STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Menuju Evaluasi


__ADS_3

Cantika merasa senang bisa berada diantara keluarga Fernandez. Terutama Mommy Lily yang kini sedang bicara berdua dengannya. Dimana wanita itu mengatakan berapa menyesalnya dia tidak bisa datang ketika Cantika sedang terpuruk karena kehilangan sang Mama. 


"Tidak apa, Mom. Cantika paham, Ares sudah mengatakan semuanya kalau kalian di sini juga memiliki banyak masalah. Jadi tidak apa."


Kini mereka hanya berdua karena  Lily mengajak Cantika untuk memberikan buku yang Lily yakini akan mengobati hati Cantika yang sakit meskipun tidak seluruhnya. Lily tersenyum "duduk dulu. Mommy akan bawakan buku yang Mommy maksud," Ucapnya seperti itu. 


Cantika duduk di perpusatakaan yang luas itu. Ini adalah syurga dunia. Cantika akan senang hati berada di sini, membuatnya betah berlama-lama dan yakin jika memiliki tempat seluas ini, Cantika akan banyak menghabiskan waktu disini. 


"Ini dia, Mommy dengar kalau Cantika sangat suka bermain piano bukan? Ini karya salah satu pianis terkenal. Bukunya langka." Lily yang menemukan buku itu segera memberikannya pada Cantika. Ikut duduk di samping sosok itu. 


"Ya ampun, Mom. Apa benar aku boleh memilikinya? Ini buku yang langka."


"Tentu saja itu untuk Cantika. Mommy tau kalau hal ini tidak sebanding dengan rasa sakit Cantika di masa lalu. Tapi setidaknya ini kembali menumbuhkan semangat Cantika untuk mengejar cita cita ya." Tangan Lily terulur kemudian mengelus rambut Cantika. "Buktikan pada Mamamu kalau kau itu bisa."


Manik Cantika berkaca kaca. Sudah lama sekali tidak ada orang yang memberikannya semangat terhadap cita citanya yang putus di tengah jalan. Sampai Lily menarik Cantika ke dalam dekapannya, akhirnya air mata sosok tersebut jatuh juga. Terisak mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya. "Mommy…," Panggilnya dengan suara yang terdengar menyakitkan. 

__ADS_1


Lily mengusap punggung itu. Dia memahami bagaimana rasanya tidak memiliki orangtua. "Tidak apa apa. Kau wanita yang hebat. Cantik wanita yang kuat, karena itu Tuhan memberikan ujian ini."


Merasakan kehangatan, ketenangan dalam dekapan itu. Sampai rasa haru terhentikan akibat seseorang yang menyedot ingusnya lagi dari hidung. Membuat keduanya melepaskan pelukan dan mencari ke sumber suara. 


Sampai mendapati David yang sedang menyilangkan tangannya di dada sambil bersandar di rak buku. "Maaf mengganggu kalian. Aku ikut terharu," Gumamnya seperti itu. "Aku datang ke sini untuk menyampaikan pesan dari Oma kalau makan malam sudah siap. Ayo sayang." Matanya menatap Lily. 


"Pergilah duluan, aku akan menyusul bersama dengan Cantika."


David terkekeh, dia malah datang mendekat pada sang istri. "Cium aku dulu, lalu aku akan pergi."


Yang akhirnya membuat Lily terpaksa melakukannya kemudian menarik napasnya dalam saat David melangkah pergi. 


"Mommy selalu romantis saja dengan suami."


Lily terkekeh. "Ares juga akan seperti itu. Tapi nanti ke depannya kau harus pengertian karena terkadang mereka terlalu aneh."

__ADS_1


Cantika tidak menjawab, karena sejauh ini dia tidak mau menjalin hubungan dengan Ares lagi. 


"Ayo bergabung ke sana dan makan malam."


Tangan Cantika digenggam oleh Lily saat melangkah keluar dari perpustakaan. Di ruang makan, melihat Ares yang sudah duduk diantara Luke dan Sebastian dengan wajah yang tegang. 


"Cantika akan menginap kan?" Tanya David yang dibalas anggukan oleh Cantika. Bisa bisa dia mati di tangan Athena jika tidak menginap. 


"Kalau begitu, apa tidak masalah kalau Ares diajak keluar oleh kami?" Tanya Sebastian merangkul bahu keponakannya ini. "Kami memerlukan dirinya malam ini. Untuk evaluasi," Lanjutnya sambil menaik turunkan alis. 


"Tentu saja." Cantika menjawab. Memang apa urusan dengannya dan harus izin padanya. Harusnya yang dimintai izin itu Lily kan? 


Namun, ketika mata Cantika bertabrakan dengan manik Ares, dia melihat bagaimana pria itu menggeleng pelan seolah mengatakan, "Jangan biarkan aku pergi dengan orang orang ini."


***

__ADS_1


__ADS_2