Smartphone Hero

Smartphone Hero
Tekad


__ADS_3

Sayang sekali kondisiku hari ini benar tidak menguntungkan sama sekali, di mana diriku tidak mendapatkan informasi sama sekali tentang Ruru, dan juga diriku malah gagal menyelamatkan anak – anak itu. Malahan mereka menjadi sesosok monster yang menyeramkan karena ulah manusia itu.


Sesosok monster itu terus menyerangku dengan membabi buta, ia mengayunkan tentakel – tentakel tangannya untuk melukaiku. Diriku berusaha sangat keras untuk menghindari tentakelnya itu, namun ukuran dan juga kecepatan dari tentakel tersebut cukup besar dan juga cepat. Andai diriku kehilangan konsentrasi meskipun cuman sesaat, diriku berpikiran akan di buat remuk olehnya.


Sambil terus menghindari serangannya, diriku berusaha mencoba berkomunikasi dengan anak – anak itu, apakah mereka masih memiliki kesadaran atau tidak. Sayang sekali, meskipun diriku berbicara dengan mereka dengan suara yang lantang keras, namun perkataanku sama sekali tidak tersampaikan kepada mereka. Diriku hanya mendengarkan suara tangisan anak – anak itu yang terdengar sangat – sangat tersiksa.


Setelah beberapa serangan yang membabi buta itu, tentakel itu tiba – tiba saja berhenti menyerang untuk sesaat, diriku berpikir bahwa monster tersebut merasa kelelahan akibat serangan yang kuat dan bertubi – tubi itu.


Sesaat serangannya yang tiba – tiba terhenti, serigala iblis pun keluar dari bayanganku. Serigala tersebut berkata kepadaku untuk segera menghabisi monster tersebut dan secepatnya pergi dari tempat ini.


“Tuan ini kesempatanmu ! Kita habisi monster itu selagi ada kesempatan”


“Tapi bagaimana kalau anak – anak itu masih memiliki kesadaran, mereka akan ikut mati kalau kita menyerangnya !”


Serigala itu memberitahuku jika tidak segera menghancurkannya maka keadaan kita menjadi sangat sulit. Maka selagi ada kesempatan, saat itulah waktu yang tepat untuk menghabisinya, tepatnya waktu ini juga.


Diriku tahu akan masalah seperti itu, aku juga tidak bisa berlama – lama di tempat ini karena harus segera menemukan orang itu dan juga Ruru. Namun kegelisahan di dalam hatiku tidak dapat terbendung karena hal itu. Diriku masih berpikir bahwa anak – anak itu dapat di selamatkan.


“Tuan !? Perintahmu ?”

__ADS_1


Karena tak tahan dengan tekanan tersebut, aku pun memalingkan wajahku untuk melarikan diri dari kenyataan, diriku tidak sanggup menahan perasaan bersalah dan juga penyesalan. Tiba – tiba terlintas di benakku, pemikiran di mana diriku lebih baik mati di tangan monster itu dari pada melenyapkannya bersama anak – anak yang tidak bersalah itu.


Hal seperti ini pernah terjadi saat diriku masih berada di dunia asalku, di mana aku mencoba untuk menolong sahabat ku yang hendak jatuh dari atap, diriku seketika berhasil menangkap tangannya. Namun karena ketidakmampuanku, tangan gadis tersebut terlepas dari genggamanku sampai akhirnya dirinya terjatuh dan meninggalkan.


Selepas itu, diriku terlihat murung karena bersalah. Karena kematian sahabatku itu, diriku mengurung diri di kamar, mencoba untuk tidak berinteraksi sosial dengan orang – orang di sekitarku. Setelah beberapa waktu, diriku secara perlahan lahan mulai kembali pulih.


Namun, di hari itu, kehidupan normal yang aku jalani saat itu seketika menghilang dengan sangat cepat. Di mana diriku di gosipkan oleh orang – orang sebagai seorang pembunuh yang bersalah karena tidak dapat menyelamatkan sahabatnya sendiri.


Rumor tersebut menyebar sangat luas di mana diriku di jauhi, di pandang rendang, bahkan diriku pernah di sindir secara terang – terangan. Hidupku serasa hancur dan terasa hampa, di mana aku yang mencoba untuk menyelamatkan sahabatnya malah di tuduh menjadi sebagai pembunuh sahabatnya sendiri.


