
Dengan paksa, diriku mencoba membuka pintu tersebut, saat tanganku menyentuh jeruji pintu itu, seketika seperti teraliri arus listrik. Karena hal tersebut, aku segera melepaskan tanganku dari jeruji besi itu.
Aku mencoba mengibaskan tanganku mencoba untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah mengibaskannya beberapa kali, diriku masih merasakan arus listriknya di tanganku, hal tersebut malah menyulitkanku untuk menyelamatkan anak – anak itu.
Tanpa kusadari tiba – tiba serigala yang tinggal dalam bayanganku keluar secara mengejutkan. Serigala itu menjelaskan kepadaku, bahwa ada semacam sihir yang di pasang pada jeruji tersebut, mendengar perkataan dari serigala itu membuat diriku makin tambah kesal. Orang misterius itu melakukan hal itu untuk mencegah anak – anak itu kabur.
Aku pun bertanya kepada serigala tersebut : apakah ada semacam cara untuk menyelamatkan mereka tanpa melukai anak – anak itu atau kita sendiri ?, serigala tersebut berkata padaku, bahasa sihir ini di picu oleh benda yang mengaktifkannya, jika bisa menghancurkan benda tersebut maka akan membuat arus listriknya padam.
Mendengar penjelasannya, diriku langsung paham akan maksud perkataannya, sayangnya kita tidak tahu benda seperti apa yang membuat arus listrik itu aktif di jeruji. Aku pun menyorotkan lampu senterku ke sekeliling untuk mencari benda tersebut, sayangnya diriku tidak melihat apa pun di situ, hanya ada anak – anak itu dan kami.
Satu – satunya cara untuk mengetahui letak benda tersebut adalah dengan bertanya kepada anak – anak itu, mereka setidaknya tahu di mana disembunyikannya benda itu, namun anak – anak ini terlihat sangat ketakutan, mereka bahkan terlihat gemetar dan takut melihatku.
Melihat mereka, membuat diriku merasa iba dan kasihan. Aku pun mulai menjongkok dan mendekat kepada mereka, dengan suara yang pelan, diriku tersenyum kepada mereka sambil berusaha menjelaskan bahwa aku bukanlah orang jahat.
“Hey, apakah kalian ingin pergi dari tempat ini dan ingin bertemu dengan ibu kalian ?”
Dengan pelan – pelan diriku mencoba untuk menarik perhatian mereka, mencoba membujuk dan meyakinkan mereka bahwa diriku bukan orang jahat yang ingin melukai mereka. Aku berusaha membujuk mereka dengan menceritakan tempat – tempat yang indah dan juga menarik, akan tetapi mereka hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
Dalam pikiranku, diriku merasakan bahwa anak – anak ini takut akan sesuatu, namun aku tidak tahu apa yang mereka takutkan. Tak lama diriku diam sejenak kepada mereka, tiba – tiba ada seorang anak yang mulai mendekat kepadaku dan ingin berbicara kepadaku.
“Benarkah ? Kakak akan membawa kami pergi dari sini, ke tempat yang indah. Apakah itu benar ?” ujar gadis kecil itu.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajahnya yang penuh harapan, diriku pun tersenyum kepada gadis kecil tersebut dan berkata akan membawa ke tempat tersebut, aku juga berkata bahwa akan melindunginya dan teman – temannya bahkan harus mengorbankan nyawaku.
Mata mereka pun mulai bersinar – sinar memancarkan cahaya harapan. Diriku yang melihat mereka sudah baikan merasa lega dan langsung bertanya tentang sebuah benda itu di sembunyikan. Awalnya gadis tersebut kurang paham akan penjelasanku, namun diriku tidak putus asa untuk menjelaskannya berkali kali.
Tanpa di sadari, saat diriku tengah menjelaskan ada seorang anak kecil laki – laki yang memberitahuku tentang lokasi benda tersebut. Pandanganku langsung mengarah padanya dan langsung bertanya di mana benda tersebut berada.
Anak kecil tersebut mengatakan bahwa benda tersebut berada di bawah tanah, namun dirinya tidak tahu di mana lokasinya karena terlalu gelap untuk melihat, mendapatkan sebuah petunjuk diriku langsung bersemangat dan siap untuk mencari benda itu, meskipun harus membalik semua tanah yang ada di bawah kakiku.
Diriku yang sudah tahu akan letak benda tersebut, langsung menyuruh serigala yang ikut bersamaku untuk segera mencarinya. Serigala itu melaksanakan perintahku dan mulai mencarinya, dirinya tiba – tiba masuk ke dalam tanah dan tidak terlihat lagi.
