
Kondisi di dalam sana pun menjadi tegang, diriku tidak paham kenapa pemilik penginapan sampai ingin menyerang diriku ini. Jika di lihat dari sikap dan ekspresi pemilik penginapan tersebut, terasa ada yang aneh dengan sikapnya itu.
“Ibu penginapan kenapa kau—“ sempat diriku ingin bertanya kepada beliau, ucapanku seketika di potong oleh serigala yang bersamaku itu.
“Hati – hati tuan ! Manusia ini mempunyai aroma iblis !” Ucap serigala tersebut kepadaku.
“Apa !!” ucapku sambil terkejut.
Diriku pun kebingungan dengan ucapan serigala tersebut. Kenapa ibu penginapan yang terlihat biasa – biasa saja memiliki aroma seperti iblis. Sepengetahuanku, diriku tidak mendeteksi adanya aroma iblis tersebut sewaktu Ruru dan aku datang ke tempatnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi ?” gumamku di dalam hati.
Ibu penginapan tersebut berjalan seperti seekor zombie, dirinya melangkah terbata – bata mirip seperti seorang boneka yang di kendalikan.
“Berikan Batu iblis itu kepadaku !” ucap ibu penginapan dengan suara yang berat.
Aku pun terkejut saat mendengar suara ibu penginapan yang berbeda jauh dari sebelumnya. Karena mendengar suara yang sangat berbeda tersebut, diriku pun berpikiran bahwa ibu penginapan ini sedang di kendalikan oleh seseorang.
“Siapa kau ? Dan apa maumu dengan ibu penginapan itu ?” teriakku kepada ibu tersebut.
“Cepat berikan batu iblis itu kepadaku ! Atau temanmu itu akan mati !” ancam ibu penginapan kepadaku.
“Cih”
“Bagaimana ini ? Jika aku menolak permintaannya maka Ruru berada dalam bahaya. Namun aku tidak tahu apa yang terjadi jika diriku memberikan batu iblis ini kepadanya” gumamku dalam hati.
Karena diriku tidak mempunyai pilihan lain lagi, dengan terpaksa diriku pun akan memberikan batu iblis ini kepada beliau, sebelum diriku sempat memberikannya, tiba – tiba serigala yang bersamaku itu berbicara melalui kekuatan telepatinya kepadaku.
“Tuan terus alihkan perhatian wanita itu, aku akan menunggu skill esku untuk membekukan tubuh wanita tersebut !” ujar serigala tersebut kepadaku.
“Baiklah” balasku kepada serigala tersebut.
Aku pun mencoba untuk terus bicara kepada ibu penginapan itu, diriku berusaha untuk memaksanya melihat ke arahku. Aku tidak tahu bagaimana skill yang akan di keluarkan oleh serigala itu, namun tugasku hanya mengalihkan pandangannya kepadaku saja. Aku percaya bahwa serigala tersebut akan berhasil melakukannya.
__ADS_1
“Baiklah ibu penginapan aku akan memberikan batu iblis itu kepada dirimu. Namun sebelum aku memberikan batu itu kepadamu beritahu aku di mana Ruru !” Ucapku kepada ibu tersebut.
“Cepat berikan batu itu kepadaku ! Jika kau tidak ingin memberikannya, maka” saat itu muncul seketika benda hitam yang menyerang diriku saat itu. Sayangnya kali ini targetnya berbeda, cairan hitam tersebut memutari tubuh ibu penginapan dan menjadi sebuah senjata tajam.
“Cepat berikan batu itu kepadaku ! Jika tidak, maka nyawa manusia ini akan lenyap tertusuk oleh senjataku !” ancamnya kepadaku.
“Cih” pilihan ini semakin sulit, orang yang mengendalikan ibu tersebut tidak ingin membuat waktunya terbuang dengan percakapanku. Diriku saat itu sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Dalam hatiku yang gelisah, aku berharap bahwa skill serigala tersebut segera bekerja.
Diriku pun terdiam dan tidak membalas perkataannya, aku hanya berharap bahwa serigala itu bisa secepatnya menggunakan skill miliknya tersebut.
“Akan aku hitung sampai 3, jika kau tidak segera memberikan batu itu kepadaku maka wanita ini dan temanmu akan mati !” orang tersebut lagi – lagi mengancam ku. Dia terus mendesak diriku dengan sanderanya tersebut.
“1.....2....3” (menghitung dengan lambat)
Cairan hitam itu pun bergerak mendekati tubuh ibu penginapan, di waktu yang bersamaan ternyata skill milik serigala tersebut pun aktif. Tiba – tiba di sekeliling tubuh ibu penginapan muncul sebuah dinding es yang tipis.
Dinding tersebut lebih cepat bergerak dari pada cairan hitam tersebut. Cairan hitam itu mengenai dinding yang tipis tersebut, saat melihat hal itu dengan cepat diriku pun berlari mendekati ibu tersebut dan memukul dengan kuat cairan hitam tersebut.
Pukulan tidak membariskan damage kepada cairan hitam tersebut, namun pukulanku membuat cairan hitam tersebut berceceran di mana – mana. Setelah terkena pukulan dariku cairan hitam tersebut masuk ke dalam dinding dan sela – sela lubang kecil di tanah.
