
Kembalinya mereka ke Indonesia membawa dampak buruk untuk Ares. Artinya nantinya dia tidak akan tidur dalam pelukan Cantika lagi bukan? Bagaimana nasibnya nanti? Bagaimana kalau dirinya tidak bisa tidur dengan baik? Khawatir Cantika juga akan melupakan kenyamanan itu. ares jadi pusing sendiri kalau mengingatnya.
“Ares, kenapa kau melamun?” tanya Cantika ketika mereka sudah ada di dalam pesawat.
“Tidak ada, ingin duduk di sini? bersamaku?” Ares menepuk bagian sisi tempat duduknya.
Namun Cantika menggelengkan kepala. “Aku ingin tidur di sana dan tidak ingin mengganggumu. Atau kau perlu sesuatu?”
“Tidak ada, kau boleh istirahat.” Ketika Cantika hendak melangkah, Ares menahan tangannya dan bertanya, “Kau baik baik saja kan?”
“Hmm, aku baik baik saja. kenapa memangnya?”
“Tidak, aku hanya khawati saja. takut aku memporsir dirimu dan membuatmu kelelahan.”
Cantika terkekeh, dia menggelengkan kepalanya. “Nanti kalau sudah selesai, menyusul ya. kau tidak boleh kelelahan juga.”
Mendengar kalimat itu, malah membuat Ares berbinar. Dirinya bahkan belum menyelesaikan pekerjaannya tapi sudah menutup macbook untuk menyusul Cantika. Dimana perempuan itu baru saja berbaring, tiba tiba di belakang ada yang ikut tidur dan memeluk Cantika. “Kau membuatku kaget. Kenapa menyusul ke sini?”
“Kau bilang aku juga istirahat.”
“Sudah selesai pekerjaannya?”
“Sudah.” Ares mengangguk dengan antusias dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan memeluk Cantika. Kapan lagi dirinya bisa seperti ini bukan? Mengingat Nenek memiliki karakter yang sama dengan Oma, dimana mereka tidak bisa melakukan ini sebelum menikah. “Cantika, haruskah kita mengatakan pada mereka kalau kita sudah berhubungan badan? Supaya mereka mengizinkan. Aku melihat karakter Nenek, dia pasti memintaku menunggu beberapa bulan dulu kan? Tidak akan langsung mengizinkan kita menikah.”
“Ares, kalau kau mengatakan itu sama saja dengan bunuh diri. Aku juga malu,” ucap Cantika mengingat tindakannya yang begitu ganas malam itu. “Yakinkan saja mereka supaya memberikanmu izin untuk menikahiku.”
“Tentu, akan aku lakukan. Aku tidak sabar menjadikanmu istriku. Lalu kita akan membuat keluarga sendiri.”
Cantika tersenyum, dia memejamkan mata setelah membayangkan kehidupan yang indah bersama dengan Ares, pria ini mengembalikan kepercayaannya. Bahkan ketika pesawat mendarat, Cantika diantarkan oleh Ares menuju ke rumahnya.
Karena besok adalah hari libur, Cantika ingin menghabiskan harinya di rumah sang Nenek bersama dengan Papanya. “Aku akan datang pada mereka malam nanti. Bagaimana?”
“Jangan terlalu buru buru, Ares. Bagaimana kalau hari senin? Kau bisa mengantarkanku ke rumah sembari makan malam di sini. nah, kita bisa mengatakan rencana pernikahan kita.”
“Ya ampun, kekasihku memang pintar membaca situasi.” Ares menggengam tangan Cantika dan menciumnya. Masih terasa mimpi mendapatkan hati sosok ini lagi. “Aku tidak akan membuatmu malu, menyudutkanmu atau apapun itu.”
Cantika terkekeh, Aress yang sekarang sedikit lebih romatis. Ketika mereka sampai di halaman depan rumah nenek cantika, Ares ikut keluar. Dia mengerutkan kening melihat mobil jadoel Cantika tidak ada di sana. “Mereka sedang keluar?”
“Ya, sepertinya begitu,” ucap Cantika membiarkan Ares berdiri di hadapannya dimana pria itu menggenggam tangannya. Cantika mengadah menatap pria itu. “Hmm? Ada yang ingin kau katakan?”
