Smartphone Hero

Smartphone Hero
boneka dan orang misterius


__ADS_3

“Ruru apa yang kau lakukan ?” Ucapku sabil mencoba untuk bernafas.


Ruru hanya melihat ke arahku dengan tatapan penuh kebencian. Diriku berusaha keras untuk menyadarkan dirinya. Aku terus mencoba berbicara dengannya supaya dia sadar. Namun dia sama sekali tidak merespon panggilanku itu.


“Tuan coba kau sentuh kepala gadis itu dengan tanganmu !” Ucap serigala iblis kepadaku.


“Apakah itu akan menyakiti Ruru ?” Tanyaku penasaran.


“Cepat lakukan saja tuan ! Jika tidak nyawamu berada dalam bahaya” ujar serigala tersebut.


Saat itu diriku pun berpikiran untuk melepaskan cengkeraman tangan Ruru dariku. Mau tidak mau aku hanya bisa mencoba perkataan serigala tersebut. Aku pun mengulurkan tanganku ke arah kepala Ruru. Dan saat diriku menyentuh kepala Ruru tiba – tiba muncul sebuah cahaya berwarna merah terang di sekitar tanganku.


Karena cahaya tersebut, kami akhirnya bisa terlepas. Kami berdua tiba – tiba terpental akibat cahaya tersebut. Setelah diriku dapat lepas dari cengkeraman tangan Ruru, aku pun dapat bernafas dengan lega. Akibat dari cengkeraman tersebut, leherku mempunyai bekas lembam tangannya.


*Ukh. Ukh. Ukh.*


“Tuan kau tidak apa – apa ?” tanya serigala yang merasa khawatir.


“Aku baik – baik saja ! Bagaimana keadaan Ruru ?” tanyaku kepada sang serigala.


“Sepertinya temanmu itu tidak sadarkan diri tuan, setelah kalian berdua terpental, ia langsung pingsan seketika. Selain itu dirinya baik – baik saja tuan” ujar serigala tersebut kepadaku.

__ADS_1


Aku pun mencoba untuk berdiri kembali, sambil memegangi leherku yang sedikit sakit, diriku bertanya – tanya tentang kejadian hal ini.


“Ruru apa yang sudah terjadi kepadamu ?” ucapku dalam hati.


Setelah kejadian tersebut, ibu penginapan yang melihat Ruru tak sadarkan diri langsung menyuruhku untuk membawanya ke kamar miliknya. Beliau menyuruhku untuk membiarkan Ruru tidur di kasurnya.


Setelah membawa Ruru ke kamar ibu penginapan, diriku berdiam sejenak melihatnya terbaring di atas ranjang. Dalam hatiku, diriku merasa sedih dan juga gelisah. Diriku sempat bimbang sesaat karena hal itu.


“Tuan apa kau merasa tidak enak ?” tanya serigala dari dalam bayanganku.


“Tidak, aku tidak apa – apa” ucapku kepada serigala itu.


Untuk beberapa saat diriku terus menatapi Ruru yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu. Aku berharap dia akan segera sadarkan diri.


Tangan ibu penginapan pun menyentuh pundak ku. Beliau berkata kepadaku bahwa diriku harus makan untuk menjaga kesehatan tubuhku. Entah mengapa diriku saat itu, tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Aku hanya terus menerus melihat ke arah Ruru.


“Nak ! Kamu harus makan, jika tidak kamu akan sakit. Dan jika kamu sakit tidak ada yang seseorang yang merawat Ruru nantinya !” ucap ibu penginapan kepadaku.


Karena terus di paksa oleh ibu penginapan diriku pun akhirnya mau untuk di ajak makan malam. Nun setelah duduk di meja makan, diriku sama sekali tidak menyentuh makanannya. Diriku hanya melihat makanan itu sambil memikirkan Ruru.


Ibu penginapan yang melihat tingkah lakuku tersebut, merasa kasihan kepadaku. Beliau berkata kepadaku untuk tetap semangat dan terus berdoa untuk kesadaran Ruru. Aku pun hanya mengangguk kepada beliau dan berterima kasih atas nasihatnya.

