
Dengan wajah yang sayu lesu Ruru pun melihat kejadian tersebut seakan tak percaya bahwa itu adalah sebuah kenyataan yang pahit. Wajahnya sangat depresi sekali melihat bahwa ia menusuk diriku dengan tangannya sendiri.
Dengan sedikit tenaga yang tersisa, aku pun mencoba meraih tangan Ruru yang penuh dengan darah, dan saat setelah diriku memegang tangannya, aku pun memeluk dirinya sambil berkata bahwa semua yang telah terjadi bukanlah salahnya.
“Ukh ! Ruru, ini bukanlah salahmu, semua ini di lakukan oleh iblis yang ada dalam dirimu. Dan aku percaya bahwa kau tidak memiliki sisi jahat, Ruru yang aku kenal adalah sesosok orang yang ceria, dia cerdas dan juga lucu. Oleh karena itu jangan bersedih dan menyalahkan dirimu sendiri ya. Ukh !!"
Ruru yang melihat keadaanku semakin memburuk, membuatnya tak menahan tangis air matanya. Dalam matanya yang indah dan juga besar terbendung air mata yang mulai membasahi pipinya, ia meneteskan air matanya yang lembut sampai menetes ke padaku.
Dan sesaat setelah melihat kejadian tersebut, aku pun mulai merasa kantuk yang tak tertahankan. Dalam keheningan yang sunyi, aku pun mulai tak mendengar lagi suara tangisan dari Ruru, ia seolah-olah sedang berbicara namun tak bisa mengeluarkan suara. Dan dalam hitungan detik, aku pun memejamkan mataku sambil menghembuskan nafas terakhirku.
Dalam kepergian ku, Ruru pun menjerit dengan tangisannya yang keras. Tangisannya itu memancarkan bahwa ia merasa tidak rela akan kepergianku. Tangisannya yang keras memancarkan sebuah cahaya yang berkilau. Cahaya itu berpencar ke seluruh tempat dari benua ini. Dan saat seseorang manusia atau pun makhluk hidup yang terkena cahaya itu, para makhluk itu dapat merasakan kesedihan yang mendalam karena kepergian seseorang yang dicintainya.
Setelah satu tetes air mata yang menyentuh ke kepalaku, Ruru pun beranjak dari tempat semula ia mendekapku dan berpindah ke sini yang satunya. Dan tak lama setelah ia berada di sisiku yang lain, ia pun mendekatkan kepalanya sampai kepada telingaku, dengan suara yang sedikit serak dan lembut ia berkata bahwa jika ada kesempatan untuk bertemu denganku lagi, maka ia akan menyerahkan seisi jiwa dan raganya untukku.
Dalam keheningan yang sunyi bercampur sedih yang mendalam, Ruru pun berkata dalam hatinya bahwa jika ada cara untuk mengembalikan masa di mana kami bersama. Maka ia akan melakukan apa pun hal itu.
Dan tak lama setelah Ruru berucap kalimat tersebut dalam hatinya, maka sesosok tawa muncul sangat keras di sekelilingnya. Dalam munculnya tawa tersebut terjadi juga sesuatu yang tidak dapat diperkirakannya. Di mana saat itu juga semua yang ada di sana sekejap berhenti, seakan – akan waktu telah berhenti selama sesaat.
Dan hanya Ruru seorang saja yang dapat bergerak secara leluasa. Ruru pun sontak terkejut akan kejadian tersebut, ia seketika melihat dan mencoba memanggil orang yang berada di situ saat itu. Dan saat ia berusaha berbicara dengan orang di sekitarnya, muncullah sesosok Undead di dekatnya.
Dengan suara tawa yang menggelegar lantang. Undead tersebut memancarkan aura intimidasi yang kuat seolah – olah ia ingin menghancurkan tempat tersebut hanya dengan auranya. Undead yang terlihat menyeramkan tersebut tidak terlihat seperti seekor manusia tengkorak seperti biasanya, di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota yang membara, di mana mahkota itu membuat penampilannya menjadi sesosok yang menyeramkan. Dari balik jubah hitamnya ia mencoba meraih Ruru dengan tangan tengkoraknya, ia seketika menghentikan tindakannya dan mulai menurunkan kembali tangannya.
“Apa kau yakin dengan perkataanmu barusan ?” ujar Undead tersebut.
__ADS_1
“Apa maksudmu ?”
“ Aku bertanya tentang keinginan hatimu ! Bukankah kau tadi ingin menyelamatkan orang ini ?” Ujar Undead tersebut sambil menunjuk ke arahku.
