Smartphone Hero

Smartphone Hero
Sheida Dan Demon Ruru


__ADS_3

Suasana tempat itu mulai menjadi sunyi, angin yang lembut mengangkat butiran debu terbang ke langit. Dan di saat itu juga diriku tidak dapat mendengar suara sekecil apa pun, melainkan hanya sebuah angin yang menerpa tubuh kami. Kami hanya saling memandang dan bersiap untuk serangan yang akan datang. Dan ketika debu yang beterbangan di udara itu mulai turun kembali, pertarungan kami pun di mulai.


Aku pun berlari ke arah Ruru dan mulai menyerangnya. Meskipun kami sudah memulai pertarungannya, diriku sudah bisa mengukur kekuatan Ruru saat itu, dirinya sangat kuat jauh melebihi kekuatannya dulu. Meskipun begitu aku harus bisa menyadarkannya kembali dan mengalahkan iblis ini. Tak peduli seberapa besar perbandingan kekuatan kami aku harus mengalahkannya.


Beberapa menit pun terlewati, pertarungan itu sangat lama hingga terasa seperti sudah berjam jam kami bertarung. Namun semakin lama diriku bertarung dengannya, maka semakin cepat juga tubuhku kehilangan tenaga, maka dari itu aku harus bisa mengalahkannya sebelum hal itu terjadi.


Ruru yang terbang ke sana dan kemari terus saja memperhatikanku dari udara. Ia sudah tahu bahwa tubuhku tidak akan kuat dan mulai melemah seiringnya waktu berjalan.


“Kenapa Sheida-Kun ? Apa kau sudah kelelahan ? Yah Wajar saja sih kau kelelahan, karena kau terus bertambah saat ini, tubuhmu pasti tidak akan kuat menahannya, dan saat hak itu terjadi maka aku akan mudah untuk membunuhmu !”


Aku pun mendongakkan kepalaku ke atas dan melihat dirinya sambil tersenyum menyeringai.


“Hah ! Jika segini saja aku kualahan, berarti aku sudah mati dari dulu. Kau pikir berapa banyak pertarungan yang aku jalani hah sampai saat ini ? Dan juga jika aku bisa bertahan cukup jauh maka ini bisa menandakan bahwa kau itu lemah dariku !”


Wajah Ruru pun tampak kesal setelah mendengar ucapanku, ia seketika mengecilkan matanya dan menatapku dengan aura yang penuh kematian.


“Kau pasti akan menyesali perkataanmu itu ! Tak peduli meskipun kau dulunya adalah temanku, jika sampai berani dirimu meremehkanku, maka aku tidak akan memaafkanmu !”


Ruru pun mulai menyerangku, ia seketika menukik dan melesat dengan cepat untuk ke arahku. Saking cepatnya gerakannya itu, membuat diriku sulit untuk menghindarinya, dan hasilnya ia dapat melukaiku di bagian samping perutku.


Luka yang di akibatkannya cukup parah, andai saja aku tidak bergerak sesaat setelah serangannya, tubuhku pasti akan terbelah menjadi dua. Kekuatannya saat marah benar – benar berbeda dari pertarungan kami sebelumnya.

__ADS_1


“Bagaimana ? Kau menyukainya ? Aku pasti akan membunuhmu dengan rasa sakit yang luar biasa”


Dan seketika itu Ruru pun kembali menyerangku dengan cara yang sama berulang ulang kali, kecepatan dari setiap serangannya semakin cepat dari serangan yang sebelumnya. Dan dalam posisi itu diriku tidak akan bertahan lama jika tidak menemukan cara untuk mengatasi serangannya ini.


“Menyerah sajalah ! Kau tak akan menang melawan ku ! dan jika kau mau memohon ampun, aku mungkin akan mempertimbangkan dirimu untuk menjadi pengikut ku !”


“Kau itu tuli ya, meskipun kau membujukku atau memberikan segala sesuatu di dunia ini aku tidak akan pernah mau menjadi pelayanmu !”


“Dasar manusia yang keras kepala ! Kalau begitu matilah di tanganku !”


