STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Malam yang menyenangkan


__ADS_3

Ares tidak bisa langsung keluar dari kamar mandi, dia harus menelpon Sebastian dulu supaya sosok itu menutup mulutnya dari menyebarkan gossip tentangnya dan juga Cantika. Ares tidak mau mengambil resiko. Biarkan saja uangnya yang bekerja daripada kehancuran menghampirinya. Sudah Ares bayangkan bagaimana reaksi keluarganya kalau tau dirinya meniduri Cantika. Dan poin yang paling pentingnya adalah Cantika sendiri yang mengharapkan hal ini tetap dirahasiakan.


“Hallo, Uncle?”


“Ares, kau berani membayarku berapa?” tanya Sebastian begitu mengangkat panggilan.


“Uncle, Ares mohon jangan lakukan itu. hanya itu satu satunya cara Ares bisa kembali dengan Cantika. Tolong, kami akan menikah nantinya, tapi Cantika ingin hal ini dirahasiakan dulu. bisakan Uncle mengerti?”


“Okay, kalau begitu katakan kalau Joy Cantik.”


“Apa? Kenapa harus pada Joy?” tanya Ares bingung.


“Apa kau lupa? Kau selalu meledek anak gadisku yang begitu cantik. Jadi, katakan kalau dia cantik dengan hiperbola dan suaramu akan dijadikan alarm atau nada dering.”


Sebastian dengan semua keanehannya, Ares harus maklum karena memang mereka berbeda generasi. Bahkan untuk membuat Sebastian tutup mulut, Ares akhirnya mau memuji anak gendut itu dengan kalimat, “Joy gadis cantik, dibuat dadakan, harganya millyaran. Cantik.”


“Kenapa nadanya terdengar seperti tukang tahu bulat?”


“Uncle. Aku ada kencan dengan Cantika. Uncle sudah puas kan? Bisa kan tutup telponnya sekarang? Aku mohon harus segera pergi dari sini. sudah puas kan? Berjanjilah kau tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun.”


“Baiklah baiklah. Aku sedang baik, aku akan menyimpan rahasiamu. Kejar terus dia, Ares. Kau harus mendapatkannya ya. butuh tips bagaimana cara menaklukan wanita sejenis Cantika?”


Sebastian yang tiba tiba berubah itu membuat Ares bertanya, “Kalian bertiga tidak menjadikanku bahan taruhan kan?”


“Oh Ares, Uncle harus pergi. Tenang saja, rahasia itu akan aman. Bye,” ucapnya kemudian mematikan telpon. Ares berdecak, semoga saja hal ini tidak tersebar sampai akhirnya Ares bisa membawa Cantika ke hadapan keluarganya sambil mengatakan, “Aku akan menikahi gadis cantik ini, karena dia sekarang sedang mengandung.”


Haduh, memikirkannya saja membuat Ares tersenyum sendiri. sudah dia yakini kalau miliknya begitu subur. Sekarang saja, Ares sedang mengelus miliknya. “Kerja bagus, kau mengeluarkan benih terbaik kan?”


Tok tok tok. “Ares? Apa kau baik baik saja?” tanya Cantika dari luar sana.


“Ya, aku baik baik saja, aku akan segera keluar. Sebentar.”


Ares bergegas untuk keluar dari kamar mandi, dia tidak ingin membuat Cantika menunggu. Namun sebelum membuka pintu, Ares terdiam sejenak dan membereskan penampilannya. Dia harus terlihat dingin, tampan dan juga charming supaya Cantika menempel padanya.


“Kau baik baik saja kan?” tanya Cantika begitu Ares keluar.


“Ya, maaf ya membuatmu menunggu. Ayok duduk dan kita menontonnya bersama.” Ares melangkah lebih dulu. menepuk sofa di sampingnya supaya Cantika duduk di sana. “Apa sudah mulai?”


“Belum, aku menunggumu. Akan menyeramkan karena ini film zombie.”


Baru juga Cantika hendak duduk, terdengar suara ketukan pintu disusul dengan kalimat, “Layanan kamar.”


“Biar aku saja,” ucap Ares tidak ingin membuat Cantika kelelahan. Dia buka pintu itu dan melihat seorang pelayan hotel membawa nampan berisi obat dan juga…. Beberapa makanan untuk orang sakit?


“Pesanan teh herbal dan obat herbal untuk sembelit, atas nama Tuan Ares.”

