
Demi bisa bersama dengan Cantika, akhirnya Ares makan malam untuk yang keempat kalinya. Dalam waktu yang berdekatan tadi, dia menemui tiga orang yang berbeda. Mereka sama-sama ingin ditemui saat jam makan malam, sambil mengobrol perihal bisnis. Jika tiga makan malam sebelumnya, Ares tidak semangat sama sekali, yang sekarang dirinya memaksakan diri supaya terlihat menikmati makanan-makanan yang ada di atas meja. Karena Ares juga ingin Cantika melakukan hal yang sama.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tidak tahan karena keheningan yang melanda.
"Tentang hubungan kita." Ares tiba-tiba menjadi gugup dengan jantung yang berdetak dengan kencang.
Hubungan kita dia bilang, hampir saja Aras tersenyum hingga hidungnya mengembang. Dia menahan diri untuk tidak melakukan hal gila seperti itu.
Menunggu kalimat selanjutnya dari Cantika ternyata lama juga, sepertinya perempuan itu juga sama-sama gugup seperti Ares. "Apakah kau akan menerima tawaranku tentang pernikahan."
"Aku sedang memikirkannya sekarang, aku bingung."
"Apa yang membuatmu bingung?"
"Ares apakah menurutmu hubungan kita akan berhasil jika nantinya kita menikah?" matanya menatap dalam pria yang ada di hadapannya.
Seperti biasa pikiran dan hati Ares sedang berbunga-bunga sekarang. Sepertinya jika nanti dirinya akan mati dan bertemu dengan malaikat maut tidak akan ada bandingannya seperti debaran yang sedang dialaminya saat ini. "Berhasil dalam hal apa? Cantika, jujur saja aku masih sangat mencintaimu. Apa yang terjadi semalam itu di luar kehendakku, tapi jika kau mau menerima tawaranku untuk menikah, maka aku akan menjagamu dengan sepenuh hatiku. Aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun. Cintaku ini cukup untuk membuatku menuruti apapun yang kau inginkan."
"Termasuk tidak meninggalkanku secara tiba-tiba?"
"Kau masih dendam ya tentang hal itu?" Ares sendiri kesal dengan jalan pikirannya yang membuat dirinya susah sekarang untuk mendapatkan kepercayaan lagi dari Cantika.
"Itu adalah kebodohanku dan aku sudah belajar darinya, aku akan terbuka denganmu apa pun yang terjadi."
Masih menimang di wajahnya, Cantika bahkan hanya menyuapkan beberapa daging saja ke dalam mulutnya. Berbeda dengan Ares yang sudah memasukkan banyak sekali potongan daging sapi dan mengunyah cepat, tidak sabaran dengan jawaban yang akan dilontarkan Cantika. "Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Sejauh itu dirimu dariku hingga tidak ada perasaan yang tersisa?"
Ketika 2 detik itu tidak dijawab oleh Cantika, Ares kembali melanjutkan, "Tidak perlu dipaksakan Kalau kau memang tidak ingin bersama dengan diriku lagi, Cantika. Hanya saja sebagai bentuk pertanggungjawabanku, aku menawarkan pernikahan kepadamu. Tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa."
"Aku akan menerimanya. Aku mau menikah denganmu."
Ares mengerjakan matanya, dia langsung melepaskan sendok yang ada di tangan kemudian fokus pada Cantika. "Kau mengatakan sesuatu?"
"Kau mendengarnya tadi."
"Aku hanya ingin memastikan lagi. Kita akan menikah?"
"Tapi tidak sekarang, Ares. Ini bukan waktu yang tepat untuk kita bisa bersama." kemudian Cantika mengungkapkan kekhawatirannya tentang Galuh, dia tidak ingin membuat pria itu merasakan Down kemudian kehilangan fokus dan berakhir dengan tidak baik di luar pulau sana.
Bagaimanapun, Cantika khawatir kepada Galuh. Dia tidak ingin pria itu terluka. Setidaknya cantik kamu minta Ares untuk merahasiakan hubungan mereka sampai 2 bulan ke depan.
"Jadi bagaimana maksudmu, Cantika? Kau ingin kita menjalin hubungan di belakang Galuh secara diam-diam sampai dia kembali lagi dari luar pulau?"
