Smartphone Hero

Smartphone Hero
Pertukaran


__ADS_3

Melihat adanya Ruru yang tengah terikat, aku pun bergegas menuju ke arahnya sambil memanggil – manggil namanya.


“Ruru ! Ruru !”


Sesaat sebelum diriku sampai kepada Ruru, tiba – tiba saja sesuatu yang keras dan besar menghantam tubuhku. Benda keras tersebut terlihat seperti sebuah ekor yang bersisik dan juga tajam.


Gara – gara hantaman dari ekor tersebut, aku pun terdorong kembali ke tempat semula diriku tiba. Aku pun mencoba melihat kembali kondisi di tempat tersebut dan ternyata bukan hanya kita berdua yang berada di tempat tersebut.


Dengan penuh keterkejutan, aku pun melihat sesosok makhluk yang merayap dan juga menjijikkan sedang berada di sekitar Ruru. Makhluk tersebut terlihat menakutkan karena matanya yang besar dan merah terus menatapku seolah-olah aku hanyalah sebuah makanan untuknya.


Keringat dingin pun menetes di dahiku, aku merasakan aura tekanan yang luar biasa kuatnya hanya karena makhluk tersebut menatapku. Kakiku tak berhenti gemetar dan juga terasa seperti terpaku di tempat.


Aku pun menelan ludahku, mencoba untuk menenangkan pikiranku dari rasa takut. Dengan penuh keyakinan, aku pun mencoba untuk menyerangnya selagi ada kesempatan. Tak raya seperti orang yang lagi kesakitan, makhluk tersebut yang terlihat sangat menyeramkan terkena satu hit dariku saja sudah ingin hancur. Aku pun merasa lega dan serasa bebas dari penderita rasa takut. Itulah yang aku pikirkan awalnya.


Namun tiba – tiba saja makhluk tersebut mengalami perubahan yang sangat drastis, dirinya yang awalnya hanya sesosok makhluk yang besar dan menyeramkan berubah menjadi tiga makhluk kecil yang terbagi – bagi dari tubuh awalnya.


Melihat kondisi yang seperti itu, aku pun merasa bahwa hal ini akan sangat sulit untuk aku lakukan. Akan tetapi saat aku melihat wajah Ruru yang tengah tertidur di tengah – tengah makhluk itu, aku pun menghilangkan keraguanku dan langsung menyerang mereka tanpa basa basi lagi.


Di tengah – tengah pertempuran kami, aku pun terdesak dan kesulitan sekali untuk bergerak masuk untuk mendapatkan serangan ke arah makhluk – makhluk itu, namun salah satu makhluk dari ke tiganya itu membuatku kesulitan karena ia sama sekali tidak beranjak dari tempat berdiri. Sedangkan dua di antaranya melakukan pergerakan yang sangat sulit sekali untuk di tebak.


Berulang – ulang kali aku terpental ke tempat semula aku datang, namun berulang – ulang juga aku bangkit kembali dan mencari cara untuk masuk ke tempat Ruru. Di tambah waktuku yang tak tersisa ini, aku harus segera menyadarkan Ruru dan membawa kembali dengan selamat.

__ADS_1


“Ruru, meskipun kau tertidur lelap di tempat ini, dan merasa enggan untuk meninggalkannya. Namun aku harus tetap menyelamatkanmu, karena aku sudah berjanji bahwa aku akan melindungimu meskipun harus mati !”


Dengan kalimat semangat yang aku keluarkan untuk diriku sendiri, membuatku tambah semangat dan percaya diri kembali. Dengan kekuatan penuh, aku pun mengumpulkan energi keseluruhan tubuhku, sampai – sampai energi itu merubah rambutku menjadi putih sebagian. DenganDengan tekad yang kuat aku pun menerjang ke arah monster itu sambil memanggil namanya.


“Ruruuuuuu !!”


Monster pertama yang menghalangiku langsung saja hancur dan terus menembus sampai ke monster yang kedua. Akan tetapi monster ke tiga yang selalu berada di dekat Ruru, tiba – tiba saja membuat tubuhnya menjadi sangat keras dan menjadi sebuah tameng untukku menembus ke dalam tempat Ruru.