__ADS_1


“Aku tidak memesannya, sepertinya kau salah kamar.” Ares berkata dengan tajam, berani sekali pria ini mengatakan kalau dirinya sembelit.


“Tapi anda memesannya.”


“Aku tidak sembelit,” ucap Ares dengan penuh penekanan dan sedikit bisikan, khawatir Cantika mendengar apa yang mereka bicarakan.


Sampai akhirnya Cantika ikut mendekat. “Apa itu teh herbal untuk sembelit?”


“Iya, Nona.”


“Kau yang memesan?” tanya Ares. Begitu Cantika mengangguk, Ares langsung menerima nampan tersebut tanpa basa basi. “Kau boleh pergi,” ucapnya pada sang pelayan.


Pintu tertutup, mereka kembali duduk dan nampan itu disimpan di atas meja. “Minumlah, Ares. Aku memesannya untukmu. Apa masih sakit? Tadi kau lama sekali di kamar mandi.”


Antara bahagia dan sedih. Ares diperhatikan oleh Cantika, tapi haruskah dia meminum teh sembelit di saat dirinya baik baik saja?


“Ini akan menghentikan…. Um… ya supaya kau tidak mulas lagi.”


“Terima kasih.” Pilihannya jatuh pada menghargai apa yang dilakukan oleh Cantika.


***


Sebenarnya Cantika tidak terlalu ingin menonton, tapi dia ingin menciptakan moment bersama dengan Ares lagi. Apapun jalan yang mereka ambil, ujung ujungnya akan menikah memang. Tapi di sini, Cantika tidak ingin menyakiti Galuh sehingga jalan tengah diambil.


“Kau terlihat menahan pegal. Kemarilah bersandar padaku,” ucap Ares merentangkan salah satu tangannya.


Sofa ini memang bisa dijadikan tempat tidur, hingga kaki Ares maupun Cantika tidak menggantung. Langkah yang Ares ambil untuk membuat Cantika dalam posisi ini sebenarnya dengan peruntungan. Dan dia sedang beruntung karena Cantika tidak menolak. “Tidak masalah kan jika kita melakukan ini?”


Cantika mengangguk, dia suka Ares yang seperti sekarang, bertanggung jawab membuatnya merasa begitu terlindungi. Apalagi ketika jemari Cantika kini digenggam oleh Ares, tangan mereka bertaut. Dan pria itu dengan beraninya mencium jemari tersebut. “Entah aku menyebutnya bencana atau keberuntungan, aku sangat mencintaimu.”


Cantika mengadahkan kepalanya. “Sebegitu besar cintamu padaku?”


“Sampai aku melawan Daddy untuk kembali ke Indonesia, membeli perusahaanmu dan menjadikanmu sekretarisku. Itu adalah upaya supaya aku mendapatkanmu lagi.”


“Aku menyadarinya.”


“Bagaimana denganmu? Tidak ada seidkitpun perasaan yang tersisa?”


“Ares, bahkan saat ini aku merasa sedang berselingkuh dari Galuh. Kau tau dia selalu ada di sisiku setiap saat ketika kau pergi.” Kemudian Cantika menceritakan kebaikan kebaikan yang dilakukan oleh Galuh untuknya, pria itu selalu ada untuknya dan mereka juga berkomitmen akan mencoba hubungan layaknya orang berpacaran selama beberapa bulan. Dan dua bulan nanti, tepat saat hubungan percobaaan itu selesai, bersamaan dengan Galuh yang kemungkinan pulang juga.


Ares ingin marah kenapa Galuh mendapatkan perhatian Cantika begitu banyak, tapi dia juga sadar diri. “Apa harus sampai dua bulan?”


“Ya, kami berjanji untuk mencobanya selama dua bulan itu.”


“Apabila Galuh kembali lebih cepat, apa kau akan memutuskannya saat itu juga?”

__ADS_1


“Tidak demikian, aku akan tetap menunggu waktu jatuh tempo.”


Ares menggesek pipinya pada puncak kepala Cantika. Tadinya dia berencana untuk membuat Galuh cepat pulang. namun itu bukan hal yang bagus. Karena jika hal itu terjadi, maka Ares akan melihat secara langsung bagaimana Cantika dan Galuh menjalani hubungan layaknya orang berpacaran, sementara dirinya belum dianggap siapa siapa.


“Apa perasaanmu padaku benar benar sudah tidak ada?”


