
Baru juga setengah hari, tapi Ares sudah merasakan lelah yang berlebihan. Dimana karena enggan membuat Cantika terlalu kelelahan, beberapa hal Ares selesaikan sendiri. mungkin, Catika hanya akan mendampinginya untuk rapat, menuliskan hasilnya dan nanti melakukan apa yang diperintahkan oleh Ares. Perintah itu juga tidak pernah berat. Ares ingin Cantika sehat sampai pernikahan mereka nanti.
Mengingat pernikahan, Ares tersenyum sendiri. membuat Cantika yang berjalan di sampingnya itu mengerutkan kening. “Ares, kau baik baik saja?”
“Um, ya. aku baik baik saja. ingin makan siang bersama?”
“Uh, aku rasa tidak. Aku ingin makan di kantin bawah.”
“Kalau begitu bersama saja.” cantika menggelengkan kepala. Membuat Ares paham kalau perempuan itu enggan menjadi pusat perhatian. “Tidak apa kan?” karena Cantika sendiri tau kalau Ares hampir tidak pernah makan di cafeteria, jadia akan terasa aneh jika itu pergi sekarang.
“Tidak apa, lakukan apapun yang membuatmu nyaman, aku akan makan di ruanganku sendiri. sekalian ada yang harus aku selesaikan.”
“Ingin menitip sesuatu? Pudding atau yang lainnya?”
“Tidak. Makan yang banyak ya, jangan sampai kau kelelahan. Hari ini kita banyak pekerjaan.”
Cantika mengangguk membiarkan Ares mengusak rambutnya sebelum pria itu masuk ke ruangan. Sementara Cantika pergi ke lantai bawah untuk mengambil jatah makan siangnya. Sebenarnya bisa saja Cantika meminta seseorang membawakan jatahnya, tapi dia ingin berkeliling juga dan agak menjauh dari Ares. Bersama dengan pria itu terus membuat keduanya akan melangkah pada hal yang lebih lagi, apalagi Cantika sudah menyadari ketertarikannya pada Ares secara terang terangan.
Di ruangannya sendiri, Ares mendapatkan pesan dari salah satu teman kuliahnya. Dia bilang ingin datang dan mengunjungi Ares. Tapi Ares sedang fokus untuk acara pernikahannya dengan Cantika. Dimana sekarang tugasnya adalah mendesak mereka untuk datang dan segera meyakinkan keluarga Cantika kalau Ares memang serius untuk meminang Cantika menjadi istrinya. Ketika Ares mendapatkan telpon dari sang Mommy, dia segera mengangkatnya dengan antusias.
"Hallo, Mom? Jadi, kapan Mommy bisa datang ke sini?" Tanya Ares dengan mata yang berbinar.
"Ares, apa kau serius, Nak? Menikah itu tanggung jawabnya berat. Kau harus siap mental. Bukan hanya uang saja yang kau butuhkan."
"Aku sudah siap, Mom. Aku tidak ingin menundanya lagi dan malah menimbulkan hal yang tidak pasti. Cantika sudah kembali pada Ares, dia menyetujuinya." Meyakinkan pada Sang Mommy kalau Ares siap menanggung beban menjadi suami. Dia tidak tahan kalau terus menundanya. Bisa bisa dia akan mati. "Mommy tau bagaimana perjuanganku selama lima tahun untuk mencoba fokus dan membantu Daddy. Tidak bisa kah kalian sekarang yang memberikan restu untuk menikahi Cantika? Aku ingin menikahinya."
"Sayangku… . Kami tidak bisa datang cepat cepat. Kalau misalnya akhir bulan depan bagaimana?"
"Mom itu terlalu lama. Bagaimana kalau keluarga Cantika meragukanku? Aku ingin kalian datang minggu ini." Ares merengek.
"Baiklah, Mommy akan bicara bersama dengan Daddy mu. Jangan khawatir ya."
"Okay." Ares menyeka air matanya yang hampir jatuh. Dia enggan untuk kehilangan harapan
Namun setelah dia memutuskan telpon bersama dengan Mommy nya, Ares mendapatkan telpon dari Athena. Kabar yang sama buruknya dimana sang kembaran mengatakan, "Aku mewakili diriku sendiri dan juga Alden. Kamu tidak bisa datang dimana aku harus melakukan praktik. Aku hanya akan datang jika nanti kau menikah saja. Oke? Dan Alden, dia juga harus melakukan ujian."
"Tapi Cantika… . Aku akan menikah dan butuh dukungan. Tidak bisakah kau sayang ke sini? Kau tidak merindukan Cantika memangnya?"
