
Sayangnya panggilan tersebut lebih dulu tidak terangkat oleh Cantika. Dia menghela napasnya gusar dan mencoba untuk menunggu telpon berikutnya lagi. Sayangnya, Galuh tidak kunjung menghubungi lagi. Sepertinya pria itu memang merasa muak dengan Cantika. Entah apa yang harus Cantika lakukan sekarang.
Niatnya tidak akan membicarakan ini dengan Ares. Namun begitu pria itu selesai mandi dan masuk lagi ke kamar Cantika, perempuan itu refleks mengatakan, "Tadi Galuh menelpon. Tapi aku tidak punya waktu mengangkatnya. Aku menunggunya menelpon sekarang, tapi dia tidak melakukannya."
Ares jadi ikut khawatir. Untungnya dia sudah meminta Samuel untuk membuat Galuh pulang lebih cepat supaya permasalahan hati dengan Cantika segera selesai. "Coba hubungi lagi."
"Apa tidak apa apa?" Tanya Cantika seolah meminta izin. Yang dibalas anggukan oleh Ares.
Sayangnya ketika menghubungi kembali, nomor yang dituju tidak aktif. Apalagi yang bisa Ares lakukan selain mengatakan, "aku tidak tau harus bagaimana lagi. Tapi jika kita tetap diam dan terputuk dengan keadaan ini, kita tidak akan jalan jalan dan menikmati keindahan kota ini. Bagaimana kalau kita sejenak menarik napas dalam dan jalan jalan? Perihal Galuh, kita bisa menemuinya nanti jika sudah kembali ke Indonesia."
Karena tidak ingin merusak moment. Akhirnya Cantika mengangguk dan melanjutkan lagi agenda mereka jalan jalan di Amerika menghabiskan sisa hari yang harusnya adalah waktu dimana mereka mengibarkan sayap pada perusahaan lain. Namun, Ares memilih mengerjakannya seorang diri. Dia tidak mau Cantika nya sakit, dia enggan Cantika nya sibuk. Apalagi jika nantinya kesibukan itu akan membuat Ares kehilangan perhatian dari Cantika.
__ADS_1
Selama tiga hari terakhir. Mereka benar benar bersenang senang. Saat Cantika bertanya pada Ares, "Bagaimana pekejaanku sebagai sekretaris mu? Selama ini, aku belum bisa menjadi sekretaris yang baik dan benar. Kau tidak pernah menggunakan ku sebagaimana seorang sekretaris, Ares."
"Keberadaanmu di sisiku sudah lebih dari cukup, Sayang. Aku senang kau di sini. " Ares mencium tangan sang kekasih. Ngomong ngomong sekarang mereka ada di salah satu stret food yang terkenal di kota ini. Sengaja, ini adalah malam mereka terakhir di sini karena besok keduanya akan kembali ke Indonesia.
"Aku tidak mau diperlakukan seperti itu. Jika aku tidak bekerja dan itu malah membuatmu kelelahan sendiri. Lebih baik aku memundurkan diri."
"Jangan gila, Cantika. Aku hanya ingin dirimu di sisiku. Kalau kau mau, nanti malam aku beri pekerjaan oke?"
"Lakukan apapun yang kau inginkan." Ares mengatakan itu sambil mengikuti sang kekasih dari belakang. Dimana dia membeli tiap makanan yang membuatnya tertarik untuk dicoba.
"Ares aku ingin makan ini!"
__ADS_1
"Astaga! Ingin makan ini juga!"
Bahagia itu ketika Cantika kembali terbuka padanya. Membuat Ares merasa seperti sosok kekasih yang sesungguhnya. Dia juga senang karena Cantika melupakan kekhawatiran pada Galuh. Karena terbukti sekarang Cantika lebih memikirkan kesenangan mereka.
Selama beberapa hari ini pula, Cantika dan Ares tidur bersama di atas ranjang. Hanya tidur bersama saja. Ares cukup tak diri karena memaksa berhubungan badan malah akan berkahir dengan tidak baik.
Baru juga Ares duduk. Cantika menarik pergelangan tangannya. "Mau itu. Ayok ke sana antar jajan."
Ares tersenyum senang bisa melayani sang kekasih seperti ini, dia merasa... tidak jomblo lagi.
***
__ADS_1