“Terima kasih sudah mau memberikanku kesempatan. Aku tau ini sulit untukmu menjalin hubungan denganku lagi, tapi aku akan berusaha.”
Cantika tersenyum, dia mengangguk dengan mata yang tidak lepas dari Ares. Saat pria itu mendekat untuk mencium bibirnya, Cantika memejamkan mata. Namun sayangnya… TIINNN! Suara klakson mobil lebih dulu menghentikan kegiatan keduanya.
Membuat Cantika dan Ares menoleh. Seperti dugaan mereka, ternyata itu adalah Nenek dan juga Papanya cantika.
“Jangan berbuat mesum kalian!” teriak Papanya.
Sementara Nenek bertepuk tangan dan mengatakan pada sang anak, “Kita tidak akan sengsara lagi, Cantika akan menikahi Ares bukan?”
“Ibu, bukan waktunya menyatakan hal seperti itu, kita harus mengamankan Cantika. Mereka berdua bisa bisa kebablasan,” ucap sosok itu turun dari mobil. “Ares, aku sudah menyetujuimu dengan Cantika, bukan berarti kau bisa melakukan apapun seenaknya.”
Segera membawa Cantika ke belakang tubuhnya. Ares hanya tersenyum miris, padahal dia dan Cantika sudah berkeringat bersama.
***
“Papa, Ares butuh istirahat. Besok dia akan menjelaskan ya, Cantika juga butuh istirahat. Kami tidak melakukan hal hal aneh kok.” Cantika mencoba menghentikan Papanya yang sedang menatap tajam Ares.
“Kau akan aku awasi, Ares, memberimu restu bukan berarti kau bisa melakukan apapun.”
“Aku paham, Papa Mertua.” Ares membungkuk.
__ADS_1
“Nah, sekarang pulanglah. Kalian pasti lelah bukan setelah perjalanan panjang?”
“Baik.” Ares melirik Cantika sekilas dan menahan tawanya, ya ampun mereka seperti anak kecil yang ketahuan akan berciuman.
Melewati mobil milik calon mertuanya, Nenek memanggil Ares dengan bisikan, membuat pria itu menunduk supaya bisa mengintip ke jendela Nenek. “Ada apa, Nek?”
“Kau berhasil membuat Cantika kembali padamu ya?”
“Hehehe, iya, Nek.”
“Nanti ceritakan ya?”
“Oke.”
“Jadi dia juga tau kalau kau akan mati karena kanker?”
Ares tersenyum tipis dan mengangguk. Sungguh memalukan sekali. “Sudah, Nek. Ares pulang dulu ya, nanti kita mengobrol lagi. Oleh oleh untuk Nenek sudah dititipkan pada Cantika, semoga Nenek suka.”
“Oke.” Nenek masih berada dalam mobil ketika Ares pergi dengan mobilnya sendiri.
Nenek menghela napas lega dan keluar, dia menggandeng tangan Cantika untuk masuk. “Berapa lama Ares memberimu waktu untuk liburan?”
“Senin aku harus bekerja lagi, Nek,” jawab Cantika dengan lesu, tapi kini ada penyemangat. Karena posisi Ares bukan lagi mantan, tapi pacarnya.
“Mau bercerita pada Nenek bagaimana kalian bisa bersama lagi?”
Cantika terkekeh dan mengangguk. Dia masuk duluan bersama sang Nenek sementara Papanya memasukan mobil ke garasi. Banyak sekali oleh oleh yang dibawa oleh Cantika, dia membantu sang Nenek menyusunnya di dapur sambil menceritakan kalau di sana Cantika bertemu dengan orangtua Ares dan juga Athena. Dan kebersamaan mereka dimulai karena terbiasa satu sama lain.
“Hanya karena itu? dulu kau sangat membenci Ares dan sekarang menerimanya dengan mudah.”
“Ya, Nenek sendiri tau kalau aku masih menyimpan perasaan pada Ares selama ini, hanya tertutup dengan rasa benci karena dia tiba tiba pergi saja.”
“Kalian kembali bersama setelah Ares jujur dengan alasan dia meninggalkanmu?”
“Itu rahasia besar karena sampai membuat Ares malu. Sudahlah, yang penting sekarang kalian bersama dan tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kalian bukan? Semuanya selesai?”
