
Tamparan tersebut memang membuat diriku sadar kembali, namun entah mengapa diriku masih merasakan rasa nyeri di pipiku. Akan tetapi tamparan tersebut malah membuat tubuhku terasa segar kembali, dan juga luka – luka yang aku alami menghilangkan semua.
Karena kondisiku yang kembali stabil, diriku kali ini harus bisa mengalahkan monster tersebut dan juga menyelamatkan Ruru. Aku pun segera bangkit kembali dan bergegas menuju ke monster tersebut, aku khawatir jika monster tersebut tambah membuat kerusakan saat diriku terkapar.
Untungnya pikiranku tidak menjadi kenyataan, monster tersebut masih berada di tempatnya. Dirinya hanya melihat diriku yang bangkit kembali dari serangannya yang cukup mengerikan. Entah Cuma perasaanku saja, saat monster tersebut melihatku bangkit kembali, wajahnya menunjukkan keterkejutan, dan saat diriku melihat ekspresinya itu seraya ingin tertawa.
Tanpa basa basi lagi, diriku bersiap untuk melanjutkan pertarungan ini dan ingin memenangkannya. Kali ini dengan kondisi yang kembali seperti biasanya, aku pasti akan memenangkannya, pasti.
“baiklah, aku harus mengalahkanmu secepat mungkin dan pergi mencari Ruru !” ucapku sambil menunjuk ke arah monster tersebut.
Monster tersebut mulai mengerutkan keningnya, dirinya tampak marah karena hinaanku itu, dengan suara yang kencang dan keras, monster tersebut mengaum kepadaku. Dirinya tiba – tiba berlari ke arahku dan siap untuk menyerang.
Aku yang melihatnya menuju ke arahku, tentu saja tidak akan tinggal diam saja. Diriku tidak mengharap kalah untuk kedua kalinya. Dengan cepat diriku juga berlari ke arah monster tersebut dan bersiap untuk menyerangnya. Kekuatan kakiku sangat hebat, sampai membuat bangunan yang berada di belakangku menjadi goyang karena kekuatan anginnya.
Aku sudah tidak segan – segan lagi untuk menyerang monster tersebut, diriku menambah kecepatan lajuku, sampai hanya terlihat bayanganku saja. Dengan kecepatan yang super tinggi, diriku berada di depan monster tersebut terlebih dahulu. Dengan sekuat tenaga aku memukul monster tersebut tetap di batu yang menempel di dadanya.
Angin pun menghempas dari belakang monster tersebut, dan secara perlahan monster itu tumbang ke tanah dengan lubang yang cukup besar terukir di dadanya. Melihat monster tersebut yang sudah tumbang tak bernyawa lagi, diriku segera melihat sekeliling dan mencoba mencari keberadaan gadis yang aku selamatkan itu.
Karena gadis tersebut pernah berlari menuju ke arah bangunan, di situlah diriku mencoba untuk mencarinya dan mengecek apakah dirinya baik – baik saja. Dengan cepat diriku pergi ke bangunan tempat terakhir kali aku melihat gadis tersebut dan segera memasukinya.
“Hey, apa kau baik – baik saja” ucapku dengan lantang.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, diriku sama sekali tidak mendapatkan balasannya, namun setelah beberapa detik sunyi tidak ada suara, tiba – tiba terdengar sebuah suara dari arah dapur. Karena panik diriku langsung mengecek apakah ada monster di dalam sana.
“Hey, apa kau baik – baik-- !?”
__ADS_1
Sebelum diriku sempat menyelesaikan kalimatku, tiba – tiba saja kepalaku dipukul dengan benda yang keras. Pukulan tersebut mengeluarkan suara yang nyaring dan keras, sampai terdengar ke seluruh ruangan.
Diriku pun merasa kesakitan karena pukulan tersebut, sampai – sampai harus berbaring di lantai.
“Eh, ternyata kamu toh ! Maaf, maaf aku tidak sengaja. Aku pikir ada monster yang masuk tadi.” Ucap seorang gadis yang sedang membawa panci.
“Liat – liat dulu, jangan asal main pukul ! Aku rasa ada benjolan di kepalaku ini” ucapku sambil mengelus – elus kepalaku yang sakit.
