STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
EXTRA PART 1


__ADS_3

"Anaknya perempuan."


Yang mana membuat Ares menahan napasnya. Bukan apa apa, dirinya hanya khawatir nanti ke depannya akan seperti apa. Memiliki anak perempuan itu sama saja dengan memiliki telur yang digenggam sepanjang hidup. Tidak boleh terlalu kuat karena telur bisa pecah, tidak boleh terlalu longgar juga karena nanti telur akan jatuh.


Khawatir dengan kasus kasus yang jelas. Seperti Cantika yang Ares DP lebih dulu, atau Athena yang dilukai mantan pacarnya. Ares jadi takut kalau anak perempuannya juga akan mengalami hal yang sama. Masalah pria, ingin sekali Ares berkata, "Jangan berpacaran dulu. Fokus belajar, fokus karir. Jangan ada pria di hidup kamu." Namun sepertinya itu adalah hal yang mustahil.


Cantika juga merasakan perubahan sang suami ketika mereka dalam perjalanan pulang, kenapa Ares lebih banyak diam padahal sebelumnya pria itu sangat exited dengan pemeriksaan jenis kelamin ini? “Ares, ada apa? Kenapa kau terlihat sedih?”


“Sedih? Tidak, Sayang, aku sedang menahan rasa bahagiaku sendiri,” dustanya sambil tersenyum seperti itu. “Bagaimana kalau kita mampir ke beberapa tempat? Kau ingin makan sesuatu?”


Tadinya Cantika ingin memanfaatkan keadaan dengan meminta ini itu pada Ares, tapi sepertinya sosok itu tidak exited sama sekali. Kenyataan kalau bayi mereka perempuan sepertinya membuat Ares merasakan hal lain. Jadi, Cantika menggelengkan kepalanya dan meminta untuk langsung pulang saja.


Ares sendiri menyadari kenapa sang istri berubah, dia menjadi tidak exited. Jadi begitu sampai di dalam apartemen, Ares langsung menariknya ke dalam pelukan dan mengatakan, “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih.”


“Kau menyebalkan, kau membuatku sedih dengan memberikan respon seperti itu. kau tidak mau anak perempuan kan?” tanya Cantika memukuli dada Ares berulang kali dengan isakan yang mengiringi.


“Duduk sebentar ya, kakimu bisa pegal.” Ares juga mendudukan Cantika di pangkuannya dengan posisi miring supaya bayi mereka tidak terhimpit. Tangan Cantika terulur untuk melingkar di leher Ares. Pria itu mengusap perut sang istri, yang langsung direspon oleh sang anak dengan gerakan di dalam sana. dalam waktu beberapa bulan, mereka akan menjadi orangtua. “Aku khawatir dengan diriku sendiri yang tidak bisa menjaga anak kita nantinya. Kau sendiri tau bagaimana anak perempuan zaman sekarang. Seperrti pergaulan bebas, aku takut nanti anak kita berada di lingkungan yang salah. Memiliki anak perempuan itu, seolah memiliki emas yang dipamerkan di sembarang tempat. Aku takut pada diriku sendiri.”


Cantika terkejut dengan pengakuan itu, kemana Ares yang selalu percaya diri dan angkuh? Karena yang ada, sekarang hanya Ares yang menundukan kepala mengusap perutnya. Membuat Cantika mengecup puncak kepala pria itu. “Berhenti berfikiran yang tidak tidak, kita bisa menjadi orangtua yang baik. Anak kita akan mendapatkan pemahaman nantinya, dia akan bisa menjaga dirinya sendiri. bagaimana mungkin dia bergaul sembarangan di saat memiliki orangtua seperti kita? Kita ini orang orang hebat, kita akan mendidiknya dengan benar. Jangan khawatir.”


Ares tersenyum, dia memeluk sang istri dan menyandarkan kepalanya di dada sosok tersebut. “Maaf ya atas sikapku yang membuatmu kesal.”


“Tidak apa, wajar mengkhawatirkan masa depan. Tapi, Ares, kupikir selama kita bersama, kita akan baik baik saja.”


Benar, Ares harus berhenti khawatir. Dia memiliki Cantika yang akan menjadi sosok hebat nantinya, yang akan mendidik anak anaknya.


“Besok kita menginap di rumah Nenek bagaimana? Kamar milik kita sudah direnovasi.”


“Tentu, besok sepulang aku bekerja ya.”