Cantika mengangguk. Sebentar lagi, dia akan menikah dengan Ares. “Nek, Cantika merasa tidak nyaman dengan Galuh, dia pasti kecewa kalau tau apa yang Cantika lakukan sekarang.”
“Dengarkan Nenek. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan Cantika. Silahkan kau bertahan dengan Galuh, tetap saja hatimu terpaku pada Ares bukan?”
“Tapi dia yang selalu menjaga Cantika sejak dulu.”
“Bilang secara baik baik, Galuh akan paham.”
Sampai Papahnya ikut masuk ke dalam percakapan. “Jadi, Cantika akan menjadi istri seorang Ares Fernandez pada akhirnya?”
“Papa setuju kan?” tanya Cantika mengadahkan pandangan. Demi apapun, kedua orang yang disayanginya adalah jalan hidupnya. “Cantika memilih Ares dengan menyakiti Galuh.”
“Galuh akan paham, dia menyayangimu sebesar itu. jadi katakan saja dengan baik baik apa yang menjadi pilihanmu. Jangan gelisah, Papa senang kau kembali bersama dengan Ares.”
“Kenapa bisa senang?”
“Um, kau sendiri sadar bukan kalau Ares sedikit aneh. Dengan mendapatkan wanita sepertimu, Papa yakin kalau Ares akan waras menjalani kehidupan ke depannya. Sebagai gantinya….” Sang Papa menggantungkan kalimat dan menatap ibunya.
Dimana Nenek melanjutkan, “Sebagai ganti kau menjadi pasangan Ares yang agak aneh, tentu saja kau mendapatkan uang yang banyak. Itu yang namanya asas keseimbangan.”
***
Malam pertama Ares tidur tanpa Cantika, padahal sebelumnya dia selalu ada dalam pelukan perempuan itu. menghela napasnya sendiri, rindu sekali dengannya padahal Cantika sendiri baru menjadi kekasihnya dalam waktu beberapa hari saja.
Hingga seseorang menekan bel apartemennya, Ares merasa terganggu, dia berdecak dan membukanya. Matanya membulat melihat Samuel di sana. “Lu ngapain di sini?” kemudian Ares berfikir. “Dia gak mungkin di sini,” ucapnya kemudian berusaha untuk menutup pintu.
__ADS_1
Untungnya Samuel dengan sigap menahannya dan berkata, “Gue bukan setan, gue emang udah balik sejak kemarin. Gue mau masuk.”
Penampilan Samuel yang urakan dengan rambut gondrongnya yang berantakan juga beberapa luka lebam lah yang membuat Ares berfikir kalau sosok ini adalah setan. Ya mana mungkin Samuel di sini ketikaa dirinya masih menerima istruksi darinya. “Kenapa lu bisa ke sini? lu denger gak apa yang gue minta?”
“Ar, tenang. Gue udah minta orang lain yang gantiin Galuh, jadi sekarang gue gak perlu ngikutin itu orang lagi dan dengerin apa yang dia sama Cantika omongin. Lagian lu sama Cantika udah balikan kan?” tanya Samuel kemudian memilih untuk mengambil minuman dari kulkas Ares. Bekerja pada Ares cukup menguntungkan untuk membuat perusahaan Samuel yang sempat down kini mendapatkan suntikan dana. “Katanya Galuh bisa pulang bulan depan.”
“Kelamaan. Gue mau nikah sama Cantika cepet cepet.”
“Dengerin gue dulu,” ucap Samuel kesal. “Dia emang maunya bulan depan, mau nunggu itu sekolah jadi. Tapi gue udah hubungin yayasan pusat buat manggil dia pulang. jadi kayaknya dua mingguan lagi dia juga pulang ke sini kok. Lu aman, bisa nikah sama Cantika.”
Ares menghela napasnya dalam. “Kasih dia posisi bagus, seenggaknya kalau gak dapet cewek yang dia suka, itu si Galuh harus dapet duit.”
Ares juga mengambil beer dari dalam kulkas dan duduk di sofa yang berbeda dengan Samuel sambil memperhatikan pria yang tampak memprihatinkan itu. “Lu kenapa bisa nyampe gini?”
“Ya lu mikir lah gue harus nyaman biar bisa tau detail apa yang dia lakuin. Gila banget lu.”
“Dia juga kayak lu gini?”
