STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Pengantin Baru


__ADS_3

Cantika dengan telaten membersihkan hidung Ares yang berdarah, dia jadi khawatir dan berfikiran tentang kanker yang dulu dia sebut salah diagnosis. Bagaimana kalau itu jadi kenyataan? Cantika jadi takut bukan main, dia tidak mau jadi janda.


“Ares? Tidak apa apa?”


“Tidak apa apa,” ucap Ares menahan napas beberapa kali ketika dia melihat belahan dada Cantika yang berhasil membuat Ares terangsang. Sungguh, melihat Cantika dalam tampilan seperti ini secara langsung berhasil membuat tubuh Ares panas dingin karenanya. Apa yang harus dia lakukan?


“Darahnya sudah berhenti. Sepertinya kau kelelahan karena pesta dan persiapan sebelumnya. Sekarang tidur saja ya? istirahat saja ya?”


Ares menggelengkan kepala, dia menaha bahu Cantika dan mengatakan, “Bukannya kita akan melakukan malam pertama kita?”


Diingatkan lagi seperti itu berhasil membuat pipi Cantika memerah. “Tapi kau sedang tidak baik baik saja.”


“Aku baik baik saja,” ucap Ares dengan tangan yang terulur membelai pipi Cantika. Kini gemuruh hasrat memenuhinya, tidak ada lagi rasa gugup. Yang ada, Ares ingin menerkamnya. “Bajunya biar aku yang buka saja ya.”


“Ares, aku malu.”


“Malu kenapa? kita pernah melakukannya.”


“Tapi dulu keadaan kita tidak sadar.”


“Makannya supaya menjadi kebiasaan. Sekarang harus dalam keadaan sadar.” Ares menarik pakaian Catika hingga bagian atas perempuan itu benar benar polos. Dimana Ares langsung membaringkan sang istri dan meraup bibirnya. Melllumat dalam dan memasukan lidah, bergulat hingga air liur keluar dan membuat Cantika bergerak tidak nyaman saat tangan Ares turun menyentuh bagian daadanya. Terlebih lagi, ciuman Ares juga turun ke lehernya dan menyentuh puncaknya. Cantika menahan napasnya berat, dia memejamkan mata dengan kuat dan merintih di bawah kukungan Ares.


Bahkan perempuan itu tidak sadar ketika Ares melepaskan roknya dan hanya meninggalkan celllana dalam saja. cantika benar benar malu, dirinya hampir tellanjang sedangkan Ares masih berpakaian lengkap dengan jasnya.


“Ares,” ucapnya merengek karena Ares hendak melepaskan benda terakhir di tubuhnya. “Aku malu.”


“Sayang, celananya lucu sekali bukan? Aku khawatir nanti robek, jadi aku lepaskan pelan aja ya?” merayu speerti itu, dia juga menyingkirkan tangan Cantika yang awalnya menghalangi hingga Cantika benar benar polos. Kedua kakinya dibuka hingga Ares berada diantaranya, dia menyondongkan tubuh dan kembali melummat bibir sang istri.


Sampai Cantika sadar, kalau Ares belum mandi. “Ares, kau…. Hnggh… belum mandi.”


Ares terdiam seketika, ya dirinya memang belum mandi. “Apa kau terganggu?”


Keduanya dalam posisi intimm tapi malah membicarakan hal lain. Cantika memalu, sebenarnya dia tidak terganggu. Dia suka aroma tubuh Ares, hanya saja dia khawatir akan kesehatan Ares yang mungkin terganggu karena tadi sudah bertemu banyak orang.


“Aku akan mandi setelah satu ronde ya, Sayang. aku tidak tahan.”


“Hmmmpphh!”


Cantika kaget ketika Ares tiba tiba mengeluarkan kejjanntanannya dan memasukannya pada milik Cantika yang sudah basah, bersamaan dengan itu bibir Cantika dibungkam oleh Ares ketika pria itu mulai bergerak


Demi Tuhan, rasanya begitu nikmat untuk Cantika dan juga Ares. Ternyata melakukannya dalam keadaan sadar lebih menyenangkan, dimana Cantika terus mendesah merasakan sesak karena milik Ares yang begitu besar dan hampir merobeknya. Tusukannya juga dalam membuat jemari kaki Cantika menekuk karenanya. “Ares! Akkhhh!” bahkan ketika Cantika merasakan puncaknya, Ares malah menambah kecepatan yang mana membuat perempuan itu kewalahan. “Ahhhh! Ares, sensitiveee!” teriaknya yang langsung dibungkam oleh ciuman.