"Aku sudah puas berbicara dengannya kemarin. Jadi, tidak masalah jika aku harus bertemu dengannya lagi nanti kalau kalian menikah."
"Thea… ." Untuk pertama kalinya Ares memanggil sang kembaran dengan manik yang berkaca kaca.
"Ares, aku tidak punya waktu. Aku harus pergi. Bye. Maaf ya sekali lagi. Aku menyayangimu, tapi tidak sebesar aku menyayangi diriku sendiri." Begitu ucapnya sebelum akhirnya menutup panggilan.
Kenapa semua penderitaan ini bertubi-tubi? Karena sekarang, Oma juga menghubunginya dan mengatakan kalau dia tidak bisa datang. "Oma mendukungmu. Akhirnya kau bisa menikah dengan wanita yang kau cintai, Sayangku. Tapi kau sendiri tau kalau Oma sering kelelahan. Perjalanan dari Indonesia ke Amerika akan membuahkan hasil yang membuat Oma lelah, berakhir dengan wajah Oma yang tidak terawat. Oma datangnya nanti saja kalau kau menikah dengan Cantika ya? Oke?"
"Omaaa…" Air matanya sudah menetes sekarang. Semua anggota keluarganya tidak akan ada yang datang. "Oma tidakkah kasihan padaku? Aku sebatang kara di sini?"
"Oh sayang, Mommy dan Daddymu pasti akan datang."
"Tapi aku butuh kalian, aku ingin kalian datang dan memberikan dukungan untuk meyakinkan keluarga Cantika."
"Oma tutup dulu ya. Kau pasti mengerti. Bye bye."
Hal itu berhasil membuat Ares meneteskan air matanya. Dia menatap ponselnya dengan tatapan yang kosong. Betapa teganya keluarga sendiri yang enggan datang untuk mendukung dirinya?
***
__ADS_1
Beruntungnya tidak semua orang jahat. Ada orang yang mau berbagi bangku dan juga cerita bersama dengan Cantika. Obyek yang mereka bicarakan tentu saja Ares. Membicarakan tentang bagaimana pria itu begitu mempesona dan membuat semua orang tergila gila di sini. "Aku benar benar mengharapkan Tuan Ares menjadi milikku walau hanya satu hari. Dia sangat tampan."
Mendengar bagaimana kekasihnya dipuji oleh mereka, Cantika hanya bisa tersenyum. Memang tidak pantas seorang dirinya yang orang biasa menjadi pasangan Ares. Namun Cantika meyakinkan dirinya kalau inilah ganti rugi Tuhan karena telah mengambil beberapa orang yang dia sayangi.
Sebelum kembali bekerja di lantai atas, Cantika membeli pudding dulu untuk Ares. Dua pudding cokelat yang sangat Ares sukai.
Sebelumnya, Cantika mengetuk pintu. Walau bagaimanapun, dia harus tetap menjaga privacy. Masih ada batasan diantara mereka. Sayangnya, Ares tidak kunjung membuka pintu.
"Ares? Ares?" Panggilnya berulang kali. Setelah lima menit, baru Cantika berani membuka pintu dan masuk ke dalam. Keningnya berkerut tidak mendapatkan keberadaan sang kekasih. "Ares, kau dimana?"
"Aku di kamar mandi," Ucapnya dari sebuah ruangan
Cantika membuka ruangan itu. Di dalamnya ada ranjang kecil dan tempat istirahat, Ares di dalam kamar mandi. Saat Cantika menarik pintunya, itu terkunci.
"Cantika jangan mengintip, aku sedang menyelesaikan masalah perut di sini. Aku malu kalau kau melihat."
Pipi Cantika memerah seketika. Dia tidak berniat untuk mengintip, hanya memastikan Ares ada di sana. "Bukan begitu. Aku hanya memastikan kalau kau baik baik saja. Apa sakit perut?"
"Tidak, Sayangku. Tapi sepertinya untuk rapat selanjutnya aku tidak akan ikut. Kau saja ya. Bisa?" Tanya Ares.
Cantika mengangguk. "Aku membawakan pudding untukmu. Nanti aku simpan di meja ya." Menatap jam di dinding. Jam rapat sebentar lagi, jadi Cantika harus bergegas. "Nanti aku ke sini lagi ya. Aku akan pergi dulu mengerjakan pekerjaanku."
"Tentu, maafkan aku ya."
