Smartphone Hero

Smartphone Hero
Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Dengan nafas yang terengah – engah, aku pun melarikan diri dari monster kecil yang menyebalkan tersebut. Berbagai serangan dan skill aku gunakan untuk menghancurkannya, namun hasilnya malah membuat monster – monster tersebut berkembang biak dengan begitu cepatnya. Satu – satunya cara untuk bisa lolos dari mereka adalah ke tengah – tengah labirin, lebih tepatnya ke tempat Ruru berada.


Akan tetapi hal itu sanggatlah sulit untuk di lakukan. Setiap arah dan persimpangan yang aku lewati, tidak kunjung selesai ke tengah – tengah labirin. Hal semacam ini seperti diriku berlari mengelilingi tempat yang sama berulang kali, akan tetapi yang membuatku tak bisa berhenti adalah karena monster – monster itu yang masih mengejarku.


“Huh... Huh.... Huh... Bagaimana ini ? Jalan ini tidak ada habis – habisnya. Di tambah lagi dengan makhluk – makhluk itu yang membuatku sangat kesulitan untuk mencari jalan keluar. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?”


Kejadian yang terus berulang setiap kalinya, membuat kakiku terasa pegal dan capek. Diriku juga merasa putus asa dan sempat ingin menyerah sebelum sececah cahaya yang tiba – tiba saja muncul tepat di depanku.


“Ikuti aku !”


Suara itu terdengar dari cahaya putih tersebut, mereka seolah olah ingin menunjukkan jalan keluar kepadaku. Jika diriku tidak dalam kondisi yang darurat, mungkin saja aku tidak akan mengikuti perintahnya. Karena hal itu terlihat sangat mencurigakan sekali.


Namun dalam situasi seperti ini, aku tidak punya pilihan lain selain mempercayai mereka. Dengan tekad yang kuat aku pun berlari menuju ke arah cahaya kecil tersebut, sebelum diriku sampai ke arah cahaya kecil itu, cahaya tersebut seketika menghilang dan muncul lagi agak jauh dari tempatnya semula berada.


Hal tersebut terus berulang kali terjadi, sampai akhirnya diriku sampai di sebuah titik di mana cahaya tersebut menghilang dan tak muncul kembali. Melihat tidak ada cahaya kecil tersebut, aku pun seketika berhenti dan mencoba melihat ke sekelilingku. Diriku juga melihat ke arah belakangku untuk mengecek apakah monster – monster kecil itu masih mengejarku.


Sejauh ini yang kulihat, tidak ada monster sama sekali di sekitarku. Diriku hanya merasakan kesepian yang sunyi menyelimuti tempat tersebut. Dengan pandangan yang terpacu pada titik di mana cahaya kecil itu menghilang, tiba – tiba saja terlihat sesosok anak kecil yang sedang murung dan menangis.


Rintihan tangisannya membuatku kasihan terhadapnya. Aku pun berjalan secara perlahan lahan menuju ke arahnya. Semakin dekat diriku dengan anak tersebut, semakin jelas juga penglihatanku terhadapnya. Setelah diriku sampai di belakang anak itu, aku pun membungkuk tubuhku untuk bisa sejajar dengannya. Dengan sikap yang lembut, aku pun menyapa anak itu sambil memegang kepalanya.


“Kenapa kamu menangis wahai adik kecil ?”


Anak kecil itu pun sedikit terkejut saat mendengar suaraku dan sentuhan tanganku di kepalanya. Dari ekspresi wajahnya yang kulihat, anak kecil tersebut seraya tidak percaya bahwa ada orang yang bersamanya. Setelah ia sempat terkejut sesaat, ia pun kembali mengeluarkan air mata dari kedua matanya dan jatuh membasahi kedua pipinya.


“Huaaaa ! Aku takut ! Aku takut kakak !” ujarnya sambil memeluk tubuhku.

__ADS_1


Aku pun sedikit terkejut saat melihatnya tiba – tiba memelukku sambil menangis. Setelah itu aku pun tersenyum kepadanya mencoba untuk memberinya semangat untuk bangkit kembali.


“Tenang saja, ada aku di sini ! Kamu tidak perlu bersedih lagi !” Ujarku sambil tersenyum tulus kepadanya.


