
Karena kekuatan monster yang lebih kuat dari ibu penginapan, beliau hanya mendapatkan hempasan tangan yang membuat tubuhnya terpental ke dinding kamar, monster tersebut mulai bergerak kepada Ruru yang sedang tertidur di kasurnya.
Dengan mudahnya monster tersebut mengambil Ruru dari situ, setelah mengambil Ruru monster tersebut segera pergi meninggalkan tempat tersebut, ibu penginapan sempat bangkit dan ingin menolong Ruru, namun dirinya di gagalkan dengan kekuatan orang misterius yang berada tidak jauh dari sana.
Kekuatan orang tersebut membuat tubuh ibu penginapan menjadi lemas dan tidak bertenaga, meskipun ibu penginapan sudah lemas dan tak berdaya, beliau masih ingin mencoba menyelamatkan Ruru itu.
Namun belum sempat ia bergerak sejari saja, orang misterius itu tiba – tiba muncul di depan ibu tersebut dan memandang beliau dengan tatapan yang merendahkannya.
“Berhentilah ikut campur” ucap orang misterius itu dengan nada yang merendahkan.
Tanpa basa – basi, orang misterius itu melihat ke atas kamar tersebut dan menggunakan sebuah balok kayu yang cukup besar untuk menahan beliau, meski beliau sudah tak bisa berbuat banyak namun penjahat ini tidak memedulikannya, dirinya hanya tidak ingin rencananya gagal dan kacau, meskipun ada sebongkah kerikil yang berada di jalannya, penjahat tersebut ingin melenyapkannya dengan sekuat tenaga sampai tak tersisa.
Mendengar penjelasan beliau yang panjang lebar itu membuat darahku mendidih, diriku merasa kesal dan geram terhadapnya, pertama dia menculik Ruru, yang kedua dia melukai beliau meskipun beliau sudah tidak berdaya lagi. Kepalaku serasa di penuhi kebencian terhadapnya, dalam pikiranku, diriku membayangkan kepalan tangan yang memukul wajahnya dengan sangat – sangat keras.
Emosi dalam tubuhku mulai mendidih, diriku bergegas pergi dari tempat itu dan ingin segera bertemu dengan penjahat tersebut. Akan tetapi diriku tidak tahu pergi ke arah mana orang tersebut, dia hanya mengambil Ruru dan pergi begitu saja, tidak ada petunjuk lain sama sekali tentang tujuannya.
Saat diriku fokus berpikir, tiba – tiba dari arah luar terdengar sebuah suara minta tolong. Seketika diriku berhenti dan mengecek keadaan di luar. Setelah melihat ke kanan dan ke kiri, diriku melihat seorang gadis yang ketakutan karena satu monster yang cukup besar berada di depannya.
Gadis tersebut berlari menjauh dari monster tersebut dan secara tidak sengaja dirinya terjatuh ke tanah, monster yang mengejarnya itu semakin mendekat, monster tersebut berhenti sejenak di depan gadis itu dan mulai menggerakkan tangannya ke atas.
Monster tersebut berusaha membunuh gadis itu, saat melihat monster tersebut mengangkat tangannya, gadis tersebut terlihat sangat ketakutan sampai keluar air matanya. Melihat keadaan seperti itu, dalam diriku ada perasaan yang besar untuk menyelamatkannya, diriku langsung melompat dari jendela dan bergegas menuju ke arah gadis tersebut.
__ADS_1
Monster tersebut mulai mengayunkan tangannya ke arah gadis itu, dirinya berusaha untuk melumatkan gadis tersebut menjadi benda lembek tak bernyawa, gadis tersebut merasa ketakutan dan berteriak sangat kencang. Monster tersebut memukul gadis itu sampai membuat tanah di sekitarnya menjadi rusak.
Untungnya diriku dapat tepat waktu menyelamatkan gadis tersebut, dengan jeda waktu yang sangat singkat, diriku dapat menyelamatkan gadis tersebut dari kematiannya, diriku menyelamatkan gadis tersebut dengan menggendongnya seperti tuan putri, setelah melihatnya selamat diriku bertanya kepadanya apakah dirinya terluka.
“Apa kau baik – baik saja ? Apakah ada yang luka ?” ucapku sambil menatap wajah gadis tersebut penuh keseriusan.
Gadis tersebut hanya terdiam melihat wajahku, diriku terus berbicara kepadanya, namun tidak ada jawaban sama sekali dari dirinya. Karena melihat dirinya yang tercengang itu, diriku berpikiran bahwa wajahku sangat jelek sampai membuat gadis tersebut tak bisa berkata apa – apa.