Beberapa detik kemudian serigala tersebut memanggilku, diriku muncul ke permukaan dan berkata bahwa ia telah menemukan benda tersebut. Dengan cepat diriku langsung menuju ke tempat serigala itu keluar, yaitu tepatnya berada di pojok ruangan sebelah pintu masuk ke arah ruangan ini.
Diriku pun menyinari tempat tersebut, diriku membersihkan debu yang berada di situ mencoba mencari tahu apakah ada semacam lantai ruangan yang telah di gali. Ternyata dugaanku benar, terdapat sebuah keramik yang tidak seimbang.
Mendengar hal itu diriku terkejut dan segera mungkin untuk menarik tanganku kembali, diriku takut bahwa patung itu akan menyerap energi ku sama seperti di jeruji. Lepas itu diriku pun bertanya kepada serigala tersebut : bagaimana cara menghancurkannya jika tidak bisa menyentuhnya ?
“Anda tak perlu khawatir tuan, biar akulah yang akan menghancurkannya dengan kekuatan es ku” ujar serigala tersebut.
Mendengar penjelasannya, aku hanya bisa percaya dan membiarkannya mengambil alih. Serigala tersebut mulai mengambil ancang – ancang dan siap untuk menyerang. Dengan sekali gonggongan, patung batu tersebut seketika hancur, sekaligus membuat ruangan ini menjadi sedikit terguncang.
Melihat bahwa patungnya sudah hancur, diriku langsung melihat ke arah jeruji. Ternyata aliran listrik telah padam, sekarang satu – satunya untuk membuka jeruji pintu tersebut adalah menghancurkannya. Diriku memerintahkan anak- anak tersebut untuk menjauh dari pintu jeruji, lepas itu diriku melepaskan kekuatanku dan menghancurkan pintu jeruji tersebut sampai lepas dari engselnya. Diriku pun segera masuk ke dalam dan langsung membawa mereka keluar dari tempat ini.
__ADS_1
Diriku berlari ke tempat awalku datang, namun setelah melewati tangga, aku pun lupa ke arah mana tempat awalku datang. Diriku yang hendak kebingungan ingin menyuruh serigala itu untuk menuntun jalan keluar. Namun sebelum diriku sempat memerintahkan serigala tersebut tanganku tiba – tiba di tarik oleh seorang anak kecil.
Aku pun menujukan pandanganku ke arah anak tersebut, ternyata anak yang menarik tanganku adalah anak laki – laki yang memberitahu ku tempat patung itu di sembunyikan, anak itu bertanya kepadaku apakah diriku lupa tentang jalan keluarnya.
Mendengar kalimatnya, diriku langsung membungkukkan badanku sampai bisa sejajar dengan anak kecil tersebut. Dengan menyesal diriku memberitahunya bahwa aku adalah orang yang pelupa, saat itu juga aku meminta maaf kepadanya.
Anak kecil tersebut tidak kecewa dengan diriku, dirinya tersenyum dan seketika menunjukkan jalannya, anak laki – laki tersebut berkata dengan semangatnya : aku tahu jalan keluarnya ! Ke arah sini( sambil menunjuk ke arah depan ).
Tiba – tiba anak kecil tersebut berlari ke arah yang di tunjukkannya dan mulai membelakangi kami. Melihat anak kecil tersebut yang tiba – tiba berlari, diriku pun terpaksa harus mengejarnya, dengan cepat aku memberi aba – aba kepada yang lainnya untuk mengikuti anak kecil yang berada di depan itu. Diriku hanya bisa pasrah dan menyerahkannya kepada anak laki – laki tersebut.
Setelah mengikutinya dari belakang, anak laki – laki tersebut tiba – tiba saja berhenti. Diriku yang berada di belakang langsung maju ke samping anak laki – laki itu, sesampainya di sampingnya aku pun bertanya kepadanya.
“Apa kita sudah ambil jalan yang salah ?”
Anak kecil itu hanya diam dan tak merespon pertanyaanku, dia seketika mematung sesaat sebelum menjawab pertanyaanku.
“Tidak kok, kita berada di tempat yang benar !” ujar anak laki – laki tersebut.
Tiba – tiba saja obor yang berada di ruangan tersebut menyala dengan terang, satu persatu obor yang ada di sana menyala dengan terangnya sampai membuat ruangan tersebut di penuhi oleh cahaya. Setelah semua obornya menyala, tiba – tiba saja ada sebuah suara yang berbicara kepada kami.
“Wah – wah – wah Ada penyusup rupanya”
__ADS_1
Aku langsung menujukan pandanganku ke arah suara tersebut, diriku seketika terkejut karena melihat orang yang berada di depan kami itu, hawa dingin yang menyertainya membuat suasana menjadi semakin sunyi dan menegangkan. Dan ternyata orang tersebut adalah orang yang berbicara dengan boneka waktu itu.