Di saat ada kesempatan emas untuk mengalahkan monster tersebut, diriku malah tenggelam dalam masa laluku. Diriku makin jatuh ke dalam kekelaman. Saat itu diriku terasa tidak mendengar suara sama sekali. Dalam benakku, diriku serasa berada di ruangan gelap dan tak seorang pun tahu bahwa aku berada di dalamnya.


“T-Tolong ! Kakak... Kumohon, tolong Aku !”


Mendengar kalimat tersebut diriku pun tersadar kembali, mataku langsung tertuju kepada kepala monster tersebut. Suara isak tangis dan kesedihan terdengar jelas di telingaku, diriku merasa kasihan dan juga sedih karena melihatnya yang begitu menderita.


Suara gadis kecil itu terus mengucapkan kalimat tolong. Semakin lama, suaranya terdengar melengking karena deritanya. Diriku tak tahan lagi melihatnya begitu tersiksa, dengan berat hati, aku mengumpulkan tekadku dalam hati untuk segera membebaskan mereka dari rasa penderitaannya.


Sambil menundukkan kepalaku, aku pun meminta serigala itu untuk membantu diriku mengalahkan monster tersebut. Serigala itu menerima permintaanku, dirinya langsung keluar dari bayanganku dan bersiap untuk menyerang.

__ADS_1


Dengan tekad yang bulat, diriku langsung berlari ke arah monster tersebut untuk segera menghabisinya. Saat diriku sedang berlari ke arahnya, monster itu tidak tinggal diam saja melihat ajalnya yang sudah dekat. Monster itu menggerakkan tentakel - tentakel yang dia punya di tubuhnya untuk menghentikan langkahku.


Meskipun begitu, diriku tetap melangkah maju tanpa memikirkan tentang hal tersebut. Sambil melaju ke arah monster tersebut, sebisa mungkin diriku menghendaki serangan – serangan dari tentakel itu.


Sedikit lagi diriku sampai pada monster tersebut, tiba – tiba saja salah satu tentakelnya mengenai diriku. Tentakel tersebut menggenggam ku sangat erat sampai tubuhku terasa sakit karena tekanannya.


Karena tekanan tersebut, diriku merasa kesakitan sekali. Beberapa bagian tubuh terasa remuk karenanya. Melihat diriku dalam bahaya, serigala yang bersamaku mencoba untuk membantuku, dirinya seketika menyingkirkan tentakel – tentakel yang berada di hadapannya dan segera pergi kepadaku.


Tak butuh waktu yang lama, serigala itu menghancurkan tentakel yang menghalanginya dengan kekuatan es miliknya. Tentakel – tentakel tersebut seketika membeku dan hancur menjadi kepingan salju yang indah.


Setelah berhasil menghilangkan hambatan itu, serigala tersebut langsung bergegas ke arahku. Ia seketika membekukan tentakel yang melilit tubuhku. Entah mengapa kekuatan es dari serigala tersebut tidak berpengaruh kepadaku, es tersebut hanya membekukan tentakel itu tanpa melukai sama sekali.


Melihat keadaan yang seketika berubah, diriku dengan kuat menghancurkan es tersebut dan keluar dari jeratan monster itu, setelah berhasil keluar, diriku pun melompat ke arah monster tersebut dan langsung memukulnya tepat di antara kedua matanya.


Kekuatanku seketika meledakkan kepala monster tersebut, dan membuat tubuhnya menjadi tidak berfungsi lagi. Melihat darah yang segar keluar dari monster itu, diriku merasa sedikit sedih karena tidak bisa menyelamatkan anak – anak itu. Aku pun berdoa semoga jiwa anak – anak itu menjadi tenang di alamnya.


Setelah berdoa, aku pun bergegas mengejar orang itu dan menyelamatkan Ruru. Karena pintu yang terbuat dari batu itu tidak terbuka, maka diriku pun tidak ada cara lain selain memakai kekerasan untuk membukanya. Dengan sekali serangan pintu tersebut hancur dan membukakan jalan untukku.


Aku pun bergegas memasuki jalan tersebut, dalam hati diriku berharap bahwa Ruru baik – baik saja, dan semoga diriku tepat waktu untuk menyelamatkannya. Akhirnya diriku pun sampai di penghujung jalan, cahaya yang terang menyilaukan mataku di ruangan tersebut. Dengan ekspresi yang penuh keterkejutan diriku melihat Ruru yang sedang terikat di kursi dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2