STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Pilihan yang remang


__ADS_3

Ketika Cantika bangun, dia tidak mendapati Ares ada di sekitarnya. Matanya mengedar mencari sosok tersebut. ada di mana dia? Namun mendengar suara dari arah kamar mandi membuat Cantika yakin kalau Ares sedang ada di sana. jadi dia hanya menunggu sambil merenung tentang apa yang terjadi tadi malam. Cantika sadar betul kalau tubuhnya panas dan membutuhkan sesuatu untuk melepaskannya. Dengan kesadaran yang terkadang ada dan tidak, Cantika menggoda Ares yang mabuk.


Entah siapa yang harus disalahkan di sini. yang jelas, Cantika juga merasa ingin menangis karena ulahnya sendiri. dia tidak bisa memutar waktu, kenyataan kalau dirinya sudah tidak lagi perawan membuatnya tersiksa. Siapa pria yang mau dengannya? Dan bagaimana jika nantinya Cantika hamil?


Ah ya, ketika Ares keluar kamar mandi dan melihat Cantika sudah bangun, tatapan keduanya bertemu. Ares menarik napasnya dalam dan melangkah mendekati sang kekasih hatinya. “Bisa kita bicara? Sekalian kau belum makan, sudah ada banyak makanan di sana. ingin sarapan apa?”


Kini tatapan Cantika teralihkan pada meja yang dipenuhi dengan makanan. sepertinya Ares yang menyiapkan ini. “Ingin ke sana? atau aku bawakan ke sini?”


“Aku ingin ke sana. tapi aku rasa kesulitan melangkah.”


“Boleh aku menggendongmu? Aku tidak akan macam macam.” Ares secara sadar harus lebih berhati hati. Dia tidak mau membuat Cantika tertekan. Sebahagia apapun dirinya memiliki peluang, ketenangan hati Cantika yang dia utamakan.


Ketika perempuan itu mengangguk, Ares mendekat. Dia bahkan mengatakan, “Maaf.” Saat hendak menggendong tubuh Cantika dan membawanya untuk duduk di sofa yang nyaman di sana. cantika menatap makanan di depannya yang begitu banyak, mengambil salah satu piring dan mencicipi kue tersebut.


“Kau sudah makan?”


“Sudah, makan lah yang banyak supaya tenagamu kembali.”


Cantika mengangguk, dia menunduk enggan menatap wajah Ares. Ini bukan salah Ares, jadi Cantika tidak mau berlama lama menatap pria itu. karena jika terlalu lama, pikirannya akan menegaskan kalau semua ini salah Ares. “Bisa kita membicarakan hal semalam?” tanya Ares dengan hati hati.


Cantika kembali menganggukan kepalanya.


“Semalam, kau meminum alcohol yang mengandung zat perangsang.”


Mulut Cantika penuh, tapi alisnya naik seolah bertanya apa yang terjadi.


Ares pun menjelaskan apa yang dia dapatkan dari sang asisten, bahwasanya ini adalah sebuah kesalahan dari pelayan dan juga bartender. Bahkan mereka sekarang sudah berada di tangan anak buah Ares, berjaga jaga jika Cantika ingin melakukan sesuatu pada mereka.


“Jangan lakukan apapun, mereka hanya melakukan perintah. Aku yang salah karena meminumnya tanpa bertanya.” Cantika menunduk melihat pancake yang ada di piring, tetap mengunyah untuk menjaga kewarasannya. “Yang terjadi semalam adallah yang pertama untukku, itu agak mengagetkan dan mengecewakan diriku sendiri. aku tidak tau harus berbuat apa.”


“Apakah jika aku mengatakan ingin bertanggung jawab dengan menikahimu, kau akan menerimanya?”


Mengangkat pandangan, menatap Ares yang memperlihatkan raut wajah serius. Sudah lama Cantika tidak melihat ekpresi ini, dimana Ares benar benar menunjukan kesungguhannya.


“Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam.”


“Ares, aku yang memaksamu bukan?”


“Aku juga menikmatinya tanpa sadar. Aku hanya tidak mau sesuatu terjadi ke depannya.”

__ADS_1


Memang benar, satu satunya pertanggung jawaban ini adalah dengan cara menikahinya. Cantika juga paham kalau mungkin tidak ada laki laki diluar sana yang menginginkannya, Galuh juga dipertanyakan.