Kejadian tersebut membuat suatu pertanyaan dalam pikiranku. Di satu sisi, diriku mengatakan bahwa ibu tersebut telah di kendalikan oleh seseorang. Sedangkan di sisi yang lain mengatakan hal sebaliknya. Pertanyaan – pertanyaan ini membuat kepalaku pusing sampai ingin meledak.
Satu – satunya cara untuk memastikan tentang kejadian ini adalah bertanya kepada orangnya secara langsung. Akan tetapi diriku takut bahwa ibu penginapan masih dalam kondisi di kendalikan oleh orang misterius.
Telinga serigala pun bergerak, dia melihat ke arah ibu penginapan dan berbicara kepadaku.
“Tuan seperti wanita itu sudah sadarkan diri” ucap serigala kepadaku.
“Apakah kau masih merasakan aura iblis dalam tubuhnya ?” tanyaku pada serigala tersebut.
“Tidak tuan, bau dari wanita itu tercium seperti seorang manusia pada umumnya. Tuan bisa tenang sekarang” ucap serigala tersebut.
Karena diriku tidak bisa merasakan aura iblis tersebut yang seperti apa, aku pun hanya bisa percaya kepada kemampuan serigala yang bersamaku itu.
__ADS_1
Tak lama setelah itu ibu penginapan pun terbangun, dirinya memegangi kepalanya sambil membuka kedua matanya.
“Aduh di mana aku ? dan kenapa aku berada di tempat yang dingin ini ?” ucap ibu penginapan yang kebingungan.
Setelah melihat ibu penginapan yang sudah siuman, aku pun meminta tolong kepada serigala itu untuk menghilangkan dinding es miliknya. Serigala tersebut menuruti perkataanku dan menghilangkan dinding es dari sekitar wanita tersebut.
Setelah dinding esnya lenyap, aku pun berjalan mendekati ibu penginapan itu. Diriku mengulurkan tangan kepada beliau untuk membantunya berdiri.
“Apakah ibu baik – baik saja ?” tanyaku kepada beliau.
“Hmm, oh ternyata kamu ! Aku baik – baik saja. Apa yang sedang terjadi di sini, dan kenapa ruang belakang terlihat kacau seperti ini, semacam Medan pertempuran ?” ucap ibu penginapan yang keheranan.
Aku pun menjelaskan tentang kejadian yang terjadi saat itu, diriku menceritakan kepada ibu penginapan bahwa dirinya sedang di kendalikan oleh seseorang untuk menyerang ku, dan anehnya lagi ibu penginapan membawa benda milik Ruru itu. Aku pun bertanya kepada beliau untuk menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
Beliau pun berpikir sejenak dan mulai menceritakan kejadian yang menimpanya. Beliau bercerita bahwa dirinya saat itu ingin mengambil bahan makanan di gudang, setelah masuk ibu penginapan melihat Ruru yang sedang terikat di atas kursi, tepat di ujung gudang tersebut. Karena terkejut ibu penginapan pun ingin menolong Ruru melepaskan ikatan tersebut, namun sebelum beliau sempat menyentuh tali yang mengikat Ruru, tiba – tiba ada sebuah benda cair yang berwarna hitam melompat ke arahnya. Setelah itu pun ibu penginapan tidak ingat apa – apa lagi.
Setelah mendengar cerita dari ibu penginapan itu, aku pun bertanya kepada beliau tentang tempat gudang tersebut. Ibu itu pun memberitahuku bahwa lokasinya berada di belakang penginapannya itu.
Aku pun langsung berlari menuju pintu yang berada di depanku tersebut, aku berpikiran bahwa pintu ini akan mengarahkan diriku ke tempat gudang tempat Ruru di tahan itu.
Ternyata dugaanku benar, di depanku terdapat sebuah gudang yang terbuat dari kayu. Aku pun membuka pintu gudang tersebut dan terkejut melihat ke dalamnya. Ternyata Ruru berada di dalam gudang tersebut dan sedang terikat.
Aku pun dengan cepat berlari ke arah Ruru dan memanggil namanya, sambil memanggil namanya aku pun berusaha untuk melepaskan ikatan yang berada di tubuhnya itu. Setelah ikatannya lepas aku pun mengguncangkan tubuh Ruru untuk membuat sadar.
Secara perlahan Ruru pun membuka kedua matanya, dia melihat ke arahku dengan keadaan seperti setengah sadar.
“Sheida-sama ?” ucap Ruru kepadaku.
Aku pun langsung memeluk Ruru dam merasa senang, diriku merasa lega bahwa Ruru tidak kenapa-napa. Sayangnya Ruru bertingkah tidak seperti dirinya. Dia tertawa terus menerus tanpa henti – henti.
“Ruru kau kenapa ?” tanyaku kepadanya.
Ruru pun melihat ke arahku dan seketika mencekikku dengan satu tangan. Dia mengangkatku ke atas dengan satu tangannya itu. Aku pun berusaha memberontak dari cengkeramannya itu, namun sayangnya cengkeraman Ruru benar – benar sangat kuat sampai membuatku sulit untuk bernafas.
__ADS_1
“Sheida-sama aku ingin kau mati” ucap Ruru sambil tersenyum keji.