
Dengan ekspresi yang penuh keterkejutan, diriku terbelalak melihat Ruru yang tengah pingsan dan tak sadarkan diri itu. Melihat Ruru yang sudah berada di depan mata, diriku langsung berlari ke arahnya untuk segera menghampirinya.
Tak berapa lama diriku melangkahkan kaki menuju ke arah Ruru, tiba – tiba dari dalam tanah keluarlah semacam benda hitam yang sangat tajam menyerang ke arahku. Saat melihat benda tersebut ingin menusukku, diriku pun dengan sontak melompat ke belakang mencoba menghindari benda hitam tersebut.
Setelah berhasil menghindar, diriku merasa pernah melihat benda itu di suatu tempat. Namun diriku merasa melupakannya karena terlalu fokus mencari Ruru. Tak lama setelah diriku berhasil menghindar, dari dalam bayanganku tiba - tiba muncul kepala serigala yang memberitahuku bahwa benda tersebut adalah benda hitam yang menyerang waktu di penginapan.
“Tuan ! Benda itu adalah benda yang sama menyerang kita waktu kita mencoba menyelamatkan temanmu !”
Mendengar kalimatnya, diriku pun berpikiran bahwa orang yang waktu itu adalah orang yang sama dengan orang yang menculik Ruru ini. Belum berapa lama kami sedang berdiskusi, tiba – tiba terdengarlah suara langkah kaki yang menggema dalam ruangan tersebut.
Dari balik bayangan hitam, tiba – tiba muncullah seseorang yang pakaiannya serba hitam dan gelap, orang itu memakai sebuah topeng untuk menutupi identitasnya. Melihatnya keluar diriku pun berpikir bahwa orang inilah yang menculik Ruru. Dari dalam hatiku, diriku akan membalas perbuatannya karena telah menculik Ruru.
Dengan suara yang berat, orang misterius itu pun berbicara kepadaku. Dirinya bertanya kepadaku tentang urusanku datang ke tempatnya ini.
“Siapa kau ? Dan apa urusanmu datang ke tempatku ini ?”
“namaku adalah Sheida Nayn, dan tujuanku kemari adalah untuk menjemput Ruru” ujarku sambil menunjuk ke arah Ruru.
“Ruru ? Maksudmu adalah gadis kadal ini ?” Ujarnya sambil melihat ke arah Ruru.
__ADS_1
“Iya, jadi kembalikan dia kepadaku !”
Setelah mendengar ucapanku, pria tersebut menolehkan arah pandangnya kepadaku lagi, kali ini dia bertanya dengan nada yang penasaran.
“Apa kau tahu apa yang kau bicarakan ini ?”
Mendengar kalimatnya, diriku pun terkejut sampai ekspresi wajahku ikut berubah. Melihat ekspresiku yang berubah, orang itu berkata kepadaku bahwa diriku masih belum tahu tentang identitas gadis kadal itu.
“Di lihat dari ekspresimu, kau belum tahu asal – usul gadis ini ya” ujarnya merendahkan.
Mendengar kalimat tersebut, diriku seketika naik darah dan marah karenanya. Diriku pun langsung menerjang ke arah benda hitam itu dan akan menyerang orang bertopeng tersebut. Setelah melewati benda hitam tersebut, diriku pun sangat dekat dengan orang itu dan akan memukulnya tepat di wajahnya, namun anehnya orang tersebut tidak menghindar sama sekali, dirinya seperti pasrah akan seranganku.
Melihat dirinya yang pasrah menerima pukulanku, entah mengapa diriku merasakan adanya semacam keraguan darinya, kenapa ia tidak menghindar dari seranganku, seperti kejadian ini sudah di prediksi olehnya.
Serangan itu sangat kuat sampai bisa menimbulkan efek yang seperti itu. Diriku juga merasakan dampaknya dari serangan tersebut. Bagian tubuhku yang terkena serangan tersebut merasa kesakitan sampai – sampai sulit untuk berdiri kembali.
Karena diriku tidak dapat bergerak, aku pun mencoba untuk mencari tahu dari siapakah serangan tersebut datang. Waktu melihat ke arah orang yang menyerangku, diriku sontak terkejut bahwa orang tersebut adalah anak kecil yang sempat aku selamatkan tadi, namun dia ikut masuk dengan orang yang aku temui sebelumnya.
Akan tetapi yang membuat diriku lebih terkejut lagi adalah badan anak tersebut berubah setengahnya menjadi sesosok monster yang menyeramkan, anak itu memiliki tanduk dan juga ekor, mirip seperti seorang monster yang menyeramkan. Kalau di bentukan lagi, seperti paduan antara chimera dan juga manusia. Yaitu memiliki bagian – bagian dari monster gabungan dan juga manusia.
