monster itu mengirimkan sebuah hawa membunuh yang sangat kuat. Jika hawa itu di rasakan oleh manusia biasa, maka akan membuatnya ketakutan setengah mati.
Diriku yang tengah bingung ingin melakukan apa terhadap monster itu, lagi – lagi di perlihatkan sebuah gambaran masa depan yang akan terjadi, di mana monster itu akan menerjang ke arahku dengan kecepatan cahaya. Diriku merasa sempat bimbang bagaimana cara mengatasinya, namun di perlihatkan lagi kepadaku sebuah gambaran bagaimana cara mengatasinya.
Aku hanya bisa pasrah menghadapi monster itu, satu – satunya kesempatan yang aku miliki adalah mengandalkan kemampuan ini dan berusaha untuk mengalahkannya. Monster itu ternyata sudah selesai mengisi tenaganya, ia melihat ke arahku dengan perasaan yang penuh kemarahan. Ia seketika mengambil ancang – ancang dan melesat kepadaku dengan kecepatan cahaya.
Diriku juga tidak boleh diam saja, dengan gambaran masa depan yang aku miliki, aku tidak boleh kalah darinya. Pertarungan itu sangatlah singkat dan cepat, tidak ada mata manusia yang dapat melihat pertarungan tersebut. Bahkan Selda yang menyaksikan pertarunganku saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun dalam genggamanku diriku sedang memegang sebuah jantung yang sempat berdebat, setelah beberapa detik jantung itu mulai melemah detakannya dan menjatuhkan monster itu ke tanah.
__ADS_1
Darah mengalir dari dalam monster itu, ia menunjukkan bahwa dirinya telah tewas. Dan diriku sempat senang karena kemenangan tersebut, namun kemenangan itu harus ditunda terlebih dahulu karena dari arah barat daya kami terlihat sebuah cahaya berwarna merah yang menjulang ke angkasa. Dan saat diriku melihat cahaya tersebut, aku melihat gambaran masa depan di mana Ruru akan di bunuh.