Ruru pun menyerangku dengan cara yang sama lagi, ia seketika melaju dengan kecepatan penuh sampai – sampai diriku sulit untuk melihat gerakannya. Namun, meskipun begitu aku tidak Sudi di kalahkan dengan cara yang sama berulang kali. Hanya dengan waktu sedetik saja, diriku merasa bahwa Ruru akan menusukku tepat di bagian jantung. Aku pun seketika menekukkan lututku sehingga serangannya melenceng dari sasaran.


Meskipun rencana ini cukup berbahaya, namun hal itu cukup efektif. Ruru menusukku di bagian pundak, dan saat dirinya berdiri tepat di depanku, di saat itulah satu – satunya kesempatanku untuk menyadarkannya kembali.


Saat diriku mempunyai kesempatan untuk menyadarkannya kembali, aku pun tak akan melepaskannya, meskipun kesempatan itu bisa membunuhku. Rasa sakit yang luar biasa kuat ini terus aku tahan, sampai aku bisa membuat kembali ke dirinya yang dulu lagi.


Dengan sekuat tenaga aku pun mendorong Ruru jatuh ke tanah, pikiranku saat itu mengatakan bahwa aku harus membelenggu pergerakannya. Posisi saat aku menjatuhkan diri bersamaan dengannya, mirip seperti kejahatan seksual. Namun meski halnya begitu, jika perbuatan yang aku lakukan ini untuk Ruru, maka aku rela untuk di cap sebagai kriminal.


Dengan wajah yang datar Ruru pun melihat ke arah mataku, ia sama sekali tak berpaling atau pun berkedip darinya. Kami membuat kontak mata untuk waktu yang singkat sebelum akhirnya dirinya memulai pembicaraan denganku.


“sepertinya kau tampak kesakitan ya ?” ujarnya dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Aku pun terdiam mendengar kalimatnya, rasa sakit yang aku alami membuatku sulit untuk membalas perkataannya itu. Meskipun begitu, diriku tidak bisa menutupi nafasku yang tengah terengah-engah di hadapannya.


“Hah ! Jika hanya luka segini saja, itu tidak akan membunuhku !” ujarku sambil tersenyum menyeringai.


“Oh, benarkah begitu ?”


“Ya”


“Jadi apa maksudmu melakukan hal ini kepadaku, kau tahu kan bahwa perbuatanmu ini akan sia – sia. Melihat dari kemampuan kita yang jauh berbeda ?”


“Iya aku sudah tahu akan hal itu. Tetapi meskipun begitu aku akan menyadarkanmu kembali Ruru”


“Apa maksudmu tentang menyandarkanku ? Aku ini baik – baik saja, aku hanya terlahir kembali dengan wujud baru saja, meskipun begitu ingatanku tetap diriku yang dulu. Jadi untuk apa kau menya—”


“Kau !.... Bukanlah Ruru yang aku kenal, kau hanyalah sesosok iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya saja. Kau mencoba untuk mengambil alih tubuhnya hanya untuk dirimu sendiri. Ruru yang aku kenal tidak akan pernah menjadi sesosok iblis sepertimu !!”


Saat itu tubuhku memancarkan sebuah cahaya energi yang besar, cahaya itu memancarkan kilauannya sampai ke plososk negeri. Dan dengan munculnya cahaya tersebut aku pun memasuki alam bawah sadar dari Ruru.


Di dalam kegelapan yang pekat, aku pun menjelajahi ingatan Ruru. Dalam hal itu, tubuhku melayang – layang mencoba mencari tempat terdalam dari memorinya. Kejadian demi kejadian yang kami lalui bersama mulai muncul kembali melalui butiran ingatan yang menyerupai salju.


Ingatan – ingatan Ruru menceritakan tentang masa lalunya sampai bertemu denganku, akan tetapi semakin dalam aku memasuki alam bawah sadarnya, maka akan semakin suram juga akan ingatannya.

__ADS_1


Melihat kejadian yang buruk itu, diriku merasa kasihan kepadanya dan merasa ingin sekali berada di waktu itu untuk menghilangkan kemalangannya itu. Tak lama kemudian di tengah – tengah ingatan yang suram itu, terdapat sebuah ingatan yang berbeda. Ingatan itu agak lebih besar dari ingatan – ingatan sebelumnya. Setelah diriku cukup dekat dengannya, tiba – tiba saja tubuhku serasa di tarik masuk ke dalamnya. Seraya bahwa Ruru yang aku kenal berada di dalamnya.


__ADS_2