Miliknya masih sensitive akibat puncak, masih berkedut, tapi Ares sudah menusuk begitu dalam sampai kaki Cantika bergetar. Ketika Ares akan mendapatkan puncaknya, tusukan semakin dalam. Sampai akhirnya Cantika merasakan satu tusukan yang begitu dalam dengan lahar panas yang masuk ke dalam tubuhnya. Keduanya sama sama terengah.


Ares sendiri berciinta dengan masih memakai jas, hanya miliknya saja yang keluar. “Terima kasih, Sayang. aku mandi dulu ya, kalau lelah tidur saja. kita lanjut saja lagi besok,” ucap Ares mengecup pelipis sang istri.


Namun tanpa diduga, Cantika malah menahan tangan Ares dan berkata, “Tidak… udah mandi. Ayo lanjutkan saja lagi.” Dengan malu malu. Cantika tidak rela jika benda gemuk itu keluar dari miliknya. Rasanya hangat dan menyenangkan.


***


Mereka melakukannya sepanjang malam, dengan berbagai gaya yang Ares ketahui. Selama Catika belum mengatakan lelah, Ares terus menusuk sang istri dengan senang hati. Bahkan ketika memberikan minum pada Cantika, Ares mentransfernya lewat mulutnya sendiri. dimana Cantika dengan kesusahan menerimanya dengan tubuh yang lengket dan basah karena keringat.


Sampai akhirnya Ares melakukan lebih dari lima ronde, Cantika sendiri tidak berani mengatakan berhenti jadi dia kewalahan sendiri dan langsung tidur begitu Ares memeluknya. Kini, yang bangun lebih dulu adalah Ares. Melihat bagaimaana sang istri ada di dalam pelukannya. Dia terlihat lelah, dengan rambut yang lepek dan juga wajah yang pucat.


Ares segera mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang. Dimana saat panggilan diangkat, Samuel langsung bertanya, “Lu butuh ambulance buat bawa Cantika ke rumah sakit?”


“Sembarangan lu.” Ares berucap dengan bisikan, dia enggan membuat Cantika bangun. “Suruh orang buat dateng, yang bersih bersih sama rapihin ini tempat. Jangan lama, kasih juga kode apartemennya. Pastiin mereka bukan perampok juga.”


“Okey.”


Beginilah pekerjaan Samuel, mengurus hal hal pribadi Ares selama dia belum mendapatkan uang sejumlah yang dia inginkan. Sementara itu, Ares terus menciumi pipi sang istri sampai akhirnya membuat Cantika membuka mata. “Maaf mengganggumu, Sayang.”


“Hmm?” cantika masih setengah sadar. “Jam berapa ini?”

__ADS_1


“Sudah jam sepuluh.”


“Apa?” matanya melotot.


“Jangan khawatir, semuanya terkendali. Kau hanya perlu berdiam diri di sini dan menikmati aktivitas sebagai istriku.”


“Ares, aku belum membuat sarapan.”


“Aku kaya, aku bisa menyuruh orang.” Tangannya membelai pipi Cantika sebelum tangan itu turun mengelus punggung dan berakhir merremas panttat Cantika hingga berhasil membuat perempuan itu berdesis karenanya. Maaf ya membuatmu sakit.”


“Tidak apa.” Cantika juga menginginkanya, tapi semalam Ares memang luar biasa mengerikan karena tidak berhenti dan tidak kelelahan. Cantika ingin menghentikannya karena miliknya sudah terasa lecet, tapi juga dirinya merasa nikmat secara bersamaan.


“Bagaimana kalau kita mandi bersama?”


“Hmm, tentu.”


“Biar aku yang menggendongmu, kau pasti kesulitan,” ucap Ares langsung menggendong Cantika.


Perempuan itu memekik dan mengalihkan pandangan ketika menyadari kalau Ares juga sama polos sepertinya. “Oh ayolah, sayang, kita sudah melihat satu sama lain. Tidak usah malu seperti itu."


Tapi tetap saja mengerikan melihat benda itu bergelantungan dengan ukuran yang besar dan juga… Cantika tidak mau mendeskripsikannya. Ini terlalu mengerikan untuk dia jelaskan.