Akibatnya kami pun akhirnya mengadu kekuatan kami, sama halnya dengan tombak dan sebuah perisai, manakah dari mereka yang akan bertahan di akhirnya. Dengan suara yang lantang aku pun memompa semangatku dan mencoba terus untuk menembusnya, dan pada akhirnya karena kekuatan tekad yang aku miliki, perisai dari tubuh makhluk tersebut hancur seketika.


Dari pertemuan yang sangat sulit itu, akhirnya aku dapat berada di depan Ruru, sambil mengambil mengeluarkan suara nafas yang sedang terengah – engah.


“Akhirnya aku bisa ke tempatmu Ruru, dasar kau gadis nakal !”


“Ruru bangunlah ! Ruru bangunlah !”


Di dalam kegelapan yang sunyi, Ruru pun terombang ambing tak menentu. Dirinya bagaikan sebuah buih yang tak menentu arah perginya ke mana. Ia mendekap dirinya seperti seekor kupu – kupu yang tengah dalam kepompongnya. Dirinya hanya menutup mata sambil bersembunyi dalam kegelapan.


Ia merasa bahwa hal tersebut adalah akhir darinya, dan ia tidak akan terkejut bahwa semua orang pada akhirnya pasti akan meninggalkannya. Akan tetapi dalam heningnya kegelapan yang sunyi, Ruru terus menerus membayangkan wajahku yang tersenyum ria kepadanya, dirinya juga mengingat sebuah kejadian di mana diriku sedang melindunginya.


Dalam hatinya yang kecil, ia terus membayangkan diriku sampai akhirnya ia berucap dalam hatinya sambil memohon kepadaku untuk segera menyelamatkannya.

__ADS_1


“Sheida-sama ! Tolong aku !”


Setelah panggilan suara yang kecil itu dalam hatinya, sececah cahaya kecil pun terlihat menyinari tubuhnya, ia seketika mendongakkan kepalanya sambil melihat ke arah cahaya tersebut, dalam sececah cahaya itu terlihat sesosok bayangan yang terus menerus memanggil namanya. Dalam hati kecilnya, Ruru tidak tahu siapakah orang yang tengah memanggilnya itu, namun saja dalam pikirannya, ia harus menggenggam tangan orang tersebut. Karena hati kecilnya berkata bahwa orang itu akan menyelamatkannya dari kegelapan yang pekat.


Setelah Ruru menggenggam tangan orang itu, perlahan lahan ia mulai bisa mendengarkan suara yang sangat familiar sekali dengannya yang tengah memanggil namanya. Dan ketika ia melihat sececah cahaya yang lembut menyinari tubuhnya, akhirnya Ruru pun terbangun dari kegelapannya. Dengan kedua matanya ia melihat sesosok Sheida-Kun yang tengah menyentuh pipinya.


“Sheida-sama ?”


Mendengar kalimatnya aku pun ingin mengeteskan air mata, aku pun sangat senang dan memeluknya erat sekali, diriku memeluk Ruru dengan rasa penuh rindu yang tak tertahankan. Dalam pelukan itu aku pun berucap terima kasih kepada Tuhan karena telah mengembalikan Ruru kepadaku.


“Syukurlah, engkau akhirnya bangun Ruru”


Dengan wajah yang memerah Ruru pun terkejut saat tiba – tiba di peluk olehku. Ia merasa canggung saat diriku melakukan hal tersebut, namun saat ia mendengar kalimatku, dirinya tersenyum dan membalas pelukanku.


Setelah kami melepaskan rindu itu, aku pun berkata kepadanya untuk segera bangun.


“Nah Ruru sekarang cepatlah sadar !”


Di dunia nyata di mana Ruru yang mempunyai mata seperti iblis yang kejam tiba – tiba saja tersadar kembali dan memunculkan kembali matanya yang indah. Ia seketika melihat diriku yang ada di depannya sambil tersipu malu di depanku.


“Akhirnya kau kembali Ruru—”

__ADS_1


Batuk darah pun keluar dari mulutku, Ruru tidak menyadari bahwa saat ia berada di dunia mimpi atau ingatan, dirinya yang satunya melawanku. Dan saat ia melihat ke arah tangannya, Ruru melihat bahwa tangannya menembus dadaku, yang di mana ia merasa khawatir dan syok saat itu.


__ADS_2