***


Rutinitas yang sangat Cantika sukai, bangun lebih awal dan menyiapkan keperluan sang suami. Senyumannya tidak luntur, dia suka melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Bagaimana dengan mimpinya sebagai seorang pianis? Cantika selalu memainkannya untuk sang suami dan keluarga. Lagipula, tujuan dari cita citanya adalah menghasilkan banyak uang, dan Cantika sudah memiliki banyak uang sekarang.


“Kenapa sudah bangun?” tanya Cantika heran. Tidak biasanya jam segini Ares akan membuka mata, apakagi keluar kamar dengan wajah yang terlihat sayu.


“Sayang, kepalaku sakit.”


“Demam?” cantika langsung mendekat dan menempelkan tangan pada kening sang suami. “Tidak demam.”


“Aku sakit, aku tidak tau kepalaku terasa ditusuk tusuk.”


“Kalau begitu kita ke rumah sakit saja ya?”


“Tidak mau, mau di rumah saja bersamamu ya. rawat aku, nanti kalau aku sudah lebih baik, kita pergi ke rumah Nenek.”


Cantika menggeleng. “Jangan memaksakan diri kalau tidak kuat. Duduk di sini, jangan langsung tidur lagi.”


“Sayang mau kemana?”


“Membereskan tempat tidur dulu, setelah itu kau sarapan dan minum obat. Okay?”


Ares mengangguk membiarkan Cantika masuk ke kamar. Setelah sosok itu masuk, Ares mengubah ekspresi wajahnya menjadi normal lagi dan langsung menghubungi Samuel. “Uhuk uhuk! Gue demam, gak bisa ke kantor. Lu yang handle ya.”


“Anjir ah, kok gue yang nanggung sih.”


“Lu kan asisten gue. Awas ya kalau gak bisa taken kontrak.”


“Gimana taken kontrak kalau sebelumnya lu ketahuan ngatain pemilik perusahaannya kayak semangka, bulat bolat bersinar, lu bilang gitu ya, Ar.”


“Yaelah kan gue bercanda waktu itu. lagian itu Om Om nguping gak sopan banget. Bilangin aja itu bercandaan ya? pokoknya gue serahin semuanya sama lu. Bye.” Langsung menutup telpon dan berbaring lagi di sofa ketika sang istri keluar dari kamar.


“Ares jangan berbaring lagi, nanti pusing. Ayok duduk dan hirup udara segar.”

__ADS_1


Ares duduk menurut ketika pintu balkon digeser hingga udara segar masuk. Cantika memasak lebih cepat untuk sang suami yang sekarang terlihat diam menatap keluar pintu balkon. Jarang jarang Ares mengatakan dirinya sakit, biasanya pria itu akan memaksa pergi bekerja bagaimanapun keadaannya.


Pyuttttt! Ares kentut yang mana membuat Cantika menghentikan gerakannya sesaat.. karena sudah terbiasa dengan hal itu, Cantika mengusap perutnya memberi tanda pada sang anak untuk jangan mewarisi sifat papanya yang seperti itu.


“Cantika apa kau mendengarnya?”


“Apa?”


“Suara kentutku lemah, menandakan aku tidak baik baik saja.”


Cantika tersenyum datar. “Ya, jangan khawatir, kau punya dokter terbaik yang pernah ada. Sepertinya ini karena kau terlalu banyak makan junkfood. Makannya untuk hari ini, kita makan sayuran ya? dari pagi sampai seterusnya.”


Mata Ares langsung membulat. Dia tidak bisa jika tidak ada daging, tapi jika menolak…. “Kalau tidak mau, kita ke dokter saja untuk mendapatkan obat. Jadi kau harus pilih, minum obat atau makan makanan sehat yang aku buatkan.”


“Tapi ini tidak akan bertahan lama kan?”


“Harusnya berlanjut, tapi setidaknya sampai kau sembuh saja dulu.”


Menu sayuran yang Cantika buat itu selalu aneh aneh, benar benar original tanpa tambahan penyedap apapun. Bagaimama Ares bisa menikmatinya? Rasanya pahit dan aneh. Dimana Cantika juga meminta Ares untuk memakan dedaunan sebagai camilan.


Tidak bertahan sampai makan siang, Ares yang sedang memakan dedaunan sebagai camilan menonton TV itu langsung mengatakan, “Cantika, aku sudah sembuh.”