Ares menyalakan air hangat di bathub dan membawa Cantika duduk di depannya. Dimana Ares sendiri bisa memeluk Cantika dari belakang dengan leluasa. Dengan tangan yang merayap rayap juga. Sungguh Ares suka bagaimana sensasi memegang benda benda berharga Cantika.


***


“Jadi kau akan memberikan Galuh Yayasan itu?”


“Tentu saja, dia pantas dalam memimpin di bidang tersebut, dia peduli dengan anak anak dan juga cerdas. Galuh punya kesempatan emas,” ucap Ares menjelaskan. Memang harga Cantika tidak bisa dibaayarkan, tapi jujur saja kalau Ares juga mempercayakan itu pada Galuh karena pria itu memang berpotensi.


“Kalau ke depannya aku berteman dengan Galuh, apa tidak masalah?”


“Tentu saja tidak.” Ares cukup tau diri, dia ingat kalau yang ada di samping Cantika adalah Galuh, yang selalu menjaga Cantika adalah Galuh selama lima tahun terakhir ini.


“Keluargaku pergi ke Bali, mereka tidak mengajak keluargamu karena mereka tidak mau.”


“Hmm, keluargaku memang enggan berpergian,” jawab Cantika sambil menggenggam tangan Ares, menyenangkan rasanya berendam berdua seperti ini. “Apa nanti Thea juga akan kembali ke sini lagi?”


“Tentu saja itu kewajiban, meeka belum berpamitan pada kita, jadi mereka akan kembali lagi.”


Senang rasanya mendengar itu, Cantika juga ingin berpamitan dengan kedua mertuanya, Oma dan juga adik adik iparnya. Ah, rasanya masih tidak percaya kalau sekarang Cantika menjadi anggota keluara Fernandez.


“Bagaimana dengan kita?” tanya Ares menyadarkan, bibirnya tidak tinggal diam terus mengecupi punggung sang istri. “Kau mau kita bulan madu ke mana?”


“Hnm, memangnya kau tidak ada kerjaan? Aku khawatir keberangkatan kita malah menumpuk pekerjaanmu.” Karena di hari hari terakhirnya sebagai seorang sekretaris, Cantika melihat jadwal Ares padat di bulan ini.  “Lebih baik nanti saja. toh kita sudah bermain banyak di Amerika waktu itu. tujuan bulan madu juga melakukan hubungan suami istri kan?”


“Iya,” ucap Ares terkekeh. “Nanti kalau aku sudah tidak sibuk. Kita jalan jalan ya.”


Cantika mengangguk, dia mulai bergerak tidak nyaman ketika Ares terus menciumi leher dan tangan merambat ke bagian depan bawah. Menyentuh milik Cantika dan memainkannya di dalam air. Membuat perempuan itu mendesahh tertahan.


“Bagaimana dengan rumah? ingin tetap di sini atau kita pindah ke tempat yang lain?”


“Di sini saja. ini sangat dekat dengan kantor, aku bisa mengawasimu.”


“Tapi aku membayangkan sebuah rumah, Sayang, dimana nantinya akan menjadi tempatmu dan anak anak kita.”


Cantika terkekeh mendengarnya. “Kita bisa melakukannya nanti jika anak pertama sudah lahir. Sekarang di sini saja ya?”


Mengangguk, Ares tidak masalah sih dimana saja asal Cantika nyaman. “Sayang, mau kau duduk di atas pangkuanku?”


Cantika mulai merasa tidak karuan dengan benda yang sudah keras di bawahnya, apalagi ketika Ares tiba tiba mengangkat tubuhnya dan mendudukannya hingga milik Ares tertanam di milik Cantika. Posisinya masih sama, dimana Cantika membelakangi Ares.


“Ares….,” ucap Cantika merengek.

__ADS_1


“Hanya sekali ya, aku tidak tahan.”


Karena ini sangat nikmat, pengalaman pertama Ares juga dengan wanita yang dirinya cintai. Jadi dia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk terus membuat Cantika kewalahan. Suara sang istri menjadi candu untuknya, menyenangkan sekali mendengarnya.


***


Karena ini hari pertama mereka menjadi pasangan suami istri, mereka memutuskan untuk tidak pergi kemana mana. Untungnya, kelelahan Cantika terbayarkan dengan kondisi apartemen yang sudah bersih dan tersedia makanan siap makan di sana. karena Ares juga, Cantika perlu digendong. Sedikit kesususahan akibat aktivitas keduanya. “Mungkin kita perlu menyewa pembantu,” ucap Ares melihat keadaan yang sudah bersih. “Bagaimana menurutmu?”