Cantika mengangguk, ingin memberitahukan kebenarannya kepada Galuh secara langsung. "Aku juga akan mengurangi komunikasi bersama dengannya, meskipun tidak sepenuhnya karena aku khawatir dia kehilangan support system dan membuatnya sakit di sana." sebelum Ares merespon, Cantika kembali mengucapkan. "Dan aku berharap tidak ada satupun orang yang tahu tentang kejadian semalam, juga tentang rencana menikah kita. Bisakah kau menyimpan hal ini secara rahasia Selama 2 bulan ke depan?"
Memangnya Ares bisa apa, kalau dia menggelengkan kepala sudah pasti dirinya tidak akan mendapatkan Cantika. "Lalu bagaimana dengan status kita sekarang? Apa kita berpacaran secara diam-diam di belakang semua orang?"
"Status kita? Aku adalah calon pacarmu untuk dua bulan ke depan. Jika nanti kalau sudah kembali, baru kita meresmikan hubungan menjadi pacaran lalu naik tingkatan menjadi menikah setelah persiapan selesai. Aku tidak ingin merasa bersalah semakin dalam kepada Galuh jika kita pacaran sekarang. Jadi, bisakah untuk saat ini kita hanya sebatas bos dan juga sekretaris saja?"
Awalnya Ares ingin menolak, karena dia ingin memberikan perhatian lebih kepada Cantika di setiap saat. Namun mendengar kalau 2 bulan lagi dirinya akan naik status menjadi pacar Cantika, kemudian beralih lagi menjadi istri ketika mereka menikah, Ares merasakan masa depannya begitu cerah.
__ADS_1
"Aku hanya mengikuti apa yang kau katakan, selama itu membuatmu nyaman. Dan bolehkah dalam waktu 2 bulan ini, aku memberimu sedikit lebih banyak perhatian dari biasanya?"
"Kurasa itu tidak masalah. Tapi tolong jangan beritahu siapapun tentang kejadian semalam. Bisa kau berjanji untuk itu?"
Seketika Ares terdiam karena dia ingat menceritakan hal ini kepada Oma. "Tentu saja."
Karena yang akan hilang darinya hanya uang untuk menyogok Oma. Hal itu lebih baik dilakukan daripada kehilangan kesempatan untuk menjadi suami Cantika.
***
Senyuman Bahagia tidak bisa hilang dari wajah Ares ketika dia mengingat apa yang dibicarakannya bersama dengan Cantika barusan. Ares kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Namun kenyataannya, otaknya terus berkeliaran mengingat hal membahagiakan tersebut.
"Jadi suami Cantika! Waw! Aku tidak sabaran menyandang status itu!"
Posisi Ares tengkurap dengan kaki yang menendang-nendang layaknya seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Sampai Ares baru ingat kalau dia memiliki mainan untuk diberikan kepada Cantika.
Segera mengambil paper bag kecil yang ada di nakas, kemudian mengetuk pintu yang terhubung dengan kamar Cantika. Ternyata ketukan yang Ares lakukan, juga dilakukan oleh seseorang di dalam sana.
Ketika Ares membuka pintu, dia mendapati Cantika berdiri di sana. "Kau juga ingin ke sini?"
"Aku hanya ingin menanyakan perihal pekerjaan tadinya."
"Dan aku memiliki sesuatu untuk diberikan kepadamu. Ayo masuklah, Aku punya beberapa camilan yang pasti akan kau sukai."
Ares menepuk sofa yang ada di sisinya. Dia pikir Cantika akan memilih duduk di sofa yang berbeda, tapi ternyata dia duduk di samping Ares dan bertanya. "Hadiah apa yang akan kau berikan?"
"Tidak sabaran ya." kemudian memberikan paper bag kepada Cantika. "Isinya adalah boneka. Dulu aku ingat kalau kau agak kesulitan tidur, dan selalu memeluk boneka itu. Aku bakal ingat ketika kita sedang melakukan video call, kau tertidur begitu saja."
Cantika terkekeh mendengarnya, dirinya juga sama-sama merindukan masa lalu yang begitu manis. "Ares apa kau pernah berpacaran dengan wanita lain setelah kita putus?"
"Tidak, kehidupanku begitu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk berpacaran."
"Jadi tidak memiliki wanita yang disukai?"