***


Pada akhirnya, mereka pergi ke rumah Nenek juga di sore hari. Dimana Nenek sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. karena sudah mendengar kabar kalau anak Cantika adalah perempuan, Nenek menjadi lebih exited untuk memasak. “Ya ampun, Nenek akan memiliki cicit perempuan,” ucapnya menyambut kedatangan Ares dan Cantika. “Kalian berencana memiliki banyak anak kan?”


“Nenek, ini saja belum keluar.” Cantika merengut kesal. Untungnya, kehamilan pertamanya tidak menyusahkan sama sekali, bahkan terkesan santai. Dimana keinginan terbesar Cantika hanya berduaan dan bermesraan dengan Ares, tidak ada drama mual dan enggan makan. Semuanya, Cantika makan. “Mana Papa?”


“Ada di dalam.”


“Papa…,” panggilnya dengan maanja dan memeluk sosok itu.


“Jangan terlalu erat, Papa ngilu melihat perutmu,” uca sosok tersebut menunduk melihat perut sang anak. “Menginap di sini kan?”


Untungnya, tempat ini sudah Ares renovasi hingga lebih nyaman. Ada pembantu juga untuk membantu Nenek dan Papanya. Setelah direnovasi, Ares juga meminta sang pekerja memasangkan alat peredam suara di kamarnya supaya bisa melakuka hal iya iya jika di sini.


“apa kalian sudah menjadwalkan operasi?”


Cantika yang menjawab dengan semangatnya. “Kami memutuskan untuk melakukannya secara normal. Sebenarnya Cantika yang mau merasakan bagaimana perjuangan seorang Ibu, lagipula Cantika sehat dan dokter bilang memungkinkan jika ingin melakukannya secara normal.”


Ketika Cantika mengatakannya dengan antusias, berbeda dengan Ares yang terlihat tertekan, sepertinya pria itu memang enggan untuk melakukannya secara normal. Tidak siap untuk melihat bagaimana kesakitannya sang istri.


“Bagaimana dengan pengasuh?” tanya Nenek, dirinya bisa saja membantu. Tapi usianya yang tua, Nenek tidak se-vit dulu lagi. “Bukannya apa apa, kalian kan jauh dari orangtua. Kami berdua tidak memungkinkan untuk membantu. Jadi, lebih baik memiliki satu pengasuh.”


“Ares akan membawanya dari Amerika,” ucap pria itu dengan semangat. “Dulu, ada seseorang yang dipekerjakan Mommy untuk mengasuh Alden, dia sudah terpercaya untuk mengurus anak kecil.”


“Cantika setuju?” tanya sang Nenek.


Dimana sosok itu mengangguk sebagai jawabannya. “Cantika setuju, karena memang pasti akan membutuhkan orang yang lebih berpengalaman.”


“Oiya, Nenek juga mendenngar kalau keluarga Ares akan datang berkunjung. Kapan?”


“Tidak jadi.” Cantika yang menjawabnya. “Mereka sedang sibuk, Nek.”


“Tapi jangan percaya sepenuhnya.” Karena Ares berpengalaman ditipu oleh mereka. lagipula mana mungkin mereka melewatkan acara ulang tahun Ares. Mungkin memang tidak dirayakan secara meriah, tapi Ares ingin makan malam bersama dengan keluarga.


Jika dirinya yang berangkat, itu tidak memungkinkan mengingat sang Nenek sudah tidak kuat lagi naik pesawat, berbeda dengan Oma yang masih gagah.


Selesai makan malam, Ares diajak berbicara oleh ayah mertuanya. Tentu saja ini adalah hal yang menyenangkan. Bergabung bersama keluarga Cantika, Ares lebih dijernihkan otaknya oleh petuah petuah mereka, jadi sifat aneh Ares terkadang dihentikan jika mengingat nasihat yang diberikan Nenek ataupun Ayah mertuanya.


“Dulu, Mamanya Cantika menderita sekali saat melahirkan secara normal. Tapi dia bisa melewatinya. Papa hanya minta, kau menemani Cantika dan jangan sampai tumbang duluan ya?”


Ares menelan salivanya kasar, dia sebenarnya tidak setuju melihat sang istri meregang nyawa seperti itu. “Aku enggan mengizinkannya, tapi Cantika terlihat sangat antuasias.”

__ADS_1


“Hargai saja keputusannya, Cantika pasti sudah memikirkannya secara matang matang. Lagipula, dokter bilang Cantika sehat kan?”