"Aku baik baik saja. Khawatirkan dirimu sendiri. Aku akan kembali nanti." Cantika benar benar khawatir dengan Ares yang berurusan dengan perut.
Sementara di sisi lain, Ares bukannya sakit perut, tapi dia sedang berjuang untuk menghilangkan matanya yang bengkak akibat menangis karena kekecewaanya pada keluarga sendiri. Ares juga berencana untuk mengurangi intensitasnya bersama dengan Cantika karena malu. Dia harus memastikan kalau keluarganya bisa datang ke sini minggu ini. Khususnya kedua orangtuanya.
"Oke, tidak apa jika yang lainnya tidak datang. Asal Mommy dan Daddy." Meskipun keduanya masih juga dilanda kebingungan karena bentrok dengan hal penting lainnya. "Aku ini Fernandez atau bukan? Kenapa mereka mengabaikan apa yang harusnya menjadi kewajiban mereka." Menggerutu sendiri karenanya.
Saat Ares merasa matanya sudah membaik, dia segera keluar kamar mandi dan mendapati ada pudding yang dibawa Cantika. "Jangan khawatir, Sayang. Aku makan memastikan kalau kedua orangtuaku datang dan meyakinkan keluargamu agar kita bisa menikah."
"Hmm. Aku baik baik saja. Bagaimana hasil rapatnya? Apa kau bisa mengendalikannya?"
Cantika mengangguk dan duduk di samping Ares, dia menggenggam tangan pria itu. "Ya, semuanya baik baik saja. Minum ini dulu. Nanti aku akan menjelaskannya."
"Ini apa?"
"Obat supaya perutmu tidak sakit. Oralit. Tau?"
Ares terkekeh. Dirinya tidak sakit perut, tapi dirinya tidak mungkin mengatakan kejujuran. Jadi terpaksa dia meminum cairan asin pahit itu. "Ini terbuat dari apa?"
"Dari teh pahit dan garam."
***
Ares benar benar tidak mood dengan kondisinya sekarang. Saat tadinya dia akan berjalan jalan dengan Cantika, Ares terpaksa membatalkannya dengan alasan dirinya tidak enak badan.
Cantika memakluminya, bahkan perempuan itu memaksa untuk ikut ke apartemen Ares untuk membuatkan makanan. Karena basement CEO itu terpisah, jadi Cantika mau ikut tanpa khawatir akan ada orang lain yang melihatnya.
Kekhawatiran Cantika semakin larut ketika Ares meminta supir yang mengantarkannya. Dimana Cantika juga menarik Ares untuk bersandar padanya. "Sebenarnya apa yang kau makan? Kenapa bisa sampai selemas ini?"
"Entahlah. Aku lupa."
Cantika juga ikut ke dalam apartemen untuk memasak. Dia memastikan kalau Ares makan makanan yang sehat tanpa adanya bumbu penyedap pedas yang bisa membuat perutnya panas. Ares juga langsung masuk ke kamar, dan tertidur di sana.
Cantika masuk ke kamar, dia mengelus rambut sosok tersebut dan mengecup puncak kepalanya. "Aku akan pulang dulu ya. Makanan sudah aku siapkan di meja, nanti malam makan. Kalau tetap seperti ini, hubungi aku. Nanti kita ke rumah sakit. Oke?"
__ADS_1
Ares mengangguk. "Terima kasih."
"Maaf ya aku tidak bisa menemanimu. Papa dan Nenek akan membunuhmu kalau aku melakukannya."
"Jangan khawatir." Ares terkekeh karenanya dan membiarkan Cantika pergi.
Bukan sakit karena fisik, tapi karena pikirannya yang membayangkan betapa keluarganya sama sekali tidak mempedulikan ketika Ares sudah yakin dirinya akan melangkah pada hal lebih baik. Mereka seolah tidak mendukungnya dan menganggap Ares adalah orang asing. "Hiks… oma tega sekali. Oma bilang aku adalah cucu kesayangannya. Tapi dia takut keriput karena datang ke sini."
Lalu memikirkan lagi Athena. "Dia saudari kembarku, tapi tega melukaimu perasaanku. Tidak kah dia merasakan apa yang aku rasakan sekarang?"
Lelah bergumam sendiri, Ares keluar dari kamar untuk makan malam. Semua yang disiapkan oleh Cantika adalah makanan yang tidak berasa. Benar benar menempatkan Ares menjadi orang yang sedang sakit. Lama lama Ares pusing juga. Dia akhirnya mengubungi sang asisten pribadi. "Gass kita ke klab. Gue mau mabok. Jemput gue ke sini ya." Mengatakan itu dan menutup panggilan sebelum Samuel mengatakan pendapatkanya.