“Aku tidak nyaman jika ada orang lain, Ares. Lebih baik kita berdua saja. aku tidak akan punya kegiatan jika nantinya ada pembantu.”


“Aku hanya khawatir kau kelelahan sayang.”


“Aku tidak akan kelelahan kalau kau tau waktu, tau diri,” ucap Cantika menyindir keadaannya sekarang yang diakibatkan oleh Ares.


Pria itu hanya terkekeh tanpa dosa, dia mengambilkan makanan untuk sang istri dan makan di sampingnya dengan menyuapi Cantika. Membuat Ares tidak bisa berhenti tersenyum. “Rasanya masih tidak percaya.”


“Apanya?”


“Kau menikah denganku.”


“Semustahil itu?”


Ares mengangguk. “Lima tahun aku menghilang dan membuat tanda tanya, kau pasti mengalami banyak kesulitan tanpaku kan?”


Demi menghilangkan perasaan tidak enak pada sang suami, Cantika mengecup pipi Ares dan mengatakan, “Berhenti mengingat ingat masa lalu. Lagipula, pada akhirnya aku bersamamu, memilihmu. Maka dari itu, jangan kecewakan aku ya.”


“Tidak akan pernah.” Janjinya seperti itu dan terus menyuapi Cantika.


Bahkan karena Ares enggan membuat sang istri lelah, dirinya yang mencuci piring. Melihat Ares yang melakukan itu, Cantika tersenyum sendiri sampai dia mendapatkan telpon dari sang Papa. “Hallo, Papa?”


“Hallo? Nak, kau tidak akan ke sini kan?”


“Um, mungkin besok untuk mengambil pakaian, Pah. Kenapa memangnya? Apa ada hal penting?”


“Tidak, Papa dan Nenek akan keluar kota menemui kerabat lama Nenek yang baru ditemukan. Tapi papa akan berangkat sekarang, tidak apa ya jika tidak bertemu dulu?”


“Tidak apa, kan nanti Papa pulang lagi kan?” tanya Cantika.


Papanya menjelaskan akan pulang minggu depan. Setelah selesai menelpon, Cantika memberitahukan hal ini pada Ares, yang mana berhasil membuat Ares tertawa juga. “Ya, baguslah. Kita bisa berduaan dengan leluasa di sini tanpa adanya godaan godaan dari mereka.”


Selesai cuci piring, Ares mendekati Cantika yang kini merentangkan tangannya. Ares langsung menggendongnya. “Sekarang mau apa?”


“Bagaimana kalau menonton film saja?”


“Tentu, apapun yang kau inginkan.”


Hujan mendukung bagaimana mereka saling menghangatkan di bawah selimut, di atas karpet bulu sambil menonton TV di ruangan keluarga. Apalagi dengan tirai yang dibuka, memperlihatkan bagaimana hujan di luar sana.


Sampai akhirnya terdengar suara pintu apartemen diketuk, Cantika mengerutkan keningnya. “Siapa itu?”


“Aku pikir Samuel, dia pasti membawakan pekerjaan yang harus aku kerjakan di rumah selama satu minggu ini. sebentar ya, Sayang,” ucap Ares mengecup kening Cantika sebelum beranjak untuk membuka pintu.


Antara ruang keluarga dan ruang tamu memang terhalang partisi, tapi tetap saja dari arah Samuel dia bisa melihat apa yang sebelumnya dilakukan oleh dua orang pengantin baru itu. “Nih, semua kerjaan lu. Gue gak bisa ikut andil soalnya ini semua berakhir dengan keputusan.”


“Oke,” ucap Ares menerimanya. “Lu mau kemana sekarang?”


“Pulang lah. Apa lagi emangnya? Nonton pengantin baru?”


Ares terawa meledek. “Pasti lu mau pulang, nyeduh indomie ayam bawang terus liatin hujan. Itu habbit jomblo ngenes kan?”


Samuel tersenyum, berusaha tidak menimpuk wajah Ares.


“Oh iya, gue mau pamer,” ucapnya memperlihatkan leher dengan cara menarik lingkar leher kaosnya. “Merah merah nih. Lu punya gak, Bro?”

__ADS_1


__ADS_2