Ah, mengingat Galuh membuat Cantika kembali ingin menangis.


“Cantika?”


“Aku tidak tau, ini semua terlalu terburu buru.”


“Tidak apa apa, tapi aku benar benar berharap kau akan menerimanya. Aku menghargai setiap keputusanmu.”


Cantika memandang wajah Ares. “Aku tidak bisa menjawab sekarang.”


“Tidak apa apa.”


Ares merasa kalah. Padahal dirinya sudah melakukan hubungan intim bersama dengan Cantika, kemungkinan Cantika hamil juga besar. Tapi perempuan itu bahkan masih memikirkannya. Membuat Ares bertanya tanya apakah semengerikan itu dirinya? Sammpai Cantika merasa terjebak dengannya?


***


Bukannya enggan untuk menerima Ares, hanya saja semua ini terlalu tiba tiba untuk Cantika. Dia memerlukan proses untuk mencerna semua ini. seperti merenung sebentar tentang apa yang akan terjadi ke depannya nanti. Namun, sepertinya dia tidak bisa berlama lama berfikir. Bagaimana juga kalau dirinya hamil kemudian Ares sudah tidak mau dengannya? Tidak, Cantika tidak mau hal itu terjadi


Dia segera menyelesaikan sesi berendamnya dan keluar dari kamar mandi setelah berpakaian. Tanpa berdandan, Cantika melangkah menuju pintu penghubung dan mengetuknya beberapa kali sambil memanggil nama Ares, tapi sepertinya pria itu mengabaikannya


“Ares?!”


“Tuan Ares ada urusan bisnis dan dia harus pergi. Tuan Ares berpesan pada saya untuk menjaga anda. Apakah ada yang bisa saya bantu untuk anda, Nona Cantika?”


“Kapan Ares kembali?”


“Secepatnya.”


Baru sadar juga, kalau Cantika sendiri masih berstatus sebagai sekretaris Ares dan harusnya hari ini mereka melakukan banyak pekerjaan. “Tentang pekerjaanku…”


“Jangan khawatir, Nona, semuanya sudah ditangani oleh saya. Anda istirahat saja dan tunggu Tuan Ares di kamar anda. Atau mungkin anda ingin jalan jalan?”


Cantika menggeleng. “Kalau Ares sudah kembali, tolong langsung minta dia untuk menemuiku ya. terima kasih sebelumnya.” Cantika baru menutup pintu dan kembali membaringkan tubuh di ranjang yang spreinya sudah diganti. Dia memirkan tentang kejadian semalam.


Setiap kali Cantika memejamkan mata, adegan ketika dirinya dengan berani memasukan milik Ares ke dalam dirinya membuat Cantika merinding sendiri. “Aku begitu murahan,” ucapnya meneteskan air mata.


Yang membuat Cantika sedih di sini adalah dirinya yang tidak bisa menahan diri, hingga kekecewaan dan juga kebencian pada diri sendiri. “Bodoh bodoh.”

__ADS_1


Menikah dengan Ares? Ya, Cantika memang mendapatkan banyak keuntungan. Tentang cinta pada Ares? Cantika juga masih sedikit mempunyai perasaan pada Ares. Hanya saja, selama ini yang menemaninya saat dirinya kesusahan adalah Galuh. Jadi tidak mudah untuknya meninggalkan pria itu begitu saja.


“Bagaimana kabar Galuh sekarang? Apa dia baik baik saja di sana?”


Ketika Mamanya meninggal, ketika kakeknya sakit sakitan, Galuh yang ada di sisinya. “Bagaimana tanggapannya ya kalau dia tau ternyata aku akan memilih Ares. Aku takut aku hamil, meskipun tidak, memangnya ada pria yang mau dengan wanita bekas sepertiku?” tanya Cantika pada dirinya sendiri.