“Ya, dia sangat sehat.”


Mengobrol perihal menjadi orangtua, Papanya Cantika menyarankan Ares supaya memiliki anak lebih dari tiga supaya tidak berakhir seperti Cantika yang kesepian.


“Papa mertua jangan khawatir, aku bahkan bisa membuat anak lebih dari 12, semuanya sudah siap.”


“Bukan hanya uang, mentalmu harus siap, dimana jika kau ingin berduaan bersama istrimu, anak anakmu akan mengganggu.”


Memikirkan itu, Ares jadi terdiam. Kehamilan sang istri saja menarik perhatian Cantika, apalagi jika anak anaknya sudah banyak ya?


“Tidak apa, Pa, aku sudah terbiasa diabaikan Cantika. Perjuangan lima tahun ini meenjadi sesi latihanku sepertinya.”


***


Pesta yang diselenggarakan di apartemen Ares, pesta ulang tahun pria yang ke 24 tahun. Kini, dia menjadi suami dari Cantika, dan itu adalah hadiah yang paling dia impikan.


Sudah Ares katakan kalau kedua orangtuanya pasti akan datang, apalagi perut Cantika yang semakin besar. Petuah petuah di diberikan. Mendapatkan kesempatan berkumpul lagi, Ares mendekati Athena yang duduk sendirian di sana. “Kenapa kau terlihat gelisah?”


“Tidak ada, aku hanya bahagia melihat saudara kembarku yang bodoh akhirnya menemukan pendampingnya.”


Ares terkekeh dan menarik Athena untuk bersandar padanya, beberapa kali dia kecup puncak kepala Athena. Bahkan sang adik ikut melingkarkan tangan di pinggang yang lebih tua. “Ares, kau bahagia?”


“Sangat, aku bahagia bisa mendapatkan istri yang aku impikan, keluarga yang berkumpul dan orang orang disekitar yang mendukung. Paling penting, pekerjaanku bisa aku kendalikan. Aku ternyata bisa mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini.”


“Selamat, aku ikut senang mendengarnya. Setelah drama kanker, akhirnya kau mendapatkan apa yang sangat kau inginkan.”


“Baaimana hidupmu? Aku merasa tidak baik baik saja karena beberapa kali merasakan sesak. Penyebabnya adalah kau bukan?”


Athena terkekeh, memang benar mereka berdua terhubung. Saking eratnya hubungan mereka, kadang Athena merasakan apa yang Ares rasakan, begitu pula dengan sebaliknya. “Apa yang membuatmu gelisah, Athena?”


“Masa depan. Aku tidak tau apakah aku bisa menjadi dokter yang hebat, atau mendapatkan keluarga juga.”


“Kau cantik, kau baik dan hebat. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan jika terus berusaha tanpa melupaakan Tuhan.”


Athena mendongkak, tidak percaya Ares yang lebih religious sekarang. “Kau berubah.”


“Ck, kenapa semua orang mengatakan hal itu.” mengalihkan perhatian dengan kalimat. “Bagaimana hubunganmu dengan Samuel?”


“Apa kau pikir dia serius denganku?”


“Aku tidak tau.”


“Gunakan feelingmu, Ares.”


Terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Coba saja, dia orang yang bisa mempertanggung jawabakan ucapannya. Meskipun kadang dia masih memandangi foto Arin.”


“Yah, aku rasa tidak mungkin untukku bersamanya. Dia mantan pacar sahabatku, belum bisa move on lagi.”


“Laki laki itu banyak, ada jutaan dan salah satunya adalah jodohmu. Sebenarnya aku tidak berharap Samuel menjadi pelabuhan terakhirmu, aku malas dipanggil Kakak olehnya.”


Yang membuat Athena tertawa seketika. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Ares dan memeluk pinggang saudara kembarnya lebih erat. “Kau akan menjadi ayah.”


“Tentu, akan mengerikan kalau aku jadi ibu.”


“menyebalkan.”


“Aku menyayangimu, Thea.”


“Aku juga menyayangimu, Ares.”


Dan keduanya baru sadar, kalau tidak ada suara manusia kecuali percakapan mereka berdua. Sampai akhirnya Ares dan Athena menoleh ke belakang, mereka kaget melihat seluruh keluarga berkumpul di belakang dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


“Manis sekali,” ucap Oma yang sedang memegang kamera.


__ADS_2