Cantika kembali mengadah menatap manik Ares yang begitu indah, pria ini tetap menawan. Cantika ingin mengakuinya, kalau dia juga masih mencintai Ares sejak pertama mereka bertemu lagi. Hanya saja dulu rasa cinta itu terhalang rasa benci. Kini rasa benci sudah tidak ada, tapi cintanya masih terhalang oleh rasa gengsi. Mereka tidak lama bersama kembali, masa Cantika sudah mengakuinya secara terang terangan.


“Butuh waktu untuk memupuk lagi perasaan itu.”


“Tidak apa, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi. Jadi, bisakah kau tidak menolakku ketika aku melakukan hal hal seperti ini?” CUP. Dikecupnya kening Cantika cukup lama.


“Aku merasa sedang berselingkuh dari Galuh, tapi dia adalah calon suamiku kan? Dan aku juga menyukainya. Tapi… kenapa pusing?” Cantika membatin. “Asal jangan berlebihan.”


“Tentu, aku akan tau batasan,” ucap Ares kini memeluk Cantika dengan kedua tangannya.


Membuat perempuan itu memutar bola matanya, baru juga dia mengatakan untuk memiliki batasan. Karena bisa bisa, Cantika terpancing juga.


***


Film di televise terus berganti, dan Ares heran mengapa Cantika masih membuka matanya sambil memakan beberapa camilan yang dia pesan. Demi Tuhan, ini sudah lewat tengah malam dan hampir dini hari dan perempuan itu tidak terlihat mengantuk. Posisi mereka kini lebih nyaman dengan tidur terlentang, dan dada Ares masih menjadi tumpuan untuk Cantika sebagai bantalan. Tidak lupa camilan ringan berada di antara mereka karena Cantika malas duduk. Ares juga tidak terlihat keberatan, jadi membiarkannya saja di sana.


“Ini sudah hampir dini hari. Lekas tidur, kau bisa sakit jika bergadang seperti ini.”


“Nanti dulu, kalau kau mengantuk, tidur saja duluan,” ucap Cantika masih tetap menatap televise di depannya.


Sebenarnya, Ares merasa gengsi apabila dia tidur lebih dulu. terlihat tidak jantan sekali karena meninggalkan Cantika yang mengajaknya menonton. Namun sungguh, sejak tadi Ares bahkan tidak paham dengan jalan cerita ini. dia juga lelah seharian sudah bertemu beberapa orang yang menguras energy.


“Aku mengantuk, Cantika.”


“Hmmm? Mau pindah ke atas kasur?”


“Tidak di sini saja denganmu.” Menahan bahu Cantika supaya perempuan itu tidak beranjak dari pelukannya. “Tidur di sini saja.”


“Apa tidak apa apa dengan posisiku yang menindih seperti ini? sebaiknya aku bangun saja.”


“Jangan, tidak apa apa. Tetap begini.” Cengramannya pada bahu Cantika semakin kuat, Ares malah menyesal mengatakan mengantuk karena sekarang perempuan itu akan beranjak dari pelukannya. “Tetap diam dan tonton filmnya sampai habis, kau kan malas untuk duduk.”


Setelah mengatakan kalimat itu, Ares menguap lebar dan mulai memejamkan matanya. Akhirnya, pria itu tumbang dan masuk ke alam mimpi.


Sementara Cantika hanya menatapnya cukup lama, menghela napas dalam ketika deru nafas Ares mulai teratur. Sebenarnya bukan karena Cantika tidak mengantuk, tapi setiap kali dia memejamkan mata, selalu teringat adegan malam sebelumnya dimana dia mengendarai Ares dan berkeringat bersama dengan pria itu.


Berkali kali pikirannya berkata, “Berhenti berfikiran jorok seperti itu, Cantika. Kau bukan type wanita yang seperti itu.” memohon pada dirinya sendiri.


Seperti sekarang, ketika Cantika sudah mengantuk dan mulai memejamkan matanya. Tiba tiba adegan ketika Ares menahan kedua tangannya di atas kepala, dengan bibir pria itu yang mengulum puttingnya disertai hentakan di bawah sana yang berhasil membuat Cantika terjaga. Tubuhnya kembali panas lagi.

__ADS_1


“Menyebalkan,” gumam Cantika memilih untuk bangkit dari pelukan Ares dan perlahan berbaring di bagian yang kosong. Mungkin dengan seperti ini dirinya akan bisa tidur, karena aroma tubuh Ares lah yang membuat Cantika terus berfantasi.


***


__ADS_2