Ruru pun terkejut mendengar perkataannya itu, ia seketika terdiam seakan tak percaya bahwa monster menyeramkan ini bisa menyelamatkan orang yang di cintainya.
“Apa benar kamu bisa menyelamatkan Sheida-sama ?”
Tengkorak tersebut seakan tersenyum mendengar kalimat Ruru, ia seketika bersemangat dan merasa tertarik dengan Ruru saat terpancing oleh perkataannya.
“Benar ! Aku bisa menyelamatkan hidupnya yang sedang sekarat ini. Namun, mungkin bayarannya adalah setengah dari hidupmu ! Apa kau masih mau melanjutkannya ?”
Ruru pun termenung sesaat mendengar penjelasannya, ia seketika mengepalkan tangannya dan menaruhnya di depan dadanya. Setelah itu ia kembali menatap Manusia Tengkorak tersebut dengan penuh keyakinan.
Sang tengkorak pun terdiam mendengar ucapannya yang begitu yakin tentang apa yang dilakukannya. Ia seakan tidak peduli dengan konsekuensinya meskipun hal itu menyangkut hidupnya.
Melihat keyakinan yang begitu kuat, Undead tersebut seakan tak percaya akan perkataan dari Ruru. Manusia yang dari dulu ia kenal yaitu sesosok makhluk yang bengis, serakah, dan tamak tak percaya bahwa ia akan mengorbankan dirinya untuk orang lain. Oleh karena hal itu King Undead tersebut merasa bahwa keyakinan dan keteguhan hatinya sangat kuat.
“Hmmm, baiklah kalau begitu ! Aku akan membantumu !”
Ruru pun menegakkan tekad hatinya, ia meyakinkan dirinya untuk bisa menyelamatkanku dari ujung jurang kematian.
“Mungkin hal ini akan sangat menyakitkan untukmu, maka aku akan mengatakan satu kali lagi. Jika ingin mundur sekaranglah saatnya !”
__ADS_1
“Tidak ! Aku tidak akan mundur meskipun hanya selangkah !”
“Baiklah kalau kau sudah menguatkan tekadmu ! Sekarang Ciumlah Dia !”
“Baiklah ! Tunggu apa !?”
“Apa ?”
“Kenapa Harus ciuman !? Bukankah seharusnya melakukan sebuah ritual untuk hal itu ?”
Setelah itu King Undead tersebut menjelaskan tentang kinerja cara kerjanya. Ia berkata bahwa sumber energi bisa di saluran ke orang lain melalui kontak fisik, dan yang paling efektif adalah dengan cara berciuman.
Setelah menjelaskan seperti itu, King Undead tersebut bertanya tentang keyakinan Ruru. Ke manakah perginya tekad dan semangatnya barusan.
“Ke mana perginya Tekadmu yang barusan ? Bukankah kau bilang tak akan mundur meskipun hanya selangkah ?”
Ruru pun kembali menundukkan, selama sesaat ia termenung dan menegakkan kembali kepalanya. Selepas hal itu, Ruru pun berjalan secara perlahan ke arahku, ia seketika duduk di dekatku sambil memegang tangan kananku.
Dengan penuh keyakinan, Ruru mulai beranjak untuk menciumku. Bibirnya yang manis menyentuhku dengan lembut, dan setelah melihat kami berdua berciuman, Undead tersebut meletakkan tangan tengkoraknya ke tanah. Dan setelah itu sebuah lingkaran sihir pun aktif.
Selepas Ruru mencabut ciumannya dariku, Undead tersebut berkata kepadanya, bahwa kontrak telah terlaksana. Dirinya juga berpesan kepada Ruru bahwa ia harus menuruti apa pun keinginan dariku. Dan juga ia berkata kepadanya untuk selalu memberikan sebuah ciuman setiap harinya supaya ia bisa bertahan hidup. Dan setelah hal itu ia berkata bahwa Ruru telah resmi menjadi pelayanmu.
Sebelum ia membatalkan sihir waktunya, ia juga menambahkan sebuah pesan kepada Ruru, bahwa dirinya tidak akan bisa menggunakan kekuatan sihirnya karena telah tersegel atau tertanam di dalamku. Habis Undead tersebut menjelaskan semua tentang rinciannya, ia seketika pergi dan menghilang dari hadapan Ruru. Dan setelah itu dunia kembali ke keadaan normal seperti semula.
__ADS_1