__ADS_1
Diriku yang sedang tersangkut di dinding ruangan tersebut, berusaha untuk segera melepaskan tubuhku dari dinding itu. Setelah itu serigalaku muncul dari balik bayanganku dengan posisi yang siap untuk menyerang.
Setelah melepaskan diri dari dinding tersebut, diriku pun sempat terjatuh sesaat. Dengan penuh harapan aku pun berdiri kembali dan siap untuk bertarung. Dalam angan – angan ku diriku memikirkan tentang kejadian ini harus berakhir di sini.
Melihat diriku yang siap untuk bertarung, tiba – tiba saja tanpa ada peringatan monster setengah manusia dan setengah hewan itu, maju melesat ke arahku dengan kecepatan yang super cepat. Monster itu menyerangku dengan keganasannya, dirinya melesatkan cakarannya yang hampir mengenai wajahku.
Setelah menghindari serangan tersebut, diriku pun berusaha untuk melawannya. Segenap tenaga diriku mengepalkan tanganku dan melancarkan sebuah serangan ke arahnya. Namun sayangnya serangan tersebut gagal mengenainya, langkahnya yang begitu cepat dan lincah membuat dirinya sulit untuk di lawan.
Monster tersebut menghindari seranganku dengan mudah dengan melompat ke sana dan ke mari selayaknya seekor monyet yang sedang berayun di sebuah batang pepohonan. Setelah itu dirinya berhenti di atap – atap langit sambil menujukan arah pandangnya kepadaku.
Selama beberapa detik kami pun saling memandang, Kami serasa terpaku melihat satu sama lain seperti sedang mengukur kemampuan – kemampuan yang kami miliki. Setelah beberapa detik berlalu, monster setengah manusia dan setengah hewan itu tiba – tiba saja melepaskan cengkeramannya dari langit – langit dinding dan turun dengan sedikit akrobatik. Dirinya berputar balikkan badannya hingga jatuh ke tanah dan mendarat dengan sempurna.
Melihat hal seperti itu diriku serasa terkesan sejenak, namun diriku tidak boleh menampakkan ekspresi wajahku kepada musuh – musuhku. Diriku hanya menampakkan ekspresi wajah yang datar saja, aku melakukan hal tersebut seolah hal itu sudah biasa terjadi padaku.
Setelah berhasil mendarat, monster itu kembali berdiri dan mengambil ancang – ancang untuk menyerangku lagi. Melihat posisinya yang siap untuk bertarung lagi, diriku pun kembali siaga dan bersiap untuk menerima serangannya.
Hal yang sama terulang kembali, monster tersebut tiba – tiba saja melaju cukup kencang ke arahku. Ia mengayunkan cakarannya mencoba untuk melukaiku. Selangkah demi selangkah, tubuhku bergerak mundur mencoba untuk menghindarinya, sambil menghindari serangannya diriku mencoba mencari cela untuk mendaratkan pukulanku kepadanya. Dan seketika kesempatan itu pun datang, tiba – tiba saja kaki monster tersebut membeku terkena serpihan es, diriku pun seketika menyadari bahwa ada kesempatan untuk mengalahkannya seketika maju dan siap untuk memberikan seranganku kepadanya.
Melihat diriku ingin mendekatinya, monster itu berusaha melepaskan dirinya sambil menyerangku. Namun sayangnya kali ini seranganku lebih cepat darinya, diriku melancarkan pukulanku ke arah wajah monster itu dan membuat terlepas dari es yang menahannya itu. Setelah itu aku pun perlahan lahan mendekatinya dan melihat keadaannya.
__ADS_1
Setelah cukup dekat melihat monster itu, diriku tak melihat adanya tanda – tanda kesadaran. Aku pun meyakinkan hatiku bahwa monster itu telah kalah, setelah itu aku pun melihat ke arah orang bertopeng itu dan selangkah maju menghampirinya. Tak lama setelah diriku mendapatkan 4-5 langkah, tiba – tiba saja tubuhku terhantam sebuah benda yang keras. Diriku pun kembali terpental ke dinding sambil melihat apa yang barusan saja terjadi.
Kembali lagi mataku terbelalak melihat keterkejutan yang membuat sampai ketakutan, anak kecil yang tadinya mempunyai setengah tubuh manusia dan juga gabungan hewan, tiba – tiba saja berubah bentuk tubuhnya seperti seekor iblis yang ganas, mempunyai 2 tanduk yang menjulang ke atas, dan juga 2 ekor yang sangat tajam.