
BRAK! Pintu ruangan tiba tiba terbuka. Ares menoleh dan mendapati Cantika di sana sedang memegang gunting. Membuatnya menelan saliva kasar, Ares jelas ketakutan, apalagi tatapannya yang sangat mengerikan. “Apa ada yang bisa aku bantu untukmu?” Tanya Ares mencoba untuk tenang.
Namun pada kenyataannya, dia sangatlah takut melihat Cantika yang mendekat kemudian mmenusuk meja dengan ujung mata gunting. “Sepertinya ini punya anda, gunting ini untuk di ruangan anda,” ucap Cantika menyimpannya di sana.
Membungkukan badan sebelum akhirnya keluar dari sana sambil menghela napasnya dalam. Mengabaikan Ares yang memanggilnya, yang pasti Cantika sangat ingin menangis saat ini. dia juga mengabaikan panggilan atasannya dan memilih untuk masuk ke kamar mandi. Bersembunyi di bilik toilet kemudian menangis untuk sejenak di sana; tanpa suara.
Jika ditanya bagaimana perasaan Cantika, dia hanya benci terjebak dengan keadaan. Kenapa setiap detiknya Ares seolah menariknya kembali padanya. Padahal Cantika hanya ingin hidup tenang dan aman tanpa terlibat lagi dengan sosok tersebut.
“Cantika, apa kau di dalam? Kau baik baik saja di sana?”
Terkejut dengan Ares yang menyusulnya, apa pria itu gila telah mengikutinya ke kamar mandi perempuan? Bergegas mengeringkan air matanya dan dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin yang selalu dibawa di dalam saku.
Merasa sudah lebih baik penampilannya, Cantika keluar dari sana. Terkejut ternyata di sana bukan hanya ada Ares, tapi juga pimpinan team dan temannya Dinda. “Kenapa kalian menyusul ke sini?”
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya mereka secara bersamaan.
“Hanya merindukan Papahku, aku hanya pulang sebentar kemarin. Bisakah kita keluar? nanti kita akan menarik perhatian,” ucap Cantika mencoba untuk tetap sopan.
__ADS_1
Dia keluar lebih dulu, kembali meninggalkan mereka yang masih bertanya tanya. Keadaan masih sangat canggung. Kembali dikejutkan saat kembali ke meja kerja, barang barangnya sudah tidak ada.
“Pimpinan team kita menyuruhku untuk memindahkan barang barang milikmu ke meja sekretaris tadi. Wah, Cantika, kau sangat beruntung, tapi kenapa kau bersikap sangat aneh? Kau mendapatkan promosi, ayolah sekretaris itu gajinya dua kali lipat dari seorang design alat music?”
Cantika masih terdiam menatap bangkunya yang kosong. “Tapi aku tidak bisa mendesign alat music yang aku suka lagi, Mbak.”
“Jangan khawatir, malah jika dengan boss, kau bisa melihat langsung masa depan kita dengan mendata schedule miliknya. Dan kemudian….”
“Kemudian apa?”
“Sudah sana kembali ke sana, dan mulai bekerja, sana,” ucap Dinda mendorong bagian belakang tubuh Cantika supaaya bergegas pergi.
“Hei, apa kau baik baik saja?” Tanya Ares yang ternyata menunggu kedatangannya di tempat sekretaris.
“Hmmm… saya baik baik saja, terima kasih.” Cantika sengaja melempar senyuman kecil supaya Ares berhenti bertanya, dan hal itu membuat hati Ares berbunga bunga. dia dilempari senyuman oleh seorang Cantika?
*****
__ADS_1
Ares dengan semua kekayaan yang dia miliki bisa melakukan apapun. Oh ayolah, dia pemilik Fernandez Inc yang memiliki cabang dimana mana. Bukan hal yang sulit untuk Ares mengetahui apa yang dilakukan oleh Galuh. Ternyata sosok itu pergi ke luar pulau untuk melakukan Tindakan baik dalam pekerjaannya sebagai pengurus Yayasan amal.
Ares menyeringai, dia buru buru menghubungi Samuel untuk menemuinya sekarang juga. Bahkan Ares sudah mengancam jika Samuel tidak datang, maka dia akan menjitak kepala sahabatnya itu.
“Anda mau kemana, Tuan?” tanya Cantika saat melihat Ares keluar dari ruangannya.
“Aku akan keluar dulu.”
“Tapi akan ada meeting dengan pihak pabrik dua jam lagi.”
“Aku hanya sebentar, tolong awasi mereka semua ya. Aku memberimu tanggung jawab, Cantika,” ucap Ares kemudian melangkah begitu saja meninggalkan Cantika yang penuh dengan kebingungan.
Ya, Cantika mulai menerima posisi sebagai sekretaris Ares. Hanya sebagai bawahan dan atasan hubungan keduanya itu. Cantika sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melibatkan apapun; perasaan yang dulu dia rasakan pada Ares.
Namun baru juga seharu menjadi sekretarisnya, Cantika sudah merasa kesal karena dirinya harus mengambil alih rapat.
“Tidak apa, lebih baik membunuh tanpa menyentuh. Galuh pasti tau caranya,” ucap Cantika pada dirinya sendiiri.
__ADS_1
****