
Melihatnya yang berubah bentuk lagi membuat diriku merasa terkejut sekaligus ngeri memandangnya. Aku pun kembali berdiri dan bersiap untuk bertarung sekali lagi dengan monster itu. Diriku yang tengah was – was akan monster itu, tiba – tiba saja di kejutkan oleh serangannya yang begitu cepat hingga sampai di depan wajahku.
Serangan tersebut begitu cepat sampai diriku tidak dapat menyadarinya. Serangan itu tidak dapat kuhindari, diriku hanya mengangkat kedua tanganku mencoba untuk menangkisnya supaya tidak terkena langsung ke wajahku.
Satu pukulannya sangat kuat sekali, sampai – sampai membuatku terdorong ke dinding ruangan, karena serangan tersebut diriku lagi – lagi terjatuh sampai membungkukkan badanku. Belum sempat diriku berdiri kembali, tiba – tiba saja monster itu melancarkan serangannya untuk kedua kalinya. Diriku sangat terkejut karena serangan dadakan itu, sampai – sampai membuatku lupa untuk menangkisnya.
Diriku pun terkena pukulan monster itu sampai ke sudut ruangan, karena kuatnya serangan itu, diriku terpental ke dinding untuk kedua kalinya, namun belum sampai tubuhku jatuh ke tanah, monster itu tiba – tiba saja berada di depanku. Monster itu melancarkan serangannya untuk yang ketiga, keempat, kelima, hingga bertubi tubi.
Diriku yang tidak diberikan kesempatan untuk menahan serangan tersebut hanya bisa pasrah menerima serangan yang super kuat itu. Setelah beberapa pukulan di lancarkan, monster itu tiba – tiba saja berhenti dan mengecek kondisiku apakah masih hidup atau sudah mati.
Asap yang menghalangi pandangan akhir menghilang, monster itu akhirnya dapat melihatku dengan jelas. Ia melihat ke arahku seperti memandang seekor hewan liar yang sedang sekarat, tubuhku terasa sakit dan nyeri bahkan sampai sulit untuk digerakkan. Monster itu menjulurkan tangan dan menggenggam kepalaku dalam satu kepalan tangannya, dirinya menginginkan kepalaku hancur dalam genggamannya.
Sebelum sempat ia meremas kepalaku, tiba – tiba saja dirinya di hentikan oleh orang bertopeng itu. Ia berkata kepada monster itu untuk tidak membunuhnya terlebih dahulu.
“Hentikan Cora ! Orang itu masih kita manfaatkan”
Mendengar kalimat tersebut, monster itu pun menjatuhkan diriku ke lantai, ia pun menyeretku ke depan orang misterius tersebut. Setelah tubuhku terseret ke depan orang misterius itu, ia pun bertanya kepadaku untuk membantu tujuannya. Ia berharap bahwa diriku menerima penawaran dari dirinya.
“Hei petualang, bagaimana kalau kita bertransaksi ?”
Mendengar kalimat tersebut diriku pun seketika mengerutkan dahiku karena keheranan. Aku pun berbalik tanya kepadanya tentang maksud transaksi yang di bicarakannya ini.
__ADS_1
“Apa maksudmu !?”
Setelah mendengar ucapanku, orang itu pun tiba – tiba saja beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke arahku. Sesampainya ia di depanku, dirinya pun membungkukkan badannya dan mulai berbicara kepadaku.
“Bagaimana kalau kau membantuku rencanaku, nanti aku akan memberikan imbalan yang setimpal kepadamu !”
Dengan tegas diriku berkata tidak kepadanya, diriku tidak ingin membantu seseorang yang telah menyakiti temanku. Mendengar kalimatku yang seperti itu, ia pun bangkit dari posisinya sambil memandang kepadaku dengan tatapan yang sinis. Kemudian ia pun berkata kepadaku bahwa diriku akan menyesalinya nanti.
“Kalau begitu yang kau inginkan, maka jangan sesali keputusanmu itu !”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun melihat ke arah monster yang tengah menekankan ke tanah sambil berkata : BUNUH DIA !
Mendengar kalimat yang di lontarkannya membuat tubuhku menjadi merinding, perasaanku mengatakan bahwa monster yang tengah menahan ku ini akan segera membunuhku. Setelah itu orang tersebut pun mengangkat tangannya ke udara sambil menggerak – gerakkannya, gerakannya seperti sedang menyuruh seseorang untuk membawa Ruru.
