
“Di mana ini, di mana aku berada ?” Sebuah memori masa lalu yang tiba – tiba saja datang kepadaku. Diriku melihat sebuah kota yang hancur dan juga rusak. Para naga beterbangan ke sana dan kemari. Banyak sekali orang – orang yang terbunuh di jalanan kota tersebut.
Setelah itu suasana langit berubah menjadi keunguan. Ada sebuah naga yang besar dan berwarna hitam. Di bagian dada naga tersebut terdapat sebuah batu raksasa berwarna ungu ke hitam – hitaman. Naga tersebut terbang di atas udara dengan di kelilingi oleh naga – naga kecil di atasnya.
Dari kejauhan diriku melihat ada empat orang manusia yang sedang melawan naga tersebut. Pakaian mereka terlihat seperti seorang petualang. Mereka berempat bekerja sama mencoba untuk mengalahkan naga yang besar itu. Kelompok tersebut terdiri dari satu laki – laki dan tiga perempuan. Naga itu seperti akan menyemburkan api hitam dari mulutnya.
Seseorang dari mereka berempat pun maju di depan, seorang wanita yang berpakaian seperti seorang wizard mencoba membuat sebuah Barrier untuk melindungi ke tiga rekannya tersebut. Kedua kekuatan mereka pun teradu. Si wanita tersebut terlihat hampir kalah dengan semburan api hitam dari naga itu.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan serangan naga tersebut. Dari belakang wanita tersebut, ada juga seorang gadis yang sedang memberikan tambahan kekuatan kepadanya. Gadis tersebut merapalkan berbagai macam mantra dan sihir untuk membuat wanita wizard tersebut dapat menahannya lebih lama.
Seorang laki – laki yang menggunakan sebuah pedang mencoba untuk membantu wizard tersebut. Ada juga seorang wanita Elf yang juga ikut melawan naga tersebut. Laki – laki dan elf tersebut mulai bekerja sama, mencoba untuk memberikan sebuah serangan pada naga tersebut. Elf tersebut memakai busurnya dan melemparkan sebuah anak panah ke wajah naga tersebut.
Anak panah tersebut meledak menjadi sebuah cahaya yang terang benderang. Cahaya tersebut sangat terang sampai membuat mata naga tersebut menjadi kabur. Karena melihat kesempatan seorang anak laki – laki itu melompat dengan tinggi dan menebaskan pedangnya pada bagian dada naga tersebut dan membuat retak.
Karena retakan batu hitam tersebut naga itu mulai kesakitan. Dirinya hampir terjatuh ke tanah. Naga tersebut pun mencoba untuk kabur dan meninggalkan kerajaan tersebut. Dirinya pergi bersama dengan kawanan naga kecil yang mengikutinya. Laki – laki tersebut mencoba untuk mengejarnya, dirinya berusaha untuk menghabisi nyawa naga tersebut.
Sayangnya dirinya tidak dapat mengejar naga tersebut karena terhalangi dengan para naga kecil yang bersamanya. Naga kecil tersebut mencoba untuk melindungi naga besar itu. Banyak sekali naga kecil yang berkorban untuk naga besar itu. Pemuda tersebut kualahan menangani para naga kecil yang mengganggunya itu.
Akhirnya dia pun tidak dapat mengejar naga besar tersebut dan membiarkannya lari dari dirinya. Setelah itu kerajaan tersebut pun terselamatkan dengan ke empat Pahlawan tersebut. Akan tetapi entah mengapa diriku merasakan hawa sedih dari seorang gadis dari salah seorang dari ketiga gadis tersebut.
__ADS_1
Entah mengapa perasaan sedih gadis tersebut sangat mendalam. Seakan akan kesedihannya itu tidak akan berhenti. Setiap malam dirinya menangis,menangis dan terus menangis. Aku yang melihat dirinya yang terus menangis di kamarnya tersebut merasa kasihan kepadanya. Diriku pun ingin menolongnya namun tidak tahu harus berbuat apa.
Gadis tersebut pun bangkit dari kasurnya dan menatap diriku. Dirinya terus memandangi ke arahku. Aku sempat berpikir bahwa ia sedang melihat ke arah belakangku. Jadi diriku pun menyingkir dari tempatku berdiri dan berpindah sedikit ke sebelahnya. Setelah itu aku pun melihat ke arahnya kembali.
Dengan sangat terkejut diriku melihat gadis tersebut yang merubah pandangannya. Mata gadis tersebut melihat ke tempat berada. Dengan suara yang sangat pelan dia pun berbicara kepada diriku.
“Tolong Selamatkan aku !”