Karena merasa terganggu dengan tatapan itu, diriku mencoba mengguncangkan tubuhnya sambil terus mencoba memanggil dirinya. Tak lama setelah diriku mengguncangkan tubuhnya, gadis tersebut mulai merespon ucapanku, matanya seketika berkedip dan tiba – tiba melihat ke sekelilingnya.
Gadis tersebut melihat tubuhnya yang di gendong dengan gendongan tuan putri tiba – tiba merasa malu, dengan keadaan tersebut tiba – tiba gadis tersebut berteriak kepadaku.
“A- Aku belum siap untuk melakukannya” teriak gadis itu.
Tak lama monster yang menyerang gadis tersebut akhirnya sadar, bahwa mangsanya telah hilang. Seketika monster tersebut melihat ke arahku dan mulai mengeram dengan kencang.
*GRAAAAAAAAAAA*
Karena sudah melihat diriku, mau tidak mau aku harus mengalahkan monster tersebut dan segera mencari Ruru, dengan pelan – pelan diriku meletakkan gadis tersebut di belakangku. Diriku mencoba untuk menjauhkannya dari bahaya.
Setelah itu diriku menyuruh gadis tersebut untuk segera menjauh dan bersembunyi di tempat yang aman, dengan patuhnya gadis tersebut langsung berlari dan bersembunyi di balik bangunan. Setelah melihatnya sudah cukup aman, saatnya untuk diriku melampiaskan kemarahanku kepada monster jelek itu.
__ADS_1
Karena emosi yang meledak – ledak dalam tubuhku, diriku tidak segan – segan akan membunuh monster tersebut dengan sekuat tenaga. Rasa kesal ini terwujud karena ketidakbecusan ku melindungi Ruru.
Dengan cepat diriku berlari ke arah monster tersebut dan ingin memukul wajahnya. Waktu itu diriku berpikiran bahwa pertarungan itu sangat singkat dan cepat, dengan satu pukulan diriku beranggapan bahwa monster itu sudah kalah, namun ternyata perkiraanku salah.
Monster yang sudah tergeletak di tanah itu tiba – tiba mulai bangkit kembali. Seharusnya monster seperti itu sudah kalah saat menerima seranganku yang paling kuat, mungkin karena tubuhku masih melemah, diriku tidak bisa mengeluarkan seratus persen kekuatan asliku.
Padahal diriku segera ingin menyelesaikan masalah ini dan pergi mencari Ruru, ternyata hal seperti itu hanya ada dalam dongeng saja sepertinya.
Melihat monster yang tergeletak itu bangkit, timbul dalam tubuhku perasaan yang kurang nyaman, hati kecilku berkata bahwa diriku ini berada dalam bahaya, ternyata hal itu benar apa adanya. Monster yang telah bangkit itu, tiba – tiba bola matanya berubah warna menjadi merah, tubuhnya juga mengalami perubahan.
Terlihat dari kejauhan, tubuh monster tersebut mengeluarkan garis – garis yang aneh ke seluruh badannya, garis – garis tersebut tiba – tiba muncul dan bertemu dalam satu titik, yaitu di dadanya.
Diriku yang mengamati kejadian yang belum kulihat itu merasa penasaran dan bingung, apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Saat dilihat dengan teliti, titik pertemuan antara garis yang berada di tubuhnya itu, sangat – sangat mirip dengan batu iblis yang pernah aku lawan itu.
Diriku yang masih kebingungan itu, terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu sampai – sampai lupa tentang Ruru. Setelah sadar diriku tak berpikir banyak dan segera ingin mengalahkan monster tersebut.
Saat diriku melaju kencang ke arahnya, tiba – tiba monster tersebut mengaum dengan sangat kencang, sampai – sampai membuat tubuhku terdorong ke belakang karena hembusan anginnya. Saat itu diriku mulai kesal dan geram, tidak ada waktu sedikit pun untuk melayani monster ini, diriku harus cepat – cepat pergi dan menyelamatkan Ruru.
Saat diriku ingin melangkah ke arahnya, tiba – tiba mataku dikejutkan oleh sesosok monster yang sedang datang mengerumuni diriku, melihat situasi seperti itu, diriku beranggapan bahwa auman tersebut yang mendatangkan monster – monster ini.
Situasi ini menjadi tambah sulit lagi, pertama diriku telah di kepung oleh monster – monster yang tengah menyerang kota, yang kedua adalah diriku masih belum bisa pergi ke tempat Ruru.
__ADS_1
“Cih.. bagaimana ini ? Situasi sangat tidak menguntungkan sekali bagiku !” gumamku kesal.