__ADS_1


Lepas itu diriku pun berdiri dari meja makan dan pergi keluar untuk mencari udara segar. Setelah keluar dari penginapan ibu tersebut, diriku pun hanya berjalan tanpa arah dan tujuan. Diriku hanya melangkah mengikuti arah langkah kakiku berjalan.


Tanpa di sadari diriku tiba – tiba berada di sebuah tempat yang rapuh. Tempat tersebut terlihat seperti sudah lama di tinggali. Terlihat seperti sebuah rumah yang hampir roboh. Setelah melihat ke rumah tersebut diriku pun memutuskan untuk mengecek ke dalamnya.


Tak beberapa lama diriku berjalan memasuki rumah tersebut, tiba – tiba terdengar sebuah suara seperti seorang yang sedang berbicara. Dari kejauhan diriku merasa pernah sesekali mendengar suara orang tersebut.


Karena penasaran diriku pun memutuskan untuk melihat sesosok orang yang mungkin aku kenal ini. Secara diam – diam, diriku mencoba menguping pembicaraan orang tersebut. Setelah cukup dekat dengan sumber suara tersebut, diriku melihat seseorang laki – laki yang sedang berbicara dengan sebuah boneka.


Saat itu diriku merasa terkejut dan sedikit perasaan tenang orang tersebut. Kenapa dirinya sampai berbicara dengan sebuah boneka di tempat yang sepi dan menyeramkan seperti ini, pikiranku tidak karuan. Diriku terus membayangkan sesuatu yang tidak enak dari orang tersebut.


Belum lama diriku melihat orang tersebut, tanpa di sadari orang itu sedang membicarakan tentang batu iblis. Dia juga berbicara kepada boneka yang bersamanya mengenai diriku dan juga Ruru. Saat mendengar hal tersebut aku pun tambah penasaran. Diriku mencoba untuk terus mendengarkan orang itu berbicara.


Dalam benakku mungkin diriku bisa mendapatkan informasi tentang orang yang menyekap Ruru itu. Beruntungnya diriku saat mendengar sebuah informasi yang aku inginkan. Satu hal yang diriku tidak paham akan pembicaraan orang tersebut dengan bonekanya, yaitu tentang batu iblis, guci emas, darah, pengorbanan. Kata – kata tersebut sangat membuatku bingung sekaligus penasaran.


Dalam benakku muncul sebuah pertanyaan untuk benda – benda tersebut. “Untuk apa benda itu di gunakan dan apa fungsinya ?” karena hal tersebut diriku tambah penasaran dan mencoba untuk lebih dekat kepada orang tersebut.


Tanpa kusadari, saat diriku melangkahkan kakiku untuk mendekati orang tersebut. Tanpa sengaja diriku menyenggol sebuah rak buku, yang membuat beberapa buku di rak tersebut berjatuhan. Suara buku – buku tersebut terdengar cukup keras sehingga membuat orang yang aku mata – matai itu langsung menoleh ke arahku.


Setelah melakukan hal tersebut diriku pun mencoba untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Dan lagi – lagi saat aku ingin berlari keluar dari tempat itu, tiba – tiba di depanku muncul sesosok monster Undeath yang terlihat seperti seorang tentara dengan badan yang besar dan mempunyai kepala banteng.


Karena kondisi yang tidak menguntungkan diriku saat itu. Aku mencoba untuk melawan Undeath tersebut. Namun sayangnya sebelum sempat diriku bertarung dengan Undeath tersebut, tiba – tiba di bagian belakang leherku. Diriku merasakan sebuah suntikan kecil yang membuat tubuhku menjadi lemas dan tak berdaya.

__ADS_1


Karena hal tersebut, salah satu kakiku menjadi lemas dan membuat diriku bertekuk lutut di depan musuh – musuhku. Mataku melihat ke arah orang yang berbicara dengan bonekanya itu. Dia memegangi bonekanya itu dan memandang diriku dengan penuh ke angkuhan.


Aku mencoba melawan rasa kantuk yang terus menerus menyelimuti tubuhku itu. Aku mencoba untuk bertahan dan membuka kedua mataku supaya tetap sadar. Namun hal itu sama sekali tidak berguna kepadaku. Pada akhirnya diriku tergeletak pingsan di depan musuh – musuhku.


__ADS_2