Baru juga dia hendak memutuskan untuk memilih Ares supaya menghindari kejadian mengerikan ke depannya, Cantika malah mendapatkan pesan dari Galuh. Dimana pria itu mengirimkan gambar bunga dengan kalimat, “Secantik wanita impianku, Cantika. Kaulah penyemangatku, kau yang membuatku bertahan di sini sampai aku ingin terus berjuang untuk anak anak yang membutuhkan sekolah. Cantika. Jangan berhenti menjadi lentera hidupku. Aku tanpa keberadaanmu bukanlah apa apa. Aku juga baik baik saja di sini. jangan khawatir. Kau harus baik baik saja di sana ya. namun, aku ingin sekali memberitahu kalau kemarin aku masuk parit dan kakiku terpatuk ular. Tapi aku sudah baik baik saja. kau tau apa yang membuatku baik baik saaj? Memikirkanmu. Hahaha. Harusnya selama dua bulan ini aku ada di sisimu untuk menunjukan kalau aku memang pantas menjadi pendampingmu, tapi di sinilah aku sekarang. Maaf ya.”


satu lagi hal yang sangat memberatkan Cantika untuk meninggalkan Galuh.


***


Ketika Ares pulang dari pertemuan yang penting, dia melihat ada toko aksesoris yang menjajakan boneka lucu di depannya. Ares tau kaalau Cantika pasti akan menyukainya, jadi dia memilih untuk mampir dan membeli salah satunya. Berharap dengan boneka cantik ini, mood Cantika akan kembali dan mengambil keputusan yang tepat.


Karena Ares tau, kalau Galuh akan menerima apapun keadaan Cantika meskipun suatu saat nanti Cantika hamil anaknya. Dan Ares tidak bisa menerimanya, sang keturunan Fernandez harus berada di bawah kendalinya, di bawah pengawasannya. Jadi sebisa mungkin, Ares akan membuat Cantika memilihnya.


“Untuk anak anda?” tanya sang kasir. Belum juga Ares menjawab, dia sudah lebih dulu melanjutkan dengan kalimat, “Bagaimana jika aku tambahkan senter kecil dan juga jepit ini. untuk anak anda.”


“Astaga, terima kasih banyak.” Ares menerimanya dan segera kembali ke dalam mobil.


Namun saat dia hendak menyalakan mesin, ponselnya berbunyi memberitahukan kalau orang yang harusnya Ares temui lusa itu bersedia untuk di temui sekarang. Pada akhirnya, Ares tidak langsung kembali ke apartemen.


Sebenarnya Ares sengaja menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang cepat supaya bisa kembali pada Cantika. Juga supaya Cantika tidak banyak bekerja. Jikapun nanti Cantika ingin pulang lebih awal, Ares akan mengizinkannya dengan dirinya yang akan ikut pula mengingat pekerjaan di sini sudah selesai.


Setelah jam makan malam, baru Ares bisa pulang. dirinya sudah kekenyangan karena makan tiap bertemu dengan orang yang berbeda. Dalam perjalanan, Ares menyetir sendirian. “heheh,” ucapnya tiba tiba teringat bagaimana dirinya berhasil membuat Cantika kewalahan tadi malam. “Shit! Ares berhenti memikirkan hal itu! kau harusnya bersimpati pada Cantika!” ares memarahi dirinya sendiri dan mulai bersikap tenang lagi.


Saat di lobi, Ares bertemu dengan asistennya. Dia memberitahukan kondisi Cantika selam seharian ini dimana Cantika malah lebih banyak menanyakan tentang keberadaannya. “Kenapa tidak memberitahu sejak tadi? Kalau Cantika mencariku, aku pasti akan langsung pulang,” ucap Ares kemudian bergegas naik ke lift.


Tujuan utamanya langsung ke kamar Cantika, dia mengetuknya dari luar. Namun tanpa disangka malah mendapatkan teriakan, “Tidak memesan layanan kamar!”


“Ini aku Ares,” ucap pria itu. tidak lama kemudian terdengar suara perempuan melangkah mendekat dan membuka pintu, Cantika terlihat terkejut mendapati Ares di sana. “Hai, maaf membuatmu menunggu. Aku baru selesai.”


“Maaf juga karena tidak membantumu.”


“Tidak apa. Boleh aku masuk?”


Cantika mengangguk dan mengizinkan Ares masuk, pria itu duduk di sofa dan mendapati meja makannya yang masih penuh.


“Aku ingin berbicara denganmu, sekalian mengajakmu makan malam bersama.”

__ADS_1


Seketika Ares tersenyum, sudah dia katakan dirinya selalu makan setiap bertemu dengan orang. Kini bagaimana nasib perutnya jika kembali makan? Namun demi pembicaraan penting dengan Cantika, Ares mengangguk. “Tentu saja.”


***


__ADS_2