Ares bersiap dengan memakai pakaian yang mencerminkan dirinya anak remaja. Benar benar keren. Dia ingin mabuk dan melupakan kekesalannya pada keluarga
Tidak lama kemudian, Samuel datang menjemputnya. "Ayok, gue yang bakalan traktir lu."
Samuel menggelengkan kepala. "Kayaknya gue mah gak bakalan ditraktir sama lu. Gue harus tetep waras, biar lu gak masuk got lagi, Ar."
"Pokoknya malem ini sampe gak waras!" Begitu teriaknya mengingatkan Samuel dengan tingkah Ares saat ditolak oleh Cantika. Membuatnya penasaran dan bertanya. "Lu patah hati sama Cantika? Kenapa bisa nyampe kayak gini?"
"Kenyatannya, patah hati sama Oma lebih mengerikan dari siapapun. Gue pikir, gue spesial. Tapi ternyata, gue biasa di mata Oma."
"Hah?" Samuel bingung dengan Ares yang kini bertingkah aneh.
***
Samuel benar benar kewalahan dengan Ares yang kini minum alkohol tanpa henti. Meneguk dan terus meminta. Samuel menemaninya di ruang VVIP dimana Ares mendapatkan pelayanan untuk dirinya sendiri. Tidak tahan dengan Ares, Samuel menghentikannya dan mengatakan, "Lu jangan kayak gini. Inget lambung sama tubuh lu. Nanti rusak, gimana bisa nikah sama Cantika?"
"Bukan buat Cantika. Gue di sini mau menumpahkan kekecewaan buat Oma yang gue pikir sayang sama gue. Hiks… selama ini kita apa, Oma? Hubungan kita apa?"
Samuel memutarkan bola matanya malas melihat Ares yang mulai mengacau. "Selama ini gue dianggap apa sama oma, Hah? Kunyuuk?"
Samuel hampir saja tertawa. Ini bukanlah hal yang biasa, jadi dia memilih merekam Ares yang mulai meracau. Bahkan pria itu sekarang melangkah menuju kaca dan melihat ke bawah. Senyumannya mengembang ketika melihat lantai dansa dimana orang orang sedang berjoget di sana. "Gue mau ke bawah ah. Dadah samuel."
Tepaksa pria itu mengikuti karena Ares bisa saja tejatuh saat menuruni tangga. Ares masuk ke lantai dansa dengan membawa sebotol Alkohol. Dia mulai menggila di sana, dimana Samuel hanya memperhatikan dan memastikan kalau Ares tidak membunuh dirinya sendiri.
Dua jam kemudian, Ares terlihat lelah. Ini saatnya Samuel membopong Ares keluar dari klab dan membawanya ke dalam mobil. "Harusnya lu itu jangan kayak gini. Nyusahin gue soalnya." Mendumal ketika harus menyupir.
Ares terkekeh. "Dua Millar gak mau nih? Yakin?" Bertanya dengan nada menggoda.
"Ya mau sih." Samuel menaikan bahunya.
Tidak apa apa jika dirinya membopong Ares menuju ke apartemennya dengan susah payah, asalkan nanti dia mendapatkan imbalan dari pria itu. Dan sepanjang langkahnya, Ares terus tertawa membuat Samuel menahan diri untuk tidak mendepak wajah pria itu.
Untungnya Samuel tau kode apartemen Ares hingga mudah untuknua masuk.
"SUPRISE!"
"WAH!" Malah Samuel yang kaget ketika membuka pintu, dia melihat seluruh keluarga Fernandez ada di sana termasuk Athena. Sementara Ares sendiri menunduk mabok.
"Loh, Ares mabuk?" Tanya Lily.
Mendengar suara tidak asing, Ares mengangkat kepalanya dan melihat bayangan keluarganya. Dia terkekeh sendiri dan menegakan tubuh kemudian berjalan ke arah dapur membuat semua orang terheran di sana.
Apalagi saat Ares mengambil pisau. "Thea, aku kesal padamu karena kau tidak memahami kembaranmu. Jika aku tidak bisa mencekikmu di dunia nyata, aku akan melakukan apapun di mimpiku sekarang."
PRANG! BRUK!
__ADS_1
Dari arah belakang, Oma lebih dulu memuluk kepala Ares dengan alat pemadam api kecil. "Orang mabuk memang berbahaya, makannya tadi Oma bersembunyi dulu."