Melihat Ruru yang ingin di bawa pergi lagi, membuat diriku terus meronta – ronta, aku pun berusaha menggerakkan tubuhku supaya dapat meloloskan diri dari cengkeraman monster tersebut. Namun monster itu tidak membiarkan diriku untuk melakukannya, ia malah menggenggam tubuhku dengan sangat kuat sampai membuat tulangku serasa ingin patah.
Setelah berhasil membawa Ruru pergi dari tempat tersebut, orang itu pun pergi meninggalkan kami berdua di ruangan itu. Diriku berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman monster itu untuk mengejar orang tersebut. Namun sayangnya, setiap kali diriku memberontak untuk melepaskan diri, monster itu malah menekanku semakin kuat seperti ingin meremukkan tubuhku.
Akhirnya kami pun di tinggalkan oleh orang misterius itu, diriku tidak bisa mengejarnya karena monster ini, aku pun memutuskan untuk mengalahkan monster ini terlebih dahulu dan secepatnya segera mengejar Ruru.
Setelah tak melihat orang itu, aku pun mulai berbicara kepada monster itu. Diriku berharap bahwa kesadaran anak kecil itu masih ada dan diriku dapat melakukan negosiasi terhadapnya.
__ADS_1
“Hei, namamu Cora bukan ? Bisakah kau melepaskan diriku !”
Monster itu hanya menatap tajam kepadaku, ia tidak mengalihkan pandangannya bahkan berkedip pun tidak. Aku pun mencoba untuk berkomunikasi dengannya dan berharap bisa mengejar Ruru.
“Tolong ! Aku harus segera menyelamatkan Ruru, apakah kau tidak ingin menjalani kehidupan yang damai dan normal seperti anak yang seumuran denganmu ?”
Monster itu tidak berkutik sama sekali, ia terus memandangi diriku dengan tajamnya. Namun setelah di lihat – lihat, mata monster itu seperti mencerminkan bahwa dirinya tertarik akan ucapanku. Diriku hanya harus bisa menarik perhatiannya dan membuatnya sebahagia mungkin.
“Hei Cora, berhenti mengikuti keinginan orang bertopeng itu, kau masih mempunyai masa depan yang cerah”
Semakin lama mata monster itu semakin membesar, menandakan bahwa dirinya tertarik oleh ucapanku. Aku pun melanjutkan percakapan sepihakku dengan dirinya, diriku terus berusaha untuk menyelamatkannya dari jalan kegelapannya.
“Cora kau anak yang baik, kau tak perlu mematuhi perkataan orang bertopeng itu, kau tidaklah pantas menerima perilaku kejam seperti ini”
Mendengar kalimat yang kulontarkan kepadanya, tiba – tiba saja matanya kembali mengecil. Monster itu melihatku seperti seekor singa yang sedang mengintai mangsanya. Genggamannya pun semakin kuat, monster itu mengangkat tubuhku sampai wajah kami saling berhadap – hadapan.
Raut ekspresi yang ditujukannya sangat menakutkan, dirinya terlihat sangat marah dan menyeramkan. Monster itu pun mengaum di depan wajahku, setelah itu ia melemparkan diriku ke dinding.
Kekuatan lemparannya sangatlah kuat, diriku terpental ke arah dinding sampai – sampai hampir menembusnya. Belum sempat diriku untuk bangkit dari tempat itu, monster itu kembali dengan kecepatan yang super cepat dan seketika menyerangku.
Diriku tidak dapat menghindari serangan tersebut, aku hanya bisa menahan serangannya sekuat mungkin. Namun akibat serangan tersebut, diriku terdorong menembus dinding sampai ke ruangan yang sebelumnya, di mana diriku mengalahkan sebuah monster yang tergabung dari anak – anak itu.
__ADS_1
Aku yang tengah tersandar di dinding ruangan tersebut, secara perlahan lahan melihat ke arah pintu yang tersembunyi waktu itu. Dengan hentakan kaki yang keras, sampai membuat ruangan yang aku tempati itu menjadi bergema dan bergetar, muncullah sesosok monster yang kuat sedang menatapku. Dalam pikiranku diriku mengatakan bahwa ini akan menjadi pertarungan yang sengit.