"Aku tetap menyukaimu meskipun jarak memisahkan kita dulu."
"Tidak menyukai pria? Apakah pernah ada pria yang menyatakan perasaannya padamu?"
Tunggu, Ares menjadi bingung Ke mana arah pembicaraan yang dilakukan oleh Cantika. Masa iya dirinya menyukai laki-laki.
"Tentu saja tidak, aku membatasi pergaulan. Bukan berarti aku membenci mereka, hanya saja aku memiliki prinsip hidup sendiri." keduanya sama-sama diam kembali, Ares sudah tidak tahan ingin untuk melakukan hal lebih kepada Cantika, seperti merangkulnya atau melakukan beberapa hal yang manis.
Sayangnya, Ares khawatir jika nantinya Cantika tidak akan nyaman. Jadi dia malah menyisir rambutnya ke belakang dengan hal nafas yang begitu berat, tanpa dia sadari itulah yang membuat Cantika terpesona dan langsung memalingkan wajahnya.
"Tidak, aku tidak menghianati kepercayaan Galuh, aku menerima tawaran Ares karena aku takut di masa depan tidak akan ada pria yang mau denganku. Dia juga harus bertanggung jawab supaya saat aku hamil dirinya sudah ada di sana."
Cantika mengangguk angguk sendiri mendengar isi dari pikirannya.
__ADS_1
Hal itu membuat Ares bertanya. "Kenapa? Apakah sakit kepala?"
"Hanya sedikit karena rasa bosan sedari tadi diam saja di sini."
Ares menahan tawanya, dia suka melihat Cantika yang seperti ini. Bicara sejujurnya dan juga membuat Ares betah berlama-lama menatapnya.
"Bagaimana kalau kita menonton film?"
"Film apa?"
Kita cari saja film apa yang seru. Belum mengantuk bukan?"
Kenyataannya Cantika memang belum mengantuk, jadi dia mengangguk menerima ajakan Ares. "Kita akan menonton di mana?"
"Di sini saja di kamar ini, kita harus memanfaatkan fasilitas netflix yang mereka miliki. Tidak masalah bukan?"
Bukan hanya karena ini malam, tapi Ares juga merasa lelah jika harus pergi.
Akhirnya Cantika mengangguk. Ares langsung memberikan remote kepada Cantika.
"Pilihlah film apa yang kau mau, aku harus ke toilet dulu."
Ketika Ares pergi ke toilet, dan Cantika dengan kesendirian di sana menatap ranjang yang menjadi saksi bisu apa yang mereka lakukan semalam.
Bahkan Cantika masih ingat bagaimana dirinya menaiki Ares dan mendesah dengan Sensual ketika Apa yang dilakukannya membuatnya merasa begitu nikmat sampai tubuhnya bergetar, dan keringat keluar.
"Berhenti memikirkan hal seperti itu, Cantika. Kepintaran otakmu nanti akan hilang," ucapnya berbicara kepada diri sendiri.
Sementara di sisi lain Ares sedang menelpon Oma, dia tidak boleh membocorkan rahasia ini pada siapapun termasuk kepada kedua orang tuanya.
Begitu Oma mengangkat telepon, Ares langsung mengatakan. "Oma mau tidak kalau Ares transfer sekitar 2 miliar untuk uang jajan Oma bulan ini?"
"Astaga cucu yang sangat baik? Jadi Ares ingin apa sekarang? Ingin Oma menghentikan hujan?"
Oma bertanya demikian karena Ares selalu meminta hal-hal yang di luar kendalinya.
"Ares hanya ingin Oma merahasiakan apa yang sebelumnya Ares katakan tentang bercinta bersama dengan Cantika."
"Itu benar-benar terjadi bukan?"
Ares terkekeh dan mengangguk. "Tolong jaga rahasia ini Oma. Ya?"
"Tapi tadi Oma tidak sengaja memberitahukannya kepada Sebastian."
"Kenapa harus dia?" Ares bertanya dengan frustrasi. Bagaimana bisa orang yang paling Ares hindari malah memegang rahasianya.
"Tadi dia menelpon Oma untuk membicarakan tetangganya, dan meminta masukan. Oma tidak sengaja menceritakan Tentangmu. Kau jangan khawatir, Sebastian itu sudah tua dia pasti pelupa."
****
__ADS_1