Dalam dekapanku, anak kecil itu terus menangis. Aku hanya bisa mengelus elus kepalanya sampai ia merasa baikkan. Setelah ia berhenti menangis, dirinya berterima kasih kepadaku dan sedikit kembali ceria.


Aku pun kembali berdiri dan menggenggam tangannya. Sambil menggenggam tangannya yang kecil, aku mencoba mencari tahu asal usul dirinya sampai bisa tiba ke dalam labirin.


“Siapa Namamu ?”


Dengan wajah yang polos dan sedikit lebam di matanya, ia seketika menjawabku dengan suara yang tersendat – sendat.


“Na—Namaku adalah Ruru ? Orang tuaku memanggilku seperti itu !”


“Hmm, Ruru kah, nama yang indah ya”


“benarkan, aku sangat suka dengan nama itu. Setiap kali kata itu terucap, aku selalu ingat kepada ibuku !”


“Jadi seperti itu ya, lalu bagaimana dengan ayah dan ibumu ? Dimanahkah mereka ?”


Mendengar pertanyaanku, si Ruru kecil merubah ekspresinya yang pertama ceria menjadi lesu. Setelah itu Ruru kecil kembali meneteskan air matanya. Melihat kejadian tersebut, aku pun terkejut dan langsung meminta maaf kepadanya sambil menekukkan lututku supaya sejajar dengannya dan mengelus elus kepalanya.


“Hah !? Maaf, Apa kakak menyakiti perasaanmu ?”


Ruru kecil pun mengusap air matanya, ia seketika memperlihatkan wajah cerianya kepadaku.

__ADS_1


“Hmm bukan kok, Ruru hanya sedih saja tentang ayah dan ibu”


Aku pun merasa enggan untuk melanjutkan pertanyaanku kepadanya. Tapi sebaliknya diriku merasa khawatir tentang Ruru kecil.


“Jadi, kenapa kau ada di sini ? Dan apa kau juga sendirian pergi ke sini ?”


“Hmm !? Ruru selalu di sini sendirian. Ruru tidak punya siapa – siapa selain Ruru sendiri” Ujarnya dengan wajah yang polos.


Mendengar kalimatnya yang begitu menyedihkan, membuatku merasa iba dan khawatir akan dirinya. Kehidupan Ruru kecil yang ada di labirin ini membuatku teringat akan masa laluku yang hampir sama dengan dirinya.


Kehidupan di mana seseorang tidak dibutuhkan dan selalu dikucilkan terasa sakit sekali sampai bisa menyayat hati. Namun meski pun begitu, pasti ada sebab akibat kenapa hal itu sampai bisa terjadi.


Dengan penuh senyuman yang lembut, aku pun melihat Ruru sambil menyentuh kepalanya.


“Kalau begitu, apa kau senang jika ada seseorang yang menemanimu suatu saat ?”


“Ehh, Ruru akan punya teman suatu hari ?”


“Benar, dan temanmu itu pasti tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi !”


“Iyeeee, Ruru senang akan hal itu, semoga Ruru bisa cepat – cepat bertemu dengannya ! Dan kakak, semoga kakak juga bisa bertemu dengan Ruru kembali secepatnya, hmm tidak, maksudku semoga Sheida-sama bisa bertemu dengan Ruru kembali”


Anak itu berbicara tersebut dengan nada yang gembira, ia seketika melambaikan tangan seraya mengucapkan salam perpisahan denganku. Tak lama setelah ia melambaikan tangannya, aku pun terjatuh ke sebuah lubang yang tiba – tiba saja muncul di bawahku. Di saat yang sama diriku juga masih melihat bahwa si Ruru kecil masih melambaikan tangannya sampai dirinya menghilang.


Aku pun terjatuh cukup dalam ke lubang tersebut, diriku tak bisa melihat apa – apa melainkan hanya sececah cahaya kecil berwarna merah yang ada di sekitar lubang tersebut. Tak berapa lama kemudian aku pun sampai di dasar dari lubang tersebut, dan saat diriku melihat ke sekeliling aku pun menemukan sesosok Ruru yang sedang terikat rantai di tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2