Samuel diam, menatap Ares dengan serius. Dan itu mengantarkan Ares pada perasaan yang tidak enak, pasti akan ada kabar buruk bukan? “kenapa? si Galuh kenapa?”
“Gak sih, dia Cuma jatuh aja dari tebing pas mau ambil madu. Itu anak emang banyak tingkah, tapi disambut sama warga di sana dengan baik, jadi sekarang dia juga lagi dirawat ala ala tradisional dulu.” menarik napas dalam. “Udah ya? gue gak usah mata matain lagi. Capek banget anjir padahal belum ada satu bulan.”
“Nah, berarti gue tinggal kasih lu kerjaan yang baru.”
“Kerjaan apa? Gue mau resign niatnya. Gue mau bangunin lagi usaha gue yang bangkrut. Bonyok gak mau bantu soalnya. Malah mereka bilang gak akan warisin hartanya sama gue kalau gue gak bisa jalanin perusahaan yang logistiknya mati.”
Memang itu alasan Samuel mau menjadi babu seorang Ares, dia akan mendapatkan banyak uang hanya dengan memata-matai. Meskipun mereka teman, Ares enggan berinvestasi pada perusahaan Samuel karena tau Samuel itu bodoh. “Nanti kalau usaha lu udah mulai naik, gue bakalan invest deh. Kalau sekarang mah, gue males. Kosong gitu. Gak minat.”
“Ar, gue mau nagih janji nih. Katanya lu mau kasih apapun yang gue mau.”
“Athena? Lu mau apain adek gue?” tanya Ares. Dulu dia kalap dan akan memberikan apa saja pada Samuel, tapi dipikir sekarang, dia enggan memberikan adiknya pada manusia bodoh satu ini.
“Gue suka sih sama si Thea sejak awal, Cuma baru sadar sadar sekarang aja.”
“Bhakss! Mana mungkin. Lu gak pernah suka sama Athena. Kalau gue sih ngasih jalan aja, gak bisa maksa kalau adek gue gak mau. Silahkan coba, lu berurusan sama maung paling.” Dengan mata menyipit menatap Samuel, penasaran kenapa sosok ini bisa tertarik dengan adiknya. “Jadi lu mau resign jadi asisten gue?”
“Maunya, tapi belum cukup duit buat bangunin usaha bangkrut. Jadi, nanti aja deh.”
Ares menyeringai. “Tuh kerjain tugas Cantika buat hari senin, soalnya gue gak mau calon pengantin gue kecapean.” Enaknya punya banyak asisten, Ares tinggal tidur.
“Gue nginep di sini dong?” tanya Samuel yang diabaikan oleh Ares yang sudah masuk ke kamarnya.
***
Selama seharian ini, Cantika memilih untuk beristirahat di rumah Neneknya. Dia mungkin akan kembali ke flatnya nanti jika sudah mulai bekerja. Sekarang hari sabtu, jadi dia masih bisa bersantai di sini.
Meskipun hari Sabtu, Papanya tetap bekerja. Sementara Neneknya di rumah memanen sayuran. Dan Cantika hanya menatapnya dari jendelan, nostalgia dulu saat memiliki sang Mama juga Kakek. Semuanya sudah mulai menghilang dari hidupnya.
“Caca, mau makan sama apa? Nenek buatkan sekarang. Jangan tidur terus, nanti kepalamu bisa pusing.”
Cantika bergegas keluar dari kamar dan mendekati sang Nenek yang sedang memasak. “Boleh Cantika bantu?”
“Nenek memang mau meminta bantuan. Kau itu akan menjadi istri seorang Fernandez, harus serba bisa. ares kaya, kemungkinan dia selingkuh itu besar.”
“Mustahil, selama lima tahun dia terus menanti Cantika. Dia tidak akan berani selingkuh.”
“Benar juga sih.”
Mengingat hari hari ke depannya pasti akan menyenangkan bersama dengan Ares, Cantika tersenyum sendiri. sampai senyumannya luntur karena mendapatkan pesan dari Galuh, mengatakan kalau pria itu akan pulang ke Jakarta sekitar dua minggu lagi. Jadi, di waktu itu, Galuh meminta mereka untuk bicara.
Kenapa perasaannya tidak enak ya?
__ADS_1
***