Sontak diriku pun terkejut dan akhirnya terbangun dari tidurku. Lagi – lagi aku terbangun di sebuah tempat yang tidak aku kenali. Aku pun mencoba untuk duduk di kasur tersebut dan melihat ke sekeliling ku. Kamar tersebut sangat luas dan mewah. Diriku pun tidak menyangka bisa tidur di kamar yang megah seperti ini.
Setelah beberapa menit kami berbicara, terdengar sebuah suara langkah kaki yang berjalan ke arah kami. Ternyata yang menjengukku adalah tuan Dalius. Beliau merasa senang dan bersyukur karena melihatku baik – baik saja. Tuan Dalius pun mengucapkan banyak terima kasih kepada kami, beliau juga akan memberikan sebuah penghargaan kepada kami tersebut.
Setelah itu tuan Dalius mengajak kami untuk makan malam bersamanya. Beliau ingin sekali membahas hadiah penghargaan yang bagus dan cocok untuk kami berdua. Diriku menuruti keinginan beliau tersebut. Setelah itu beliau pun pamit dan berkata bahwa dirinya akan menunggu kami di meja makan.
Kami pun keluar dari kamar dan pergi ke ruangan makan. Kami di pandu oleh beberapa pelayan yang cantik – cantik. Sesampainya di ruang makan, kami pun di persilahkan untuk duduk di meja makan. Saat aku masuk ke tempat makan diriku melihat sebuah meja besar dan panjang. “Meja ini dapat menampung berapa banyak orang, gaya orang kaya memang tidak bisa aku pahami”.
Tuan Dalius pun datang ke ruang makan. Ia langsung duduk di kursi yang telah di sediakan tersebut. Beliau pun bertanya kepada diriku karena hanya berdiri di meja makan tersebut “Apakah ada masalah Sheida\-kun ?”
__ADS_1
“ tidak ada kok hehehe..” aku pun langsung duduk di sampingnya Ruru. Diriku merasa malu karena kejadian tersebut. Tak lama kemudian para pelayan pun datang. Mereka datang dengan beberapa makanan yang akan di hidangkan untuk kami. Satu persatu hidangan pun di letakkan di atas meja. Setelah itu di tuangkan sebuah anggur di gelas – gelas kami.
Sebelum pelayan tersebut menuangkan sebuah minuman tersebut dalam gelasku, aku pun berkata kepada pelayan tersebut untuk mengganti minuman tersebut dengan yang lain “Ehhhhhh.... Bisakah kau mengganti anggur ini dengan air putih saja ?” karena permintaanku tersebut pelayan itu pun melirik ke arah tuan Dalius.
Beliau yang melihat tingkah lakuku tersebut pun bertanya tanya “Apakah kamu tidak suka dengan minuman itu ?” dengan sopan diriku pun menjawab pertanyaan beliau. “Maaf tuan Dalius, diriku tidak bermaksud untuk menyinggungmu, namun aku tidak terlalu suka meminum minuman yang beralkohol”
“oh... Begitu ya” tuan Dalius pun menyuruh pelayan tersebut untuk mengganti minumanku dengan air putih. Setelah itu kami pun menyantap makanan yang telah di sediakan di meja tersebut. Selagi kami makan tuan Dalius berbicara tentang penghargaan yang cocok buat diriku dan Ruru. Sambil menyantap makanannya, beliau pun bertanya tentang keinginan kami sebagai penghargaannya.
Aku berpikir untuk menerima uang saja karena diriku tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Sebelum mengungkapkan keinginanku tersebut, aku bertanya kepada Ruru tentang apa yang ia inginkan. Ruru berkata bahwa tongkat sihirnya patah saat melawan monster sebelumnya. Dirinya meminta keinginannya untuk di berikan sebuah tongkat baru.
Ruru pun mengungkapkan keinginannya tersebut, akan tetapi dirinya tidak terlalu senang. Aku melihat raut wajah Ruru yang sedikit gelisah. Aku merasa bahwa Ruru sedang memikirkan sesuatu. Setelah melihat ekspresi Ruru yang seperti itu, aku pun ingin bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dirinya pikirkan.
Saat itu diriku pun mengingat tentang kakak beradik itu. Aku pun bertanya kepada tuan Dalius tentang mereka berdua. Tuan Dalius yang ingin memakan makanannya tersebut tiba – tiba terhenti. Beliau berkata bahwa mereka berdua berada di penjara bawah tanah dan mungkin akan di hukum mati besok siang.
__ADS_1
Aku yang mendengar hal tersebut sontak terkejut. Diriku pun kebingungan dengan perkataan beliau itu. Aku pun meminta penjelasan ini kepada beliau, kenapa mereka berdua sampai – sampai bisa di tahan di penjara dan alasannya kenapa. Beliau pun meletakkan garpu dan juga pisaunya di meja. Setelah itu beliau pun menoleh ke arahku dengan tatapan yang serius.......