Karena rasa bersalah gadis tersebut pun meminta maaf sekali lagi sambil menundukkan kepalanya. Setelah hal itu diriku pun bertanya kepadanya mengenai monster yang mengejarnya tersebut, dan juga diriku bertanya tentang siapa dirinya ini.
Gadis tersebut pun mengangkat suaranya, dirinya berkata bahwa namanya adalah Selda, dia hanyalah seorang wanita biasa dari pedesaan. Dirinya menjelaskan keperluannya datang ke kota dan berbicara mengenai bisnis perdagangan dan sebagainya. Aku hanya bisa menyimak perkataannya itu, namun diriku seketika terkejut saat mendengar ceritanya, yang menceritakan tentang segerombolan monster yang sedang berjalan mengikuti seseorang yang membawa boneka.
Mendengar hal tersebut diriku sontak terkejut, aku pun bertanya kepada gadis tersebut sambil memegang bahunya.
“Apa kau tahu ke mana orang itu pergi ?” ucapku dengan wajah yang serius.
Setelah itu aku pun memohon kepada untuk menunjukkan jalannya kepadaku, gadis tersebut awalnya enggan untuk membantuku menunjukkan jalannya, dirinya takut akan di kejar – kejar lagi oleh monster – monster yang mengerikan.
Aku pun terus memohon kepadanya untuk menunjukkan jalannya, diriku berpikir bahwa dialah satu – satunya orang yang tahu akan keberadaan Ruru berada.
“Hmm, baiklah akan aku tunjukkan jalannya” ujar Selda.
“Baiklah bagus, ayo kita segera- ”
“Tapi, dengan satu syarat !” ujar Selda yang tiba – tiba memotong ucapanku
__ADS_1
.
“Syarat ? Syarat apa ?” ujarku kebingungan.
“bawalah aku pergi bersamamu, dan sayangilah aku seperti istrimu !” ujar Selda yang bertingkah malu – malu.
“hah ? Haaaaaaaaaaaaaaahh !?”
Sontak tubuhku terguncang dan merasa terkejut setengah mati, gadis yang baru aku selamatkan mendadak menyatakan pernyataan pernikahan kepadaku. Tubuhku serasa berhenti bergerak dan tidak bisa melakukan apa – apa selain hanya terdiam.
Dalam kepalaku, beberapa tiruan diriku mulai berdebat tentang masalah ini, ada kubu lain yang menyatakan untuk memanfaatkannya supaya dapat memberitahu lokasi Ruru, namun juga ada yang menolak bahkan sampai menerima pernyataan pernikahan tersebut sebagai harem.
Kepala tak henti – hentinya terus berdebat membicarakan hal ini, mereka saling mengadu argumen sampai – sampai tubuhku tidak memberikan respon sama sekali, ibaratnya seperti patung yang tak bergerak.
Saat bagian dari diriku sedang berdebat hebat, Selda mulai memanggil namaku berulang kali. Namun karena perdebatan tersebut diriku tidak meresponnya cukup lama. Karena geram Selda pun mengguncangkan tubuhku dengan keras, guncangan tersebut membuatku kembali ke dunia nyata
.
“Kamu kenapa ? Kenapa hanya melamun saja ?” tanya Selda penasaran.
Setelah aku sadar dari kepalaku sendiri, diriku berpikiran untuk menolak Selda dengan cara yang baik – baik. Diriku tidak tahu harus berkata apa karena hal seperti ini baru terjadi pertama kali dalam hidupku.
“Selda, aku senang dengan pernyataanmu itu, namun aku masih belum yakin tentang acara pernikahan dan sebagainya seperti itu, entah kenapa hatiku masih belum siap untuk menerimanya, jadi maaf mungkin aku bukanlah orang uang tepat untuk kau nikahi” ujarku pelan – pelan dengan suara yang lembut.
Selda pun menundukkan kepalanya sesaat, dirinya tampak sedih karena penolakanku itu. Tak berapa lama kemudian, dirinya mengangkat kepalanya sambil memasang wajah yang serius kepadaku. Dengan yakinnya dia berkata : baiklah kalau begitu, aku putuskan bahwa aku akan menikahimu.
__ADS_1
Mendengar kalimat yang di ucapkan, diriku sontak terkejut dan malah terbelalak dengan apa yang barusan aku dengar, lagi – lagi dalam keterkejutan diriku tidak bisa bergerak seolah